BERAU POST - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama pemangku kepentingan sektor transportasi udara menggelar audiensi dengan Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud, Sabtu (10/1).
Pertemuan ini membahas penguatan konektivitas udara regional, nasional, hingga internasional sebagai bagian dari strategi menjadikan Kalimantan Timur pusat konektivitas menuju Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah VII, Ferdinan Nurdin, Ferdinan Nurdin, menyampaikan, audiensi ini menjadi forum penting untuk menyelaraskan rencana pengembangan transportasi udara di Kalimantan Timur dengan wilayah sekitarnya.
“Kami membahas potensi dan pengembangan transportasi udara yang terintegrasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penguatan konektivitas diarahkan tidak hanya pada skala regional, tetapi juga nasional dan internasional.
Fokus utama pembahasan adalah pengembangan Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan sebagai hub transportasi udara Kalimantan Timur.
“Sepinggan diharapkan menjadi penghubung KIPP IKN dengan pusat pemerintahan, bisnis, industri, dan pariwisata,” katanya.
Dalam audiensi tersebut, Ferdinan juga memaparkan sejumlah rencana strategis yang menjadi bahan pertimbangan kebijakan Pemprov Kaltim.
Di antaranya persiapan penerbangan perdana rute Tarakan–Berau dan Berau–Tarakan, Balikpapan–Tanjung Selor serta Tanjung Selor–Balikpapan, hingga rute Berau–Maratua dan Maratua–Berau.
Selain rute penerbangan, dibahas pula pengembangan infrastruktur kebandarudaraan.
Ferdinan menyebutkan rencana pembangunan Bandara Baru Ujoh Bilang di Kabupaten Mahakam Ulu, persiapan pengoperasian Bandara Internasional APT Pranoto Samarinda, serta implementasi National Logistic Ecosystem (NLE) di Bandara Kalimarau.
“Ini bagian dari penguatan sistem logistik dan konektivitas udara,” terangnya.
Tak hanya itu, audiensi juga menyinggung persiapan perubahan status Bandara IKN menjadi bandara internasional untuk penerbangan umum, pengoperasian Bandara Bayan Resources, serta optimalisasi Bandara Bontang.
Seluruh rencana tersebut diarahkan untuk mendukung mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi di Kalimantan Timur.
Dalam kesempatan yang sama, disampaikan pula rencana pembukaan rute internasional Samarinda–Kuala Lumpur.
Rute dari Bandara Internasional APT Pranoto ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir Februari 2026. “Rute ini diharapkan jadi pintu gerbang baru konektivitas global Kaltim,” ujar Ferdinan.
Ia menambahkan, penerbangan internasional tersebut diharapkan mampu memperkuat hubungan ekonomi dan pariwisata, sekaligus meningkatkan daya saing Bandara APT Pranoto sebagai bandara internasional.
Audiensi juga secara khusus membahas pembangunan Bandara Ujoh Bilang yang saat ini masih dalam tahap perencanaan.
Landasan pacu direncanakan memiliki panjang 1.600 x 30 meter dan dapat dilayani pesawat tipe ATR. “Bandara ini penting untuk konektivitas wilayah pedalaman dan perbatasan,” jelas Ferdinan.
Sementara Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, menyampaikan rencana pengoperasian rute baru Tanjung Redeb–Maratua melalui Bandara Kalimarau. “Rute ini dijadwalkan mulai beroperasi 16 Januari 2026,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Lion Air Group turut mengundang Gubernur Kaltim untuk mengikuti penerbangan perdana rute tersebut.
“Kami mengundang Pak Gubernur untuk on board penerbangan perdana,” ujar Danang.
Melalui audiensi ini, diharapkan terbangun sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, otoritas bandara, dan pelaku usaha penerbangan.
Penguatan konektivitas udara tersebut diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan aksesibilitas wilayah, serta memperkokoh peran Kalimantan Timur sebagai gerbang utama menuju Ibu Kota Nusantara dan kawasan strategis lainnya. (sen/sam)
Editor : Nurismi