Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Cuma Pemandangan, Kelapa Maratua Bakal Disulap Jadi VCO hingga Aksesoris Mewah

Beraupost • Sabtu, 7 Maret 2026 | 09:30 WIB

 

TERKENDALA: Terdapat sejumlah kendala dalam upaya peremajaan kalapa di Maratua. (IZZA/BP)
TERKENDALA: Terdapat sejumlah kendala dalam upaya peremajaan kalapa di Maratua. (IZZA/BP)

BERAU POST – Potensi pengembangan kelapa dalam di Kecamatan Maratua dinilai cukup besar.

Namun, hingga kini pengembangannya masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari kondisi tanaman yang sudah tua, hingga persoalan kelembagaan petani dan keterbatasan lahan.

Camat Maratua, Ariyanto, menjelaskan, kelapa dalam sebenarnya sangat cocok dikembangkan di wilayah kepulauan tersebut.

Kondisi alam dan wilayah pesisir dinilai mendukung pertumbuhan tanaman kelapa. Namun, sebagian besar pohon kelapa yang ada saat ini sudah tidak produktif lagi.

Peremajaan tanaman menjadi salah satu hal penting yang perlu dilakukan agar produksi kelapa dapat kembali meningkat.

Namun, upaya tersebut tidak mudah dilakukan, karena adanya persyaratan administrasi untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Adapun salah satu syarat untuk memperoleh bantuan dari organisasi perangkat daerah (OPD) adalah pembentukan kelompok tani.

Sementara di Maratua, sebagian besar lahan kelapa merupakan milik perorangan, sehingga sulit untuk membentuk kelompok tani dengan lahan bersama.

“Maratua memang harus membentuk kelompok tani dulu. Tapi kita tidak bisa membentuk karena lahannya perorangan. Sementara salah satu persyaratan dari OPD untuk mendapatkan bantuan adalah harus ada kelompok tani,” katanya.

Selain itu, kelompok tani juga biasanya harus memiliki lahan yang dikelola bersama. Kondisi tersebut berbeda dengan di Maratua yang lahannya terbatas dan dimiliki secara pribadi oleh masyarakat.

Bebernya, pihak kecamatan sebenarnya sudah berupaya mengusulkan bantuan bibit kelapa dalam kepada pemerintah.

Bahkan dirinya sempat mendatangi Dinas Perkebunan Provinsi untuk mengajukan permohonan pengadaan bibit.

Bantuan bibit kelapa tersebut sempat diberikan oleh Disbun Berau. Saat itu, sebanyak 10 ribu bibit kelapa dibagikan kepada empat kampung di Maratua, dengan masing-masing kampung menerima sekitar 2.500 bibit.

Sayangnya, program tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Sebagian bibit yang ditanam terserang hama ulat artona, sementara sebagian lainnya rusak akibat gangguan monyet. Akhirnya hampir semuanya gagal.

Selain itu, pohon kelapa yang ada saat ini juga sebagian besar sudah terlalu tinggi dan tidak produktif, sehingga masyarakat kesulitan untuk memanen buahnya.

Padahal, kelapa memiliki potensi produk turunan yang cukup banyak, seperti limbah batok kelapa maupun produksi virgin coconut oil (VCO).

Namun, keterbatasan bahan baku menjadi kendala utama untuk mengembangkan produk tersebut.

Ia berharap pengembangan kelapa genjah dapat menjadi salah satu solusi, terutama di kawasan pesisir pantai. Jenis kelapa ini dinilai lebih cepat berbuah dan lebih mudah dipanen.

“Kalau bisa di sekitar pantai ditanam kelapa genjah yang cepat berbuah, mungkin sekitar dua sampai tiga tahun sudah bisa dikonsumsi,” katanya.

Selain dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, keberadaan kelapa di kawasan pantai juga dinilai berpotensi menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang ke Maratua.

Ia juga berharap pengelolaan tanaman kelapa ke depan dapat melibatkan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) sehingga memberikan nilai ekonomi bagi kampung.

“Buahnya bisa dinikmati wisatawan. Selain itu juga bisa membantu mengurangi abrasi. Nantinya bisa dikelola oleh BUMK dan menjadi pendapatan kampung,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, memfokuskan perhatian pada penyusunan roadmap hilirisasi kelapa dalam dan cokelat sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat.

Khususnya dalam upaya memaksimalkan potensi kelapa dalam yang selama ini tumbuh melimpah di sejumlah wilayah pesisir dan kepulauan, termasuk Kecamatan Maratua.

"Program ini bertujuan memanfaatkan kelapa dalam sebagai bahan baku utama guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat,” jelasnya.

Sehingga potensi yang ada tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi bisa diolah menjadi produk bernilai tambah.

Menurutnya, pemanfaatan kelapa dalam sebagai bahan baku lokal diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat Maratua terhadap bahan-bahan yang selama ini harus didatangkan dari luar pulau.

Kondisi geografis sebagai wilayah kepulauan kerap membuat biaya distribusi menjadi lebih tinggi, yang pada akhirnya berdampak pada mahalnya ongkos produksi.

Produk yang dihasilkan dapat berupa aksesoris, wadah, hingga peralatan rumah tangga yang memiliki nilai ekonomis dan peluang pasar tersendiri.

Kedua, pelatihan produksi kuliner yakni nata de coco yang merupakan produk olahan pangan dengan permintaan pasar cukup tinggi.

Menurutnya, kedua jenis pelatihan tersebut sama-sama memiliki potensi untuk dikembangkan di Maratua, mengingat ketersediaan bahan baku yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal.

“Yang jelas, keduanya bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan kelapa dalam yang tersedia cukup banyak di Pulau Maratua,” terangnya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#Pulau maratua #Kelapa Dalam #virgin coconut oil (VCO) #produk