BERAU POST – Aktivitas jual beli di pusat perbelanjaan menjelang Hari Raya Idulfitri di pusat perbelanjaan dan pasar Ramadan diprediksi meningkat.
Di tengah euforia tersebut, masyarakat diingatkan meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran uang palsu (upal).
Kanit Tipiter Polres Berau, Iptu Yoga Fattur Rahman, menegaskan, momen menjelang Lebaran kerap dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab untuk mengedarkan upal.
Ia menyebut, di Berau sendiri sudah beberapa kali ditemukan kasus peredaran uang palsu, baik hasil cetak sendiri maupun yang diedarkan oleh pelaku tertentu.
“Karena itu, kami meminta masyarakat untuk lebih waspada,” imbaunya kemarin (1/2).
Menurutnya, hampir seluruh aktivitas transaksi berpotensi menjadi sasaran, terutama di tempat-tempat dengan perputaran uang tunai yang tinggi.
Modus yang pernah ditemukan di Berau antara lain pelaku berbelanja di toko atau warung menggunakan uang pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu. Dalam kondisi ramai, pedagang sering kali lengah memeriksa keaslian uang.
“Untuk menghindari hal tersebut, masyarakat perlu lebih jeli memeriksa uang yang diterima dari setiap transaksi. Biasanya menjelang lebaran aktivitas meningkat dan orang jadi kurang teliti,” ujarnya.
Dirinya juga menyoroti maraknya penukaran uang baru menjelang Idulfitri. Ia mengimbau masyarakat agar melakukan penukaran di tempat resmi seperti perbankan, demi keamanan dan kepastian keaslian uang.
“Jangan sembarang menukar uang di pinggir jalan. Kalau pun terpaksa, harus benar-benar teliti. Kami khawatir situasi ini dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab,” tegasnya.
Ia menambahkan, apabila masyarakat menemukan atau mencurigai adanya peredaran uang palsu untuk segera melapor kepada pihak kepolisian agar bisa segera ditindaklanjuti.
“Kalau ada yang menemukan, segera lapor ke kami agar bisa cepat kami telusuri asal-usulnya dan memburu pelakunya,” tutupnya.
Senada dengan itu, Anggota DPRD Berau, Sakirman, turut mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama Ramadan hingga Idulfitri.
Menurutnya, lonjakan transaksi ekonomi selama Ramadan membuat potensi peredaran uang palsu semakin besar.
“Kondisi ini tentu rawan dimanfaatkan untuk peredaran uang palsu. Karena itu, masyarakat harus lebih waspada,” ujarnya.
Ia menilai pedagang kecil dan pelaku UMKM menjadi kelompok paling rentan menjadi korban. Dalam situasi pasar yang ramai, transaksi berlangsung cepat sehingga ketelitian memeriksa uang kerap terabaikan.
Sakirman mengimbau masyarakat menerapkan metode sederhana yakni 3D Dilihat, Diraba, dan Diterawang, untuk memastikan keaslian uang.
Selain itu, ia mendorong pedagang, terutama yang bertransaksi dalam jumlah besar, untuk menggunakan alat pendeteksi uang palsu.
“Jangan sampai karena lengah kita justru merugi. Periksa setiap uang yang diterima, terutama pecahan besar. Kalau bisa, pedagang punya mesin pendeteksi uang palsu,” paparnya.
Sakirman berharap, dengan kewaspadaan bersama antara masyarakat dan aparat, suasana Ramadan dan Idulfitri di Bumi Batiwakkal dapat berlangsung aman dan nyaman.
“Momentum Ramadan dan Lebaran harus menjadi waktu penuh berkah, bukan justru dimanfaatkan untuk tindakan kriminal,” tutupnya. (aky/sam)
Editor : Nurismi