Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Film Karya Pelajar SMPN 1 Sambaliung dan SMAN 2 Berau Resmi Tayang di Bioskop Platinum

Beraupost • Jumat, 13 Februari 2026 | 19:25 WIB
ISTIMEWA: Suasana penayangan film pendek karya pelajar SMPN 1 Sambaliung dan SMAN 2 Berau dalam FFPB 2025 yang digelar di Platinum Cineplex, Tanjung Redeb. (IZZA/BP)
ISTIMEWA: Suasana penayangan film pendek karya pelajar SMPN 1 Sambaliung dan SMAN 2 Berau dalam FFPB 2025 yang digelar di Platinum Cineplex, Tanjung Redeb. (IZZA/BP)

Lampu Bioskop Platinum Cineplex perlahan meredup. Di layar, bukan film-film besar produksi rumah industri nasional yang muncul, melainkan karya para pelajar Berau.

Selama dua hari pada 11–12 Februari 2026, Festival Film Pelajar Berau (FFPB) 2025 menayangkan delapan film pendek karya siswa SMPN 1 Sambaliung dan SMAN 2 Berau.

AMNIL IZZA, Tanjung Redeb

Bukan hanya sekadar film yang diputar di lingkungan sekolah. Kali ini, film-film pendek itu benar-benar “naik kelas” dengan tayang di bioskop, lengkap dengan tiket seharga Rp 35 ribu per kursi.

FFPB 2025 sendiri melibatkan dua sekolah, yakni SMPN 1 Sambaliung dan SMAN 2 Berau.

Ada delapan judul yang diputar. Empat film berasal dari SMPN 1 Sambaliung dan empat lainnya produksi SMAN 2 Berau. Penayangan dibagi dua hari, masing-masing empat film setiap harinya.

Pada hari pertama, penonton disuguhi film pendek berjudul Semuanya Sama Saja, Mey dan Riska, Malam Biasa Disudut Kota, serta Langit dengan Awannya.

Hari kedua dilanjutkan dengan Satu Dua Tiga Sayang Semuanya, Sleepover, Izin Sakit, dan Amaryllis.

Di balik festival ini, Pengarah Produksi FFPB 2025, Gerry Cantona, menuturkan bahwa FFPB bukan sekadar agenda pemutaran film, melainkan upaya memancing terbentuknya ekosistem perfilman pelajar di Berau.

Gerry sendiri mengampu ekstrakurikuler film pendek di SMPN 1 Sambaliung, sementara di SMAN 2 Berau kegiatan ini menjadi bagian dari tugas akhir yang dibimbing guru seni budaya, Risna Herjayanti.

“Kalau ide dasarnya memang untuk memancing terbentuknya sebuah ekosistem, harus ada pancingan yang benar-benar kuat. Karena ekosistem itu ibarat mangsa yang perlu umpan,” ujar Gerry.

Menurutnya, jika screening film hanya dilakukan di lingkungan sekolah, karya para siswa akan berhenti sampai di situ. Padahal, potensi mereka jauh lebih besar jika diberi ruang lebih luas.

“Karya mereka akan berhenti di situ, meski pada akhirnya film-film mereka tetap akan saya distribusikan ke beberapa festival yang ada di luar Kaltim,” katanya.

“Daripada hanya sebagai screening biasa, kenapa kita tidak besarkan saja sekalian. Agar teman-teman lain bisa iri untuk ikut,” ucapnya sambil tertawa.

Festival ini kata Gerry, sengaja dibuat untuk menarik sekolah-sekolah lain ikut terlibat dalam produksi film pendek.

Ia berharap akan muncul lebih banyak penulis dan kreator muda, sehingga warna perfilman pelajar Berau tidak hanya itu-itu saja.

“Harapan kami, ke depan akan ada lebih banyak penulis yang tertarik untuk membuat film-film seperti ini, supaya warna karya yang muncul semakin beragam, tidak hanya satu saja,” jelasnya.

Namun, membangun ekosistem kreatif bukan pekerjaan mudah. Gerry mengaku perlu usaha besar dan dukungan banyak pihak untuk membentuk ekosistem film pendek yang diharapkan.

“Kalau bicara prospeknya, saya rasa perlu usaha yang besar dan dukungan dari banyak pihak untuk bisa membentuk ekosistem film pendek seperti yang kita harapkan," tuturnya.

Meski begitu, ia tetap optimistis. Menurutnya, melalui portofolio karya yang sudah ada, mereka bisa mengajak lebih banyak pelajar dan sekolah lain untuk bergabung. Dan pelan-pelan bisa menuju festival yang ada di luar Berau.

"Jadi memang ini festival masih internal. Karena kalau internalnya belum kuat, tidak berani untuk ikut festival yang di luar internal kita,” katanya.

Tantangan terbesar menurut Gerry, justru ada pada proses produksi. Mengarahkan pelajar untuk disiplin menjadi kru film bukan perkara sederhana, karena mereka belum terbiasa dengan ritme produksi.

Di SMPN 1 Sambaliung, rata-rata kru yang sama memproduksi empat film, sehingga mereka sudah cukup familiar. Namun, situasinya berbeda di SMAN 2 Berau.

“Yang lebih sulit diatur justru anak-anak SMAN 2. Bahkan mereka sempat protes kenapa syuting sampai jam 4 subuh, padahal itu juga karena mereka sendiri yang telat,” ungkapnya.

Di sisi lain, Ia melihat kegiatan ini bukan hanya soal film, tetapi juga soal menghadirkan ruang kreatif baru bagi anak muda Berau. Dirinya ingin membuat Berau ini menjadi asyik dan punya banyak kegiatan.

Ia membandingkan suasana Berau dengan Jogjakarta, tempat asalnya yang menurutnya selalu hidup dengan aktivitas seni dan budaya.

“Karena saya berasal dari Jogjakarta yang sisi sudut kiri kanannya selalu ada kegiatan. Makanya, ketika pindah ke sini kok sepi-sepi aja gitu,” ujarnya.

Ia ingin hasrat berkegiatan kreatif itu muncul, tidak hanya di bidang tari dan musik saja, tetapi juga dalam industri kreatif perfilman.

Untuk produksi film, Ia menyebut semuanya dilakukan secara swasembada. Dukungan datang dari vendor fotografi A Little Story yang membantu meminjamkan peralatan dokumentasi, sementara kebutuhan lain dipenuhi dengan cara patungan.

“Untuk kebutuhan-kebutuhan lain semacam logistik dan peminjaman apapun, itu kami patungan,” katanya.

Dengan keterbatasan sumber daya, mereka tetap berusaha maksimal. Ia memegang prinsip bahwa kreator tidak boleh cepat merasa cukup.

“Ketika Anda merasa cukup, Anda akan selesai. Tapi Anda harus terus merasa tidak cukup, biar terus berkembang,” tegasnya.

FFPB 2025 mungkin baru langkah awal, namun dari layar bioskop itu, harapan ekosistem perfilman pelajar Berau mulai diproyeksikan.

Sementara itu, Guru Seni Budaya SMAN 2 Berau, Risna Herjayanti, menjelaskan, meski festival bertajuk FFPB 2025, penayangannya baru dilakukan pada 2026 karena proses produksi berlangsung tahun lalu.

Risna menjelaskan bahwa ide pembuatan film-film tersebut berangkat dari ujian praktik mata pelajaran seni budaya di SMAN 2 Berau.

Sekaligus sebagai upaya menyesuaikan diri dengan perkembangan konten digital yang semakin marak dan dinilai relevan dengan kebutuhan dunia kerja ke depan. Sehingga, keterampilan produksi film dapat menjadi bekal penting bagi para pelajar.

Ia mengaku bangga dengan seluruh karya yang berhasil ditayangkan. Ia pun berharap festival ini bisa membuka peluang kolaborasi lebih luas dengan sekolah-sekolah lain di Berau.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan ada penayangan ulang di bioskop jika antusiasme penonton masih tinggi.

“Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak sekolah, karena saya yakin karya-karya pelajar Berau punya potensi besar untuk berkembang dan dikenal lebih luas,” tutup Risna. (sam)

Editor : Nurismi
#berau #layar lebar #film #pelajar