BERAU POST - Upaya percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Berau didukung Wakil Bupati Berau, Gamalis. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah mempercepat pembentukan 61 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Berau.
Komitmen tersebut ditunjukkan Pemerintah Kabupaten Berau melalui pertemuan dengan Badan Gizi Nasional (BGN) di Jakarta, Senin (22/12).
Sebagai upaya memastikan pembentukan SPPG dapat berjalan sesuai kebutuhan daerah, serta mempertimbangkan kondisi geografis dan potensi lokal yang dimiliki Berau.
Saat ini, kebutuhan SPPG di Kabupaten Berau terbilang cukup besar. Secara keseluruhan, dibutuhkan 61 SPPG untuk menjangkau seluruh sasaran Program MBG.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 SPPG direncanakan berada di wilayah aglomerasi, sementara 31 SPPG lainnya dibutuhkan untuk melayani wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Namun, realisasi di lapangan masih jauh dari target. Hingga kini, baru tujuh SPPG yang telah beroperasi, sehingga percepatan pembentukan menjadi hal yang mendesak agar manfaat program dapat dirasakan secara merata.
Gamalis menegaskan, pemerintah daerah siap mengambil peran aktif dalam mendukung percepatan pembentukan SPPG.
Menurutnya, keberhasilan program MBG tidak hanya bergantung pada kebijakan pusat, tetapi juga pada kesiapan dan keterlibatan pemerintah daerah dalam menjalankan kewenangan yang dimiliki.
“Pemkab Berau siap mendukung sesuai kewenangan daerah, agar SPPG bisa segera terbentuk dan beroperasi,” ujarnya.
Ia menilai, Kabupaten Berau memiliki modal yang cukup kuat untuk mendukung keberhasilan Program MBG.
Ketersediaan bahan pangan lokal dari sektor pertanian, perikanan, dan peternakan dinilai mampu menopang kebutuhan SPPG jika dikelola dengan baik.
Selain itu, keberadaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang pangan juga membuka peluang untuk dilibatkan dalam rantai pasok, sehingga program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi di daerah.
“Berau punya sumber daya pangan yang cukup. Jika dikelola dengan baik, MBG bisa menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus menjamin kualitas gizi,” tambahnya.
Lebih jauh, Gamalis menekankan bahwa program MBG memiliki potensi efek berganda bagi daerah.
Selain meningkatkan kualitas gizi anak-anak dan kelompok sasaran lainnya, program ini juga berpeluang menyerap tenaga kerja lokal serta meningkatkan permintaan terhadap produk pangan yang dihasilkan masyarakat Berau.
Ia berharap sinergi yang terjalin dengan BGN dapat mempercepat pembentukan SPPG, baik di wilayah aglomerasi maupun di daerah 3T, sehingga pelaksanaannya bisa berjalan efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Pihaknya optimistis program MBG ini tidak hanya berdampak pada perbaikan status gizi anak-anak, tetapi juga berkontribusi dalam memperkuat ekonomi daerah serta pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. (aja/sam)
Editor : Nurismi