Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Sudah Berdiri Sejak 1905! Terungkap Rahasia Klenteng Thien Te Kong Berau yang Tetap Kokoh Jaga Tradisi Selama 121 Tahun

Beraupost • Kamis, 12 Februari 2026 | 19:05 WIB
IBADAH: Perayaan menyambut Hari Imlek yang menjadi momentum bagi warga Tionghoa. (ARTA KUSUMA YUNANDA/BP)
IBADAH: Perayaan menyambut Hari Imlek yang menjadi momentum bagi warga Tionghoa. (ARTA KUSUMA YUNANDA/BP)

Aroma dupa yang mengepul perlahan menyatu dengan semilir angin di Jalan Kapten Tendean, Tanjung Redeb.

Lampion-lampion merah mulai digantung rapi, menghiasi halaman Klenteng Thien Te Kong.

Di tempat ibadah yang telah berdiri lebih dari seabad ini, umat Tionghoa bersiap menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, dengan serangkaian tradisi penutup tahun yang sarat makna dan penuh harapan.

ARTA KUSUMA YUNANDA. Tanjung Redeb

Bagi umat Tionghoa di Kabupaten Berau, perayaan Imlek bukan sekadar pergantian penanggalan, melainkan momentum spiritual untuk membersihkan diri, memperkuat doa, dan menata harapan di tahun yang baru.

Sepekan sebelum hari raya tiba, Klenteng Thien Te Kong telah lebih dahulu dipenuhi aktivitas ibadah.

Ketua Pengurus Klenteng Thien Te Kong, Suhaidi Wiyanto, menjelaskan bahwa ritual menyambut Tahun Baru Imlek selalu diawali dengan sembahyang dupa, serta doa-doa yang dipanjatkan secara pribadi oleh masing-masing umat.

“Untuk ritual menyambut Tahun Baru Imlek, umat Tionghoa melaksanakan kegiatan sembahyang dupa dan berdoa sesuai dengan keinginan dan harapan masing-masing. Ini sudah menjadi agenda atau tradisi setiap tahun, dilaksanakan sepekan sebelum Imlek tiba,” jelasnya.

Sembahyang dupa menjadi simbol penyucian diri dan ungkapan syukur atas perjalanan setahun yang telah dilalui.

Di tengah khusyuknya doa, setiap umat membawa harapan tentang kesehatan, rezeki, keharmonisan keluarga, hingga kedamaian negeri.

Nilai-nilai itu sejalan dengan semboyan yang selalu dijunjung tinggi oleh klenteng ini: “Negara makmur, rakyat tentram".

Semboyan tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan doa kolektif yang dipanjatkan dari generasi ke generasi.

Di tengah keberagaman masyarakat Berau, Klenteng Thien Te Kong menjadi simbol harmoni dan toleransi, tempat di mana tradisi dan kebersamaan tumbuh berdampingan.

Memasuki puncak perayaan nanti katanya, suasana klenteng akan semakin semarak. Seperti tahun-tahun sebelumnya, atraksi barongsai menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan.

Dentuman tambur dan gemuruh simbal akan menggema, mengiringi gerak lincah barongsai yang dipercaya membawa keberuntungan dan mengusir energi negatif.

Selain barongsai, berbagai kegiatan lain yang berkaitan dengan perayaan Imlek juga akan digelar.

Umat akan melakukan rangkaian ritual di dalam klenteng, mulai dari sembahyang bersama, hingga doa pergantian tahun.

Momentum ini menjadi ajang silaturahmi, mempererat hubungan antarsesama umat maupun dengan masyarakat sekitar.

Di balik kemeriahan perayaan, tersimpan juga sejarah panjang Klenteng Thien Te Kong yang menjadi saksi perjalanan komunitas Tionghoa di Berau.

Salah satu tokoh masyarakat, Oetomo Lianto, mengungkapkan bahwa klenteng ini telah berdiri sejak tahun 1905, atau telah berusia sekitar 121 tahun.

“Klenteng ini sudah berdiri sejak tahun 1905. Itu dibuktikan dengan adanya kayu atau identitas berdirinya klenteng yang terletak di atas pintu masuk,” ujarnya.

Kayu bertuliskan identitas tersebut bukan hanya penanda usia bangunan, melainkan jejak sejarah yang mengingatkan pada perjuangan dan keteguhan para pendahulu dalam menjaga tradisi di tanah rantau.

Selama lebih dari satu abad, Klenteng Thien Te Kong tetap berdiri kokoh, melewati berbagai zaman dan perubahan.

Oetomo mengakui, tradisi menyambut Imlek yang terus dilaksanakan hingga kini merupakan warisan budaya yang tak ternilai.

“Ini adalah tradisi yang tentunya akan terus dilestarikan. Sejak dahulu hingga saat ini masih terus lestari,” katanya.

Menjelang Imlek 2577 Kongzili, suasana di klenteng bukan hanya tentang dekorasi merah dan emas, tetapi tentang rasa syukur, refleksi, dan harapan.

Anak-anak berlarian di halaman, para orangtua berbincang hangat, sementara pengurus klenteng sibuk mempersiapkan segala keperluan ritual.

Semua berpadu dalam satu semangat, menyambut musim semi dengan hati yang bersih dan penuh optimisme.

Di tepian Sungai Segah, Klenteng Tien Te Kong kembali menjadi pusat cahaya dan doa. Dari bangunan bersejarah itu, harapan dipanjatka agar tahun yang baru membawa keberkahan, agar masyarakat hidup rukun, dan agar semboyan “Negara makmur, rakyat tentram” benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Imlek bukan hanya perayaan, melainkan pernyataan tentang keberlanjutan tradisi, tentang akar yang tetap kokoh di tengah arus zaman.

Dan di Tanjung Redeb, tradisi itu terus menyala, menyambut musim semi dengan penuh makna. (sam)

Editor : Nurismi
#perayaan imlek #Klenteng Thien Te Kong Berau