BERAU POST – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Berau, Dedy Okto Nooryanto, menilai Museum Gunung Tabur perlu dilakukan pembenahan secara menyeluruh.
Itu agar keberadaan Kesultanan Gunung Tabur semakin terasa dan memberi kenyamanan bagi pengunjung.
Menurut Dedy, Museum Gunung Tabur merupakan salah satu ikon wisata sejarah di Kabupaten Berau yang memiliki nilai penting bagi identitas daerah.
“Saya ingin penataan halaman Museum Gunung Tabur dimasukkan dalam APBD. Saya menganggap Gunung Tabur jadi ikon wisata sejarah," ungkapnya kemarin (20/2).
Halaman depan museum saat ini diakunya memang sudah tertata dengan baik, namun bagian pagar dan area di dalam kompleks museum masih perlu pembenahan agar tampil lebih representatif.
"Jadi bukan hanya pembenahan minor seperti perbaikan atap atau lantai saja," ujarnya.
Ia berharap, dengan penataan yang lebih menyeluruh, kawasan museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda sejarah, tetapi juga ruang yang nyaman untuk mengenal jejak Kesultanan Gunung Tabur.
Penataan yang baik menurutnya, akan memberi pengalaman berbeda bagi wisatawan sekaligus menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Sementara itu, Sekretaris DPUPR Berau, Bambang, menyampaikan, pada tahun 2026 pihaknya telah merencanakan kegiatan revitalisasi jalan dan bangunan pelengkap di kawasan Museum Gunung Tabur. Program tersebut memiliki nilai anggaran yang cukup besar.
“Itu nilainya lumayan besar, sekitar Rp 13,9 M. Mudah-mudahan bisa terakomodir. Kalau belum, nanti kita masukkan lagi usulan di tahun 2027,” jelasnya.
Pihaknya sangat mendukung terhadap kelanjutan pembangunan pedestrian di kawasan tersebut.
Ia menyebut jalur pedestrian itu sebagai jalur heritage yang mencerminkan identitas masyarakat Kabupaten Berau, sehingga keberadaannya dinilai penting untuk terus dikembangkan.
“Desain dan perencanaannya itu sudah bolak-balik kita revisi, kita bahas dan tinjau, baik dari dalam Kabupaten Berau sendiri sampai keluar. Diperkuat juga dengan studi banding melalui internet,” terangnya.
Menurutnya, proses penyusunan desain pedestrian tersebut telah melalui berbagai tahapan kajian dan revisi, agar hasilnya benar-benar sesuai dengan karakter kawasan heritage.
Konsep yang dirancang diharapkan tidak mudah ketinggalan zaman dan tetap relevan dalam jangka panjang.
“Salah satu yang sedang dikerjakan ini merupakan hasil karya arsitek yang sudah sangat dikenal, Bapak Ridwan Kamil," sebutnya.
"Saat itu beliau bersama tim turun langsung untuk mendata dan mengidentifikasi potensi yang bisa diangkat dalam pembangunan pedestrian di depan Museum Gunung Tabur,” jelasnya.
Diharapkan, kawasan Museum Gunung Tabur nantinya semakin tertata dan mampu memperkuat sebagai destinasi wisata sejarah di Berau. (aja/sam)
Editor : Nurismi