BERAU POST – Kondisi lingkungan di SMP Negeri 3 Gunung Tabur di Kampung Maluang menjadi sorotan.
Keberadaan gunung tinggi di samping area sekolah dinilai berdampak pada kondisi halaman yang kerap becek saat hujan, bahkan berpotensi mengganggu aktivitas belajar mengajar.
Anggota DPRD Kalimantan Timur, Syarifatul Syadiah, mengaku, persoalan tersebut sudah pernah disampaikan saat dirinya melaksanakan reses di sekolah tersebut.
Salah satu keluhan utama yang disampaikan pihak sekolah adalah banjir akibat limpasan tanah dari gunung di samping sekolah.
“Saya kebetulan pernah reses di SMP Negeri 3 Gunung Tabur, memang disampaikan soal banjir. Karena ada gunung di sebelah, saya rasa dari perusahaan itu bisa saja membantu,” ujarnya belum lama ini.
Ia menilai, jika di sekitar lokasi terdapat aktivitas perusahaan, penanganan tidak harus selalu bergantung pada APBD.
Terlebih menurutnya, persoalan tersebut berkaitan langsung dengan kenyamanan dan keselamatan siswa.
“Mungkin bisa dibantu dari perusahaan sekitar di Gunung Tabur untuk permasalahan halaman yang becek, misal dengan pembangunan pagar dan lain sebagainya bisa diatasi,” katanya.
Apabila dalam pelaksanaannya diperlukan perizinan, ia optimistis pemerintah provinsi melalui instansi terkait tidak akan mempersulit.
Mengingat, penanganan tersebut untuk kepentingan umum dan menunjang kegiatan pendidikan.
Sementara itu, Anggota DPRD Berau, Rahman, menyampaikan, perusahaan sebenarnya pernah membantu dengan menurunkan alat berat jenis dozer 375 untuk menangani gunung di samping sekolah. Namun, persoalan tersebut belum sepenuhnya tuntas.
“Kalau hujan, tanah dari gunung turun ke sekolah. Memotong gunung itu tidak mudah,” jelasnya.
Ia menilai perlu ada solusi teknis yang lebih komprehensif. Rahman mendorong Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) untuk memikirkan langkah konkret, membantu Dinas Pendidikan dalam membangun pengaman di sekitar area tersebut.
“Dari DPUPR perlu memikirkan bagaimana caranya membantu Disdik untuk membangun pengaman agar halamannya tidak bermasalah. Karena halamannya sudah pakai APBD untuk dicor,” ujarnya.
Menurutnya, pihak guru dan kepala sekolah juga telah memberikan masukan agar dibangun siring beton atau sistem penahan yang lebih efektif.
Ia berharap kajian teknis dilakukan secara matang, agar anggaran yang digunakan efisien namun tetap memberikan manfaat optimal.
“Kalau bisa dikaji lebih bagus supaya anggaran kecil tapi bermanfaat. Kalau ditata bisa lebih bagus,” tambahnya.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan Berau, Mardiatul Idalisah, membenarkan masih adanya sejumlah sarana penunjang di SMP Negeri 3 yang belum tuntas.
Hal itu seiring dengan perkembangan jumlah penduduk di Kampung Maluang yang berdampak pada kebutuhan fasilitas pendidikan.
“Kita lihat perkembangan penduduk di Kampung Maluang. Tetapi untuk penunjangnya masih beberapa yang belum, di antaranya pemagaran,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kendala utama terletak pada kondisi gunung di sisi kiri saat memasuki area sekolah.
Sebelum dilakukan penurunan tanah, pihaknya tidak dapat melanjutkan penataan halaman maupun pembangunan pagar.
“Itu harus dimatangkan dulu atau diturunkan dulu. Kami tidak bisa menata halamannya ataupun pagar jika gunungnya belum kita matangkan,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, penanganan tersebut sempat menjadi prioritas pada 2026. Namun karena kebijakan efisiensi anggaran, rencana tersebut belum dapat direalisasikan dan akan kembali diusulkan sebagai prioritas pada 2027.
Namun ia memastikan pembangunan ruang kelas belajar tetap menjadi prioritas utama.
Ditargetkan, pada Oktober mendatang seluruh ruang kelas belajar sudah hampir selesai sehingga rasio rombongan belajar dan ruang kelas dapat terpenuhi.
“Yang menjadi prioritas jelas ruang kelas belajar. Jadi tinggal yang pendukung-pendukungnya,” pungkasnya. (aja/sam)
Editor : Nurismi