Kini, banyak orang menganggap penggunaan kawat gigi hanya sebagai aksesoris semata. Padahal, perawatan ortodonti bukan perkara sederhana, bahkan tidak bisa dilakukan sembarangan.
Tanjung Redeb
Spesialis Ortodonti di Apotek Densmart Medika Farma yang juga pemilik Total Care, drg Julia Rahim, menegaskan, kawat gigi merupakan alat medis yang bekerja mengubah susunan gigi secara perlahan.
Ketika sudah terpasang, kawat akan memberikan tekanan yang memengaruhi posisi gigi serta tulang penyangganya.
“Behel itu bukan sekadar hiasan. Ketika sudah terpasang pada gigi, kawat tersebut secara perlahan akan mengubah susunan gigi," jelasnya saat menjelaskan kepada awak Berau Post belum lama ini.
Dokter yang lahir di Parepare pada 6 Juli 1985 itu menyebutkan, perawatan Ortodonti harus diawali dengan konsultasi disertai dengan tahapan pemeriksaan yang lengkap. Tidak bisa hanya datang lalu langsung dipasang.
Ada data-data akurat yang wajib dipenuhi sebelum dokter menetapkan diagnosa dan rencana perawatan.
“Jadi ada tahapan, dimana perawatan orto itu butuh data-data akurat seperti foto sefalometri, foto panoramik, kemudian foto intraoral, foto profil wajah, cetak rahang atas, rahang bawah. Nanti ada model kerjanya di situ, itu penting,” ujarnya.
Menurut drg Julia, prosedur tersebut menjadi dasar penting untuk memastikan perawatan berjalan aman dan sesuai kebutuhan pasien.
Karena pada dasarnya, pergerakan gigi dalam Ortodonti melibatkan proses biologis pada tulang.
“Karena ketika gigi digoyangkan, berarti ada tulang yang kita rusak. Tujuannya memang pada saat pergerakan gigi, ada tulang yang rusak, tapi ada juga tulang yang diperbaiki,” katanya.
Hal inilah yang membuat pemasangan kawat gigi tidak boleh dilakukan oleh orang yang tidak memiliki pendidikan formal.
Untuk itu, Dia mengingatkan masyarakat untuk menghindari praktik pemasangan behel di tukang gigi, ahli gigi, salon, atau pihak yang tidak memiliki kompetensi.
“Jangan sampai orang yang mengerjakan itu minim ilmu dan asal tempel saja. Makanya banyak kasus-kasus yang giginya sampai copot, goyang, bahkan rahangnya sampai miring,” tegasnya.
Dalam penjelasannya juga, Ia menyebut bahwa kasus penggunaan kawat gigi sangat beragam, mulai dari ringan hingga berat.
Untuk kasus ringan, seperti gigi yang posisinya sudah benar tetapi berputar, perawatan Ortodonti masih memungkinkan dilakukan.
Atau gigi depan yang memiliki celah atau jarak di tengah. Kondisi ini masih tergolong sederhana dan biasanya tidak memerlukan pencabutan maupun perubahan besar pada struktur wajah.
“Kasus-kasus ringan itu yang tidak memerlukan pencabutan dan masih aman dikerjakan oleh dokter gigi umumnya. Itu juga harus hati-hati,” ungkapnya.
Namun, untuk kasus yang lebih berat seperti susunan gigi sangat berjejal, gigi maju, gigitan dalam, atau hubungan rahang yang tidak normal, maka pasien sebaiknya langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis Ortodonti.
Ia menekankan, perawatan kawat gigi tidak hanya bertujuan membuat gigi terlihat rapi, tetapi juga memastikan adanya harmonisasi hubungan rahang atas dan rahang bawah.
Jika hanya rapi secara visual namun fungsi gigitan tidak normal, masalah sebenarnya belum selesai.
“Kalau hanya rapi tapi hubungannya nggak normal itu juga tidak dianggap menyelesaikan masalah. Itu masih dianggap bahwa ada maloklusi di dalamnya,” jelasnya.
Karena itu juga akunya, tak jarang Dia menemui pasien yang sudah memakai kawat gigi misalnya hingga tiga tahun tetapi masih mengalami gangguan mengunyah.
Soal durasi perawatan, dokter lulusan Universitas Hasanuddin itu menyebut, progres seharusnya sudah terlihat dalam lima bulan pertama, baik untuk kasus ringan maupun berat.
Namun, lamanya perawatan juga sangat dipengaruhi oleh kedisiplinan pasien dalam kontrol rutin.
Kontrol ideal dilakukan setiap tiga hingga empat minggu, terutama untuk behel konvensional yang menggunakan karet warna-warni karena elastisitas karetnya terbatas.
“Minimal 3-4 minggu dilakukan kontrol. Kalau saya lebih idealnya sukanya 4 minggu,” katanya.
Lanjutnya, setelah perawatan selesai, pasien masih harus menjalani fase retensi agar gigi tidak kembali ke posisi semula. Fase ini bisa berlangsung enam bulan, satu tahun, bahkan seumur hidup tergantung kasusnya.
“Jika gigi mengalami rotasi parah pada posisinya atau gigi yang sangat maju, maka retensi bisa saja diperlukan bahkan hingga seumur hidup agar gigi tidak kembali berubah,” jelasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya perawatan dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya satu rahang saja. Karena target akhirnya, adalah oklusi atau pertemuan gigi atas dan bawah yang ideal.
“Makanya penting, pemakaian kawat gigi itu tidak bisa hanya di satu rahang saja, tetapi harus atas dan bawah,” ujarnya.
Sebelum pemasangan juga katanya, konsultasi menjadi langkah wajib. Di mana minimal dibutuhkan dua kali pertemuan sebelum kawat gigi akhirnya dipasang.
Selain itu, pasien juga disarankan menjalani kontrol di dokter yang sama, karena rekam medis dan rencana perawatan harus berkesinambungan.
“Konsultasi dulu. Maunya apa, keluhannya apa, pengennya seperti apa, kira-kira estimasi biayanya berapa, karena semuanya harus dibahas,” ujarnya.
drg Julia menambahkan, adapun masalah yang sering muncul pada pemakai kawat gigi seperti gusi mudah berdarah, bau mulut, atau plak, menurutnya bisa diatasi dengan menjaga kebersihan mulut secara baik.
“Sarannya kepada orang yang memakai kawat gigi adalah sikat gigi lebih teliti,” tuturnya.
Dia pun mengingatkan agar masyarakat rajin menyikat gigi yang dilakukan dengan tekanan normal, tidak terlalu keras, dan durasinya cukup agar tidak membuat permukaan gigi abrasi.
"Kalau perlu sikat gigi sambil ngaca. Pun kalau mau lebih bersih lagi, bisa memakai benang gigi. Ada teknik dan cara khusus," sebutnya.
Dia turut mengingatkan masyarakat agar tidak tergoda memilih jalan instan hanya demi gaya, karena risikonya dapat merusak gigi dan rahang dalam jangka panjang. (aja/sam)
Editor : Nurismi