Jalur menuju Puncak Rezeki di Kampung Panaan, Kecamatan Kelay, akhirnya resmi dibuka dan diperkenalkan kepada publik melalui pendakian perdana yang dilaksanakan pada 30-31 Januari lalu.
Hal ini menjadi langkah awal bagi Kampung Panaan, dalam memperkenalkan Puncak Rezeki sebagai destinasi wisata alam baru di Berau.
AMNIL IZZA, Kelay
Pendakian perdana ini diikuti belasan peserta dari berbagai komunitas pencinta alam dan pariwisata, di antaranya Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Berau, Jaringan Mitra Pariwisata (JMP) Berau, Berau Adventure, serta Malinau Hiking Community.
sSebanyak 14 orang dan 4 guide, mereka menjadi rombongan pertama yang menjajal jalur menuju Puncak Rezeki yang berada di kawasan bentang alam karst Sangkulirang Mangkalihat, dengan ketinggian puncak sekitar 420 meter di atas permukaan laut.
Perjalanan dimulai dari Labanan pada pukul 09.25 Wita. Rombongan kemudian tiba di gapura Kampung Muara Lesan sekitar pukul 10.27 Wita, sebelum melanjutkan perjalanan menuju titik penyeberangan sungai.
Sekitar pukul 11.03 Wita, peserta melakukan penyeberangan dengan waktu tempuh kurang lebih lima menit.
Untuk penyeberangan ini, kendaraan roda empat dikenakan biaya Rp 150 ribu, sementara kendaraan roda dua sebesar Rp 35 ribu.
Dari titik tersebut, perjalanan darat kembali dilanjutkan hingga rombongan tiba di Balai Kampung Panaan sekitar pukul 13.20 Wita.
Dari kampung, perjalanan berlanjut dengan menyusuri aliran sungai sebelum akhirnya masuk ke kawasan hutan.
Jalur jalan kaki menuju lokasi camp memakan waktu sekitar satu setengah jam, dengan medan yang masih relatif landai.
Di lokasi inilah rombongan mendirikan camp dan bermalam satu malam, sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak pada keesokan harinya.
Perwakilan HPI Berau, Nova Rahmayanti, menjelaskan, kondisi camp menjadi salah satu keunggulan jalur pendakian Puncak Rejeki.
“Di tempat camp kami benar-benar berada tepat di depan sungai, airnya segar dari mata air pegunungan dan bisa langsung dipakai untuk masak maupun mandi,” kata Nova.
Kondisi tersebut membuat para pendaki tidak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air selama berada di lokasi.
Namun, Nova juga mengingatkan agar pendaki tetap melakukan persiapan sejak awal, terutama sebelum memasuki kawasan hutan.
Banyaknya pacet di jalur pendakian, mengharuskan pendaki menggunakan minyak khusus atau cairan anti serangga agar perjalanan tetap nyaman.
Pendakian menuju puncak dimulai sejak pukul 05.00 Wita. Jalur dari lokasi camp menuju puncak menjadi bagian paling berat dalam seluruh rangkaian perjalanan.
Medan yang dilalui sepenuhnya menanjak tanpa adanya jalur landai, dengan waktu tempuh sekitar satu setengah hingga dua jam.
“Kalau mau ke sana memang harus disiapkan fisiknya, karena ke puncak ini benar-benar butuh tenaga ekstra. Jalurnya full nanjak, tidak ada jalan landai sama sekali,” ujarnya.
Tantangan semakin terasa ketika pendaki mendekati puncak. Pada titik tertentu, pendaki harus memanjat dinding karst dengan bantuan tali, sementara di bawahnya langsung terbentang jurang. Kondisi ini menuntut konsentrasi penuh serta kehati-hatian ekstra dari setiap pendaki.
“Tantangan paling ekstrem itu saat harus memanjat dinding karst, di bawahnya langsung jurang, jadi kalau salah pegang atau salah injak risikonya besar,” tuturnya.
Dengan karakter jalur seperti itu, pendakian Puncak Rezeki dinilai kurang cocok bagi pendaki pemula.
Namun bagi pendaki berpengalaman dan pencinta tantangan, jalur ini justru memberikan sensasi petualangan yang berbeda.
Di kawasan tersebut sebenarnya juga terdapat gua yang berpotensi untuk dieksplorasi lebih lanjut.
Namun pada pendakian perdana ini, rombongan memutuskan tidak melanjutkan eksplorasi karena kondisi fisik sebagian peserta sudah menurun.
Rasa lelah akhirnya terbayar ketika rombongan tiba di puncak. Dari ketinggian, jajaran dinding-dinding karst Sangkulirang Mangkalihat terlihat berjejer yang menjadi daya tarik utama.
Meski hujan membuat pemandangan sunrise dan lautan awan tidak dapat disaksikan, pengalaman berada di puncak tetap memberikan kesan mendalam.
“Senang sekali ketika sudah berada di puncak karena bisa melihat dinding-dinding karst yang berjejer, meski saat itu hujan jadi tidak bisa melihat sunrise dan lautan awan,” jelasnya.
Nova juga sangat mengapresiasi para guide dari Pokdarwis Kampung Panaan. Menurutnya, meskipun para guide belum pernah dapat pelatihan khusus, namun sudah benar-benar mengerti bagaimana melayani pengunjung dengan sangat baik dan profesional.
“Kami sangat mengapresiasi para guide karena benar-benar bagus dan profesional dalam bekerja serta dapat memandu kami sampai ke puncak,” kata Dia. (sam)
Editor : Nurismi