Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Sekadar Candaan, Hetifah Sjaifudian Tegaskan Perundungan Verbal di Kampus Punya Dampak Serius

Beraupost • Kamis, 25 Desember 2025 | 13:30 WIB
SOSIALISASI: Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mensosialisasikan peran mahasiswa dalam upaya pemberantasan kekerasan yang terjadi di kampus, satu di antaranya lewat Satgas PPKPT. (SENO/BP)
SOSIALISASI: Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mensosialisasikan peran mahasiswa dalam upaya pemberantasan kekerasan yang terjadi di kampus, satu di antaranya lewat Satgas PPKPT. (SENO/BP)

BERAU POST -  Kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi, baik kekerasan secara fisik maupun kekerasan seksual menjadi perhatian Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian.

Dirinya menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam mencegah dan menangani kekerasan di lingkungan perguruan tinggi, dan menciptakan kampus yang aman, inklusif, juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Hetifah menegaskan, perguruan tinggi seharusnya menjadi tempat yang memberikan rasa aman bagi seluruh civitas akademika.

Kampus menurutnya, tidak boleh menjadi ruang yang membiarkan praktik kekerasan, baik secara fisik maupun nonfisik.

“Kampus harus menjadi ruang aman bagi semua pihak, tanpa kecuali,” ujarnya Rabu (24/12).

Ia menyampaikan, kekerasan di lingkungan perguruan tinggi masih menjadi persoalan serius di berbagai daerah.

Bahkan, sejumlah kasus terjadi di kampus-kampus besar yang selama ini dikenal memiliki reputasi baik di bidang akademik.

Menurutnya, bentuk kekerasan di perguruan tinggi sangat beragam. Tidak hanya terjadi antarmahasiswa, tetapi juga melibatkan dosen, tenaga kependidikan, hingga pimpinan kampus.

Bentuknya pun bisa berupa kekerasan seksual, perundungan, diskriminasi, intimidasi, hingga pembatasan kebebasan akademik.

“Kekerasan tidak selalu fisik, banyak yang bersifat verbal dan psikologis,” jelasnya.

Ia juga menyoroti adanya relasi kuasa di lingkungan kampus yang kerap menjadi penghambat utama bagi korban untuk melapor.

Dalam sejumlah kasus, pelaku justru memiliki posisi strategis sehingga korban merasa takut atau tertekan.

“Korban sering tidak berani bicara karena pelaku punya kuasa,” ucap Hetifah.

Kondisi tersebut lanjutnya, diperparah dengan budaya yang cenderung menormalisasi perilaku kekerasan, termasuk melalui candaan atau sikap yang dianggap sepele. Padahal, hal tersebut dapat meninggalkan dampak psikologis yang serius bagi korban.

“Candaan yang merendahkan itu bukan hal sepele dan tidak boleh dibiasakan,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Hetifah mendorong pembentukan dan penguatan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.

Keberadaan satgas dinilai penting sebagai garda terdepan dalam pencegahan sekaligus pendampingan korban.

“Satgas penting agar korban berani melapor dan kasus ditangani adil,” ujarnya.

Ia menegaskan, mahasiswa memiliki peran strategis dalam menciptakan budaya kampus yang sehat dan bermartabat.

Mahasiswa diharapkan berani bersuara, saling menjaga, serta aktif mengawasi lingkungan sekitarnya agar tidak ada ruang bagi praktik kekerasan.

“Mahasiswa harus menjadi bagian dari solusi, bukan hanya penonton,” katanya.

Hetifah juga menekankan bahwa perlindungan terhadap mahasiswa merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen kampus.

Tidak boleh ada diskriminasi maupun intimidasi yang menghambat kebebasan akademik dan proses pembelajaran.

“Saya tidak ingin ada satu pun mahasiswa menjadi korban,” ucapnya.

Sementara Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Berau, Nahwani Fadelan, menyampaikan bahwa UM Berau telah melakukan berbagai upaya untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman dan beretika.

Salah satunya melalui penguatan nilai keislaman dalam proses pendidikan serta pembentukan satuan tugas khusus.

“Kami sudah memiliki satgas pencegahan kekerasan seksual,” terangnya.

Nahwani menambahkan, langkah-langkah strategis tersebut akan terus diperkuat melalui edukasi berkelanjutan kepada mahasiswa dan dosen.

Ia berharap sinergi antara kampus, mahasiswa, dan pemangku kebijakan dapat menciptakan lingkungan pendidikan tinggi yang bebas dari kekerasan. (sen/sam)

Editor : Nurismi
#psikologis #sosialisasi #fisik #kekerasan #hetifah sjaifudian #mahasiswa