BERAU POST – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Berau selama masa libur sekolah dipastikan tetap diberikan, namun dengan bentuk yang berbeda dan tidak diambil setiap hari.
Kepala Dinas Pangan Berau, Rakhmadi Pasarakan, mengatakan, pelaksanaan MBG di daerah tetap mengacu pada arahan dari pemerintah pusat.
Program ini bersifat fleksibel dan menyesuaikan dengan kesiapan sekolah. Pun bentuk makanan yang diberikan akan berbeda, sehingga MBG tidak dialihkan ke penerima lainnya.
“Arahan dari pusat tetap dilaksanakan di sekolah, kalau memang sekolah mau menerima bisa dilaksanakan. Tapi kalau tidak ya tidak dijalankan,” ujarnya kemarin (24/12).
Diaku, pihaknya belum mengetahui sekolah mana saja yang akan tetap menerima program tersebut. Meski begitu, ia memastikan Pemkab Berau terus mendukung program makan gratis tersebut.
“Kami belum tahu sekolah mana saja yang mau menerima MBG selama libur sekolah. Pada prinsipnya, kami mendukung saja pelaksanaan MBG ini,” terangnya.
Ditambahkan, secara konsep MBG untuk anak sekolah dan kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) merupakan satu kesatuan program, hanya saja pelaksanaannya dilakukan bertahap.
“MBG ini juga menyasar kelompok 3B. Tapi bertahap dilaksanakan. Sekarang di Berau baru untuk anak sekolah dulu,” jelasnya.
Sementara Perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) di Berau, Rani, menjelaskan, penyaluran MBG selama libur sekolah tetap dilaksanakan, namun dengan skema yang sudah khusus, baik dari sisi waktu pengambilan maupun jenis paket makanan yang diberikan kepada sekolah.
Rani menyebutkan, dalam satu pekan pengambilan MBG dilakukan dua kali, yakni setiap Senin dan Kamis.
Pola ini diterapkan agar distribusi tetap terjaga dan kualitas makanan bisa dipastikan sesuai standar yang ditetapkan.
“Satu minggu dua kali diambil yakni Senin dan Kamis. Terdiri dari paket makanan basah dan paket makanan kering berbentuk roti, susu, telur rebus, atau istilahnya dirapel ngambilnya,” ujarnya, dalam rakor percepatan program MBG di ruang rapat RKPD Bapelitbang, Rabu (24/12).
Selain menyasar siswa sekolah, program MBG juga dirancang untuk kelompok 3B. Namun, penyalurannya dilakukan secara bertahap. Untuk jumlah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita akan kembali didata.
“Untuk data ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) akan berlanjut disalurkan MBG, tapi akan bertambah,” jelasnya.
Ia menambahkan, tenaga pengajar atau penanggung jawab di sekolah juga akan menerima MBG.
Pun akan memperoleh upah dengan besaran yang disesuaikan dengan jumlah siswa di masing-masing sekolah.
Pihaknya juga menaruh perhatian pada aspek edukasi gizi kepada anak-anak agar mau menghabiskan MBG, sehingga tidak ada makanan yang terbuang.
Khususnya anak-anak yang belum mengerti pentingnya nilai gizi yang terkandung dalam MBG.
Menurutnya, edukasi nilai gizi menjadi pekerjaan rumah yang harus terus dijalankan secara konsisten.
“Kami perlu adanya edukasi nilai gizi yang dilaksanakan ahli gizi pada setiap SPPG itu menjadi PR kami. Karena memang sudah tugas ahli gizi menakar semua gizi dalam MBG,” katanya.
Ia menegaskan, program MBG akan terus dievaluasi dan direncanakan ke depan agar manfaatnya bisa dirasakan oleh semua sektor, dari tingkat bawah hingga ke atas.
Bahkan, dari laporan yang diterima, program ini mulai menunjukkan dampak positif terhadap kehadiran siswa.
“Beberapa kali kami menerima laporan bahwa kehadiran siswa meningkat, yang biasanya siang hari izin pulang, tapi setelah diberi MBG tidak ada lagi siswa yang izin pulang,” ungkap Rani. (aja/sam)
Editor : Nurismi