Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Respons Cepat Masalah Sosial di Berau: Dinsos dan Baznas Berbagi Peran Tangani Warga Rentan

Beraupost • Selasa, 13 Januari 2026 | 11:55 WIB
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Berau, Iswahyudi. (IZZA/BP)
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Berau, Iswahyudi. (IZZA/BP)

BERAU POST – Dinas Sosial (Dinsos) Berau menegaskan peran Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) sebagai mitra utama dalam penanganan persoalan sosial yang membutuhkan respons cepat.

Terutama ketika anggaran Dinsos habis, sehingga penanganan darurat bisa dikolaborasikan dengan Baznas.

Kepala Dinsos Berau, Iswahyudi, menyebut, kerja sama dengan Baznas selama ini memang tidak bisa dipisahkan, karena masing-masing memiliki peran dan keunggulan yang saling melengkapi.

Jika Dinsos bekerja dengan pola program yang terencana dan berbasis anggaran pemerintah, sementara Baznas memiliki keleluasaan dalam penggunaan dana sosial keagamaan sehingga lebih fleksibel untuk menangani kasus-kasus darurat.

“Baznas itu mitra kami yang utama, dan kami juga mitra utama Baznas. Jadi kami tidak bisa dipisahkan,” ujarnya kemarin (12/1).

Dalam praktiknya, jika ada persoalan sosial yang tidak bisa langsung ditangani Dinsos karena keterbatasan anggaran atau mekanisme, pihaknya bisa meminta bantuan kepada Baznas.

Salah satu contoh yang sering terjadi adalah penanganan orang terlantar yang tidak memiliki keluarga.

“Kalau kasus seperti itu, yang butuh bantuan dalam bentuk uang lebih mudah lewat Baznas. Kalau kami lebih ke yang terencana,” katanya.

Ia menyebut, penanganan orang terlantar sering kali membutuhkan tindakan cepat, seperti pemulangan ke kampung halaman atau penyediaan tempat tinggal sementara.

Dalam kondisi seperti itu, Dinsos dan Baznas biasanya langsung berkoordinasi.

Tidak hanya itu, berbagai kegiatan sosial juga sering dilakukan secara kolaboratif seperti pengontrakan tempat tinggal sementara, hingga kegiatan sunatan massal.

“Sunatan massal itu pasti kita kolaborasi, tidak hanya dengan Baznas. Sebelumnya juga ada nikah massal, dan itu juga upaya kolaboratif, salah satunya dengan Baznas. Mereka memberi souvenir seperti sarung atau kebutuhan lain,” jelasnya.

Diakunya, Dinsos memang tidak memiliki program khusus yang selalu melekat dengan Baznas, tetapi setiap kali muncul persoalan sosial yang harus segera ditangani, koordinasi dengan Baznas menjadi langkah utama.

Misalnya ketika ada warga meninggal dunia sementara anggaran Dinsos sudah habis, pihaknya akan menghubungi Baznas agar membantu proses pemakaman.

Mekanisme kerja sama itu juga berlaku dalam hal laporan masyarakat. Jika ada laporan yang masuk ke Dinsos, tetapi lebih tepat ditangani melalui skema Baznas, maka akan diteruskan untuk ditangani Baznas.

Sebaliknya, jika ada warga yang datang langsung ke Baznas, biasanya tetap membutuhkan rekomendasi atau identifikasi dari Dinsos.

“Kalau orang luar minta bantuan ke Baznas harus ada hal tertentu seperti rekomendasi dari Dinsos, untuk mengidentifikasi bahwa orang itu memang butuh bantuan dan termasuk masyarakat miskin,” jelasnya.

Terkait penekanan angka kemiskinan, Iswahyudi mengatakan fokus utama bukan hanya bantuan tunai, tetapi juga pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, urusan pemberdayaan lebih banyak ditangani oleh Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) yang memiliki program untuk meningkatkan kesejahteraan mustahik agar bisa mandiri secara ekonomi.

Ia mencontohkan, pemberian kendaraan motor oleh Baznas untuk berjualan merupakan bagian dari upaya menekan kemiskinan.

“Orang-orang seperti itu kalau tidak dijaga, dia bisa jatuh miskin. Tapi kalau dia masih bisa jualan, apalagi masih muda, itu masuknya pemberdayaan,” katanya.

Menurutnya, usia dan kondisi sosial harus menjadi pertimbangan. Jika masih muda dan produktif, sebaiknya diberi bantuan yang bersifat pemberdayaan, bukan bantuan langsung tunai. “Kalau masih muda dikasih BLT itu kurang tepat sasaran,” ujarnya.

Untuk anak-anak, bantuan lebih tepat diarahkan ke sektor pendidikan. Sementara bagi warga lanjut usia yang sudah tidak produktif, bantuan langsung tunai atau bantuan sosial menjadi pilihan yang lebih sesuai.

Ia berharap pola kerja sama antara Dinsos dan Baznas terus berjalan baik, sehingga setiap persoalan sosial di Berau bisa ditangani cepat, tepat, dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Dengan pembagian peran yang jelas, pihaknya optimistis penanganan masalah sosial dan kemiskinan di Berau bisa lebih efektif.

Sejalan dengan itu, Bupati Berau Sri Juniarsih, juga mendorong agar Baznas terus memperkuat kolaborasi dengan seluruh organisasi perangkat daerah, termasuk Dinsos dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Kerja sama lintas OPD dengan Baznas penting, agar penanganan persoalan sosial seperti kemiskinan, dan kelompok rentan bisa dilakukan lebih cepat, tepat, dan saling melengkapi sesuai kewenangan masing-masing," ungkapnya.

Sri Juniarsih berharap Baznas dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam menjalankan program-program sosial dan pemberdayaan.

Dengan sinergi tersebut, bantuan yang disalurkan diharapkan benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#Baznas Berau #penanganan #Dinsos Berau #kolaborasi #kemiskinan