BERAU POST – Bupati Berau, Sri Juniarsih, menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang masih ditemui di kawasan wisata Labuan Cermin.
Mulai dari kondisi infrastruktur, hingga penataan kawasan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dinilai belum mencerminkan wajah destinasi unggulan daerah.
Padahal, dirinya terus mendorong sektor pariwisata menjadi tulang punggung perekonomian daerah, seiring komitmen untuk menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan pengganti sektor pertambangan.
Menurutnya, pengembangan pariwisata tidak dapat dilakukan setengah-setengah, melainkan harus menyeluruh dengan memperhatikan berbagai aspek pendukung, salah satunya penerapan Sapta Pesona.
Ditegaskan, kenyamanan, keamanan, dan keindahan kawasan wisata merupakan faktor penting yang akan menentukan minat kunjungan wisatawan.
“Saya pikir pariwisata tidak bisa dilepaskan dari penerapan Sapta Pesona,” tegasnya belum lama ini.
Secara khusus, Bupati pun menyoroti akses infrastruktur menuju objek wisata Labuan Cermin yang dinilai masih memerlukan pembenahan serius.
Kondisi jalan yang berlubang, konstruksi yang mulai berkarat, serta keberadaan jembatan lama yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman dianggap dapat mengurangi kenyamanan dan keselamatan pengunjung.
Karena itu, Sri Juniarsih menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau untuk segera menindaklanjuti perbaikan tersebut, tanpa harus menunggu penganggaran pada tahun berikutnya.
“Pariwisata tidak bisa menunggu. Jalan berlubang harus segera diperbaiki. Jembatan masih kurang bagus, gunakan dana tim reaksi cepat,” tegasnya.
Lanjutnya, jalan masuk menuju Labuan Cermin yang saat ini masih menggunakan konstruksi lama perlu segera dibongkar atau ditata ulang.
Penataan tersebut dianggap penting, agar selaras dengan konsep pengembangan pariwisata modern dan mampu mendukung tampilan Labuan Cermin sebagai destinasi andalan Kabupaten Berau.
Selanjutnya, ruang tunggu kapal bagi wisatawan menurut Bupati masih belum memadai, bahkan belum mencerminkan kawasan destinasi unggulan yang menjadi salah satu ikon pariwisata Berau.
Terlebih kondisi kawasan UMKM di sekitar Labuan Cermin yang dinilai masih terkesan kumuh dan belum tertata dengan baik.
Padahal, keberadaan UMKM di kawasan wisata memiliki peran penting dalam mendorong perputaran ekonomi masyarakat lokal.
Kawasan wisata seharusnya ditata rapi, bersih, dan menarik agar mampu memberikan pengalaman yang baik bagi wisatawan, sekaligus menjadi ruang yang produktif bagi pelaku usaha kecil.
“Saya punya mimpi Labuan Cermin tertata baik, infrastrukturnya nyaman dari arah Tanjung Redeb hingga ke lokasi. Ini bukan hanya soal wisata, tapi kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Dirinya tetap optimistis langkah-langkah tersebut dapat ditindaklanjuti, meskipun anggaran sektor pariwisata saat ini turut terdampak kebijakan efisiensi.
Ia menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak seharusnya menjadi alasan untuk tidak bergerak dan melakukan perbaikan.
Maka penting pembenahan yang dilakukan secara bertahap dan kolaboratif, dengan melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait agar masing-masing dapat menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara maksimal.
“Saya paling tidak suka kalau alasannya sedikit-sedikit bilang tidak ada anggarannya. Jangan karena terbatas, jadi tidak bergerak terlebih dahulu,” tegasnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Berau Abdul Waris, juga menilai bahwa fasilitas penunjang pariwisata, khususnya di kawasan pesisir hingga kini masih belum maksimal, meskipun DPRD telah mengalokasikan anggaran kepada Disbudpar Berau.
Optimalisasi penggunaan anggaran tersebut perlu terus dikawal, agar pengembangan pariwisata benar-benar memberikan dampak nyata bagi daerah dan masyarakat sekitar.
“Yang terpenting, program pariwisata tetap harus berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat lokal,” katanya. (aja/sam)
Editor : Nurismi