BERAU POST – Potensi pasar kakao baik dalam maupun luar negeri diklaim sangat besar.
Sayangnya, hingga kini produksi kakao Berau masih belum sepenuhnya mampu memenuhi permintaan yang terus berdatangan, terutama untuk pasar ekspor yang membutuhkan pasokan rutin dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Berau, Lita Handini, mengungkapkan, secara kapasitas produksi, Berau sebenarnya memiliki peluang memenuhi permintaan tertentu termasuk tambahan kebutuhan ekspor sekitar 50 ton untuk negara tujuan Prancis.
Ia menjelaskan, rata-rata produksi kakao Berau dalam kondisi normal berkisar 600 hingga 700 ton per tahun.
Namun fluktuasi produksi sangat dipengaruhi faktor alam, terutama banjir dan kekeringan berkepanjangan yang sulit diprediksi.
“Hanya saja kendala kita alam seperti banjir berkali-kali. Karena kakao kalau terendam 2-3 hari bisa gagal panen,” katanya Rabu (4/3).
Lita mencontohkan kondisi pada 2024 lalu, di mana banyak kebun kakao mengalami gagal panen akibat banjir.
Menurutnya, jika tidak terjadi bencana hidrometeorologi, potensi panen bisa kembali stabil di angka rata-rata tahunan.
Di sisi lain, permintaan terhadap biji kakao Berau terus meningkat. Tidak hanya dari pasar dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri yang menginginkan pasokan berkelanjutan.
“Biji kakao dari petani itu kan rebutan juga, baik dalam dan luar negeri,” ungkapnya.
Untuk persoalan hama, menurut Lita masih relatif terkendali. Pendampingan kepada petani terus dilakukan, termasuk dalam praktik budidaya dan pemupukan meskipun tidak selalu sesuai rekomendasi maksimal.
Lebih jauh, ia menyebutkan bahwa permintaan dari pasar internasional sangat besar. Selain Amerika Serikat dan Prancis, disebutnya salah satu pembeli dari Italia pernah mengajukan permintaan hingga 200 ton dengan skema pengiriman rutin setiap dua hingga tiga bulan.
Bahkan secara keseluruhan, permintaan bisa menembus lebih dari 1.000 ton per tahun. Sejumlah pembeli menawarkan kontrak jangka panjang yang menjanjikan kepastian pasar.
Selain itu, pasar domestik juga telah terbagi, termasuk melalui PT KASS, pengepul dari Samarinda, hingga kebutuhan yang melalui pembinaan dari Berau Coal.
“Produksi tahunan kita itu ada pasarnya sendiri,” jelasnya.
Meski peluang pasar terbuka lebar, saat ini masih belum sepenuhnya percaya diri menerima semua permintaan tersebut.
Upaya peningkatan produksi pun menjadi prioritas, termasuk mendorong perluasan lahan perkebunan kakao.
“Sehingga kita terus mendorong perluasan perkebunan kakao, lahan sih ada saja sebenarnya,” tukasnya.
Menurut Lita, tantangan berikutnya adalah mendorong minat petani untuk membuka dan mengembangkan kebun kakao baru.
Dengan peningkatan produksi yang konsisten, Berau diharapkan mampu menjawab besarnya potensi pasar kakao global yang terus berkembang.
Sebelumnya, setelah menembus pasar Amerika Serikat, kini kakao Berau mulai memasuki Negara Prancis.
Sebanyak 10 ton biji kakao fermentasi premium dari Berau diberangkatkan dalam seremoni pelepasan di halaman Kantor Bupati Berau, Selasa (3/3).
Bupati Berau, Sri Juniarsih, menegaskan capaian tersebut sebagai bukti nyata daya saing komoditas lokal di tingkat global. Bupati bersyukur atas keberhasilan para petani dan pelaku usaha yang mampu menjaga kualitas produksi hingga diakui pasar internasional.
“Kita bersyukur sumber daya perkebunan Berau mampu menembus pasar internasional dan ini memotivasi petani meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan ini bukan sekadar seremoni ekspor, melainkan pengakuan atas kualitas kakao Berau yang memiliki karakter rasa khas.
Keseimbangan pahit dan asam segar menjadi daya tarik tersendiri bagi industri cokelat premium dunia.
Ia menambahkan, pencapaian ini membuka peluang ekspor yang lebih luas, baik dalam bentuk biji fermentasi maupun produk olahan bernilai tambah.
“Ini peluang besar memperluas pasar kakao Berau ke Eropa,” tegasnya.
Nama Berau sebelumnya telah mencuat di tingkat nasional setelah meraih predikat biji kakao terbaik pada ajang SIAL Interfood.
Di level internasional, kualitas tersebut dilirik produsen cokelat ternama asal Prancis, Valrhona, yang kini menjadi tujuan utama ekspor.
Bupati juga mengungkapkan langkah strategis promosi yang dilakukan pemerintah daerah melalui partisipasi pada Amsterdam Cocoa Week di Belanda. (sen/sam)
Editor : Nurismi