BERAU POST - Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengajak perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Berau untuk memaksimalkan program corporate social responsibility (CSR) untuk pelatihan dan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal.
Ia menilai, selama ini potensi CSR yang ada di Berau dari perusahaan-perusahaan besar di sektor pertambangan, perkebunan, perikanan, hingga pariwisata sebenarnya sudah sangat besar. Namun, belum seluruhnya diarahkan pada upaya penguatan kapasitas masyarakat.
Padahal menurutnya, kebutuhan akan tenaga kerja lokal yang terampil dan siap pakai semakin mendesak, seiring dengan perkembangan investasi dan pembangunan di berbagai sektor.
Apabila CSR difokuskan pada pelatihan kerja, sertifikasi, serta penguatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), maka dampak yang dirasakan oleh masyarakat akan lebih nyata.
Sekaligus menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja dan perekonomian daerah.
“Saya minta pihak ketiga yang ada di Berau dapat berkolaborasi dengan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait untuk menyalurkan CSR dalam bentuk pelatihan. Ini penting agar masyarakat kita punya keterampilan dan daya saing,” tegasnya belum lama ini.
Pihaknya tidak hanya menempatkan CSR sebagai program tambahan, tetapi sebagai bagian strategis dari pembangunan SDM Berau.
Untuk memastikan program CSR berjalan tepat sasaran, Ia menekankan pentingnya keterlibatan OPD yang memiliki data dan pemahaman kebutuhan daerah.
Seperti Disnakertrans, Diskoperindag, serta Disbudpar serta Diskan Berau sebagai pihak yang harus dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan program pelatihan.
Dengan demikian, program yang dijalankan tidak hanya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, tetapi juga selaras dengan potensi ekonomi lokal yang dimiliki Kabupaten Berau.
“OPD punya data, perusahaan punya sumber daya. Kalau ini disatukan, hasilnya akan jauh lebih efektif,” ujarnya.
Pun kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci untuk mengoptimalkan manfaat CSR.
Dengan adanya sinergi, program pelatihan dan peningkatan kapasitas SDM tidak akan berjalan sendiri-sendiri, tetapi terintegrasi dan terarah pada kebutuhan nyata masyarakat.
Ia menyebut, kolaborasi CSR dengan pemerintah daerah menjadi strategi penting untuk menyiapkan SDM Berau menghadapi tantangan pembangunan dan investasi ke depan.
Ia menekankan, masyarakat lokal harus diposisikan bukan sebagai penonton dalam proses pembangunan, melainkan sebagai pelaku utama yang mampu mengambil peran dalam pertumbuhan ekonomi daerah.
Dengan keterampilan yang memadai, masyarakat diharapkan mampu bersaing dan mengambil peluang kerja yang muncul dari berbagai proyek dan investasi.
Ia juga mengajak perusahaan-perusahaan untuk melihat CSR sebagai investasi sosial jangka panjang, bukan sekadar kewajiban yang harus dipenuhi.
Menurutnya, ketika masyarakat sekitar memiliki kompetensi dan kesejahteraan yang lebih baik, maka iklim usaha pun akan semakin kondusif.
“Perusahaan akan diuntungkan jika lingkungan sosialnya kuat, aman, dan masyarakatnya sejahtera. Di situlah peran CSR menjadi sangat strategis,” ujarnya.
Terlebih keberlanjutan usaha perusahaan juga sangat dipengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Pemkab Berau ke depan siap menjadi fasilitator dalam mempertemukan dunia usaha dan OPD agar program CSR dapat terarah, terintegrasi, serta memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah.
Pemerintah daerah berupaya memastikan bahwa CSR benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, khususnya dalam hal peningkatan kualitas SDM dan penciptaan lapangan kerja.
“Saya harap program CSR tidak lagi sekadar program rutinitas, tetapi menjadi salah satu motor utama peningkatan kesejahteraan masyarakat Berau,” harapnya.
Sementara Wakil Ketua Komisi I DPRD Berau, Abdul Waris, menegaskan program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR tidak boleh dijalankan sekadar sebagai formalitas.
Harus benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Ia menegaskan, CSR merupakan tanggung jawab sosial yang melekat pada perusahaan. Karena itu, program yang dijalankan harus dirancang dan disalurkan secara tepat sasaran.
Baik dari sisi penerima manfaat, pola penyaluran, maupun besaran dana yang diberikan, sehingga dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat.
“Efektivitas dan efisiensi penyaluran CSR harus diperhatikan asas manfaat bagi masyarakat luas,” tegas Waris.
Orientasi CSR juga bebernya, seharusnya mengarah pada kepentingan umum. Perusahaan memiliki peran penting dalam mendorong pembangunan daerah.
Melalui CSR, perusahaan dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), misalnya dengan mendukung program pelatihan tenaga kerja, peningkatan keterampilan, hingga membuka akses bagi calon tenaga kerja lokal melalui pelatihan di balai latihan kerja.
“Perusahaan harus punya komitmen meningkatkan SDM lokal, tidak hanya agar mereka bisa masuk dunia kerja, tapi juga supaya mereka punya keahlian lain yang bermanfaat,” jelasnya.
Lanjutnya, jika CSR dijalankan secara optimal dan terarah pada pengembangan SDM, maka hal tersebut akan berdampak pada penurunan angka pengangguran di Kabupaten Berau, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Selain itu, program CSR bisa difokuskan pada pembangunan infrastruktur yang menunjang aktivitas masyarakat sehari-hari, serta bantuan sosial yang sifatnya mendesak dan benar-benar dibutuhkan. (aja/sam)
Editor : Nurismi