Di usianya yang masih belia, Annisah Fathiyyah Ilza (14) membuktikan bahwa minat baca tidak selalu kalah oleh layar gawai.
Siswi SMP Negeri 1 Tanjung Redeb itu tampil meyakinkan hingga akhirnya dinobatkan sebagai Duta Baca Perpustakaan Berau 2025, membawa semangat literasi dari bangku kelas 8 untuk menjangkau generasi sebayanya di Bumi Batiwakkal.
AMNIL IZZA, Tanjung Redeb
Di usianya yang baru menginjak 14 tahun, Annisah membawa semangat literasi yang lahir dari pengalaman dan dunianya sebagai pelajar.
Buah hati pasangan Sittu Zakiah dan Ilham Susilo itu tumbuh di lingkungan keluarga yang menjadi salah satu fondasi penting yang membentuk kecintaannya pada buku.
Orang tuanya mengetahui betul kebiasaan Annisah yang gemar membaca, bahkan kerap membelikannya buku bacaan.
Ketika kesempatan menjadi duta perpustakaan datang, dukungan keluarga pun mengalir penuh.
Kebanggaan itu bukan semata pada gelar yang diraih, tetapi pada minat yang selama ini tumbuh dan kini mendapat ruang untuk berkembang lebih luas.
Sebelum menyandang predikat Duta Perpustakaan, Annisah bukan wajah baru di dunia lomba.
Ia cukup sering mengikuti berbagai kompetisi yang berkaitan dengan public speaking. Prestasinya pun beragam dan konsisten.
Dia pernah meraih juara 1 lomba debat Dinas Kesehatan dan dinobatkan sebagai best speaker, juara 1 lomba debat PIK-R tingkat SMP/SMA, juara 1 lomba bakissah Bahasa Banua yang digelar Dinas Pendidikan, juara 1 lomba speech MGMP, juara 1 lomba pidato tiga bahasa, hingga akhirnya menjadi juara dalam ajang Duta Perpustakaan Berau 2025.
Rangkaian prestasi itu menunjukkan keberanian Annisah berbicara di depan publik, sekaligus kemampuannya meramu gagasan.
Proses pemilihan Duta Perpustakaan Berau sendiri tidak singkat. Tahap awal dilakukan melalui babak penyisihan berbasis video.
Setiap peserta diminta membuat video profil dan memaparkan motivasi mengapa ingin menjadi Duta Perpustakaan. Dari sana, terpilih 10 peserta terbaik.
Tahap berikutnya wawancara yang dipusatkan di Perpustakaan Daerah Sanggam Barintak. Usai proses tersebut, pemenang diumumkan secara langsung saat penutupan Bulan Kunjung Perpustakaan 2025, Jumat (19/12) lalu.
Momen pengumuman itu masih membekas kuat bagi perempuan yang lahir di Berau, 15 Oktober 2011 itu. Awalnya Dia tidak menyangka akan keluar sebagai pemenang.
Saat melihat presentasi para finalis lain di 10 besar, rasa minder sempat muncul, apalagi sebagian besar peserta sudah duduk di kelas 9.
“Mental sempat turun ketika melihat finalis lain,” ujarnya sambil mengenang momen itu.
Namun, ketika namanya disebut sebagai pemenang, perasaan senang dan antusias bercampur menjadi satu.
Ia mengaku belum sepenuhnya memikirkan langkah ke depan saat itu, selain menikmati rasa syukur atas hasil yang diraih.
Sebagai Duta Perpustakaan, anak bungsu dari empat bersaudara itu membawa misi yang jelas.
Ia ingin meningkatkan literasi, khususnya di kalangan generasi Z di Berau. Salah satu gagasan yang ia usung adalah program bertajuk “1 Buku Seribu Inspirasi”.
Program ini meliputi penyusunan booklist untuk gen z dan digitalisasi, bedah buku high value, serta kolaborasi dengan storyteller.
Menurutnya, mengajak orang membaca perlu pendekatan yang lebih maju dan modern, termasuk memanfaatkan media digital dan konten yang dibagikan melalui berbagai platform media sosial.
"Saya ingin mengajak lebih banyak orang untuk gemar membaca buku, salah satunya dengan konten di media sosial," tuturnya.
Dibebernya, Dispusip juga sudah memberikan arahan agar aksi literasi dimulai dari lingkungan terdekat, yakni sekolah. Dari sana, kegiatan diharapkan bisa merambat dan memotivasi sekolah lain.
Di perpustakaan sekolahnya sendiri, Annisah sudah berdiskusi dengan beberapa guru.
Salah satu rencana yang sempat dibahas adalah mengundang penulis lokal untuk kegiatan bedah buku.
Agar minat baca teman-temannya tumbuh melalui pertemuan langsung dan rekomendasi bacaan.
Nama Surya Darma dan Saprudin Ithur disebut sebagai penulis lokal yang ingin dihadirkan.
"Kami ada rencana mau mengundang penulis lokal untuk bedah buku agar teman-teman di sekolah tertarik membaca buku," ucapnya.
Dalam keseharian, perempuan yang hobi bermain gitar ini memiliki cara sederhana untuk menularkan minat baca kepada lingkungan sekitarnya.
Ia sering bercerita kepada teman-temannya tentang buku yang baru selesai dibaca. Dari cerita-cerita itulah, beberapa temannya menjadi tertarik membeli buku dan mulai membaca.
"Saya suka kasih tahu temen-temen soal bacaan yang sudah selesai saya baca, Alhamdulillah mereka juga semangat mendengarkan saya cerita," ungkapnya haru.
Kepada generasi muda, gadis kecil yang bercita-cita menjadi dokter ini menyampaikan pesan sederhana namun bermakna.
Ia mengutip pernyataan J.K. Rowling, “If you don’t like to read, you haven’t found the right book.”
Dari kutipan itu, ia percaya bahwa setiap orang sebenarnya bisa jatuh cinta pada membaca, asalkan menemukan buku yang sesuai dengan minat, kebutuhan, dan fase hidupnya.
Sebagai Duta Perpustakaan, Ia ingin mengajak dan membersamai teman-temannya menemukan buku “yang tepat”, menjadikan membaca bukan sebagai beban, melainkan kebutuhan dan teman bertumbuh.
Baginya, dari satu buku yang tepat, bisa lahir satu mimpi, satu harapan, bahkan satu masa depan yang lebih baik.
"Sesuai dengan program saya Satu Buku Seribu Inspirasi," katanya.
Dukungan terhadap Annisah juga datang kuat dari lingkungan sekolah. Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Tanjung Redeb, Yulistina Elystria, menilai capaian Annisah saat ini bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Menurutnya, sejak awal Annisah sudah menunjukkan potensi yang menonjol.
“Annisah di sekolah memang sudah terlihat pintar. Bakatnya juga mulai terasah sejak kelas 7,” ujarnya.
Ia menyebut Annisah memiliki banyak kemampuan yang berkembang dengan baik, sehingga kerap ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam berbagai kegiatan yang menuntut keberanian dan kemampuan berbicara di depan publik.
Selain memiliki bakat, Annisah dinilai memiliki kemauan yang kuat untuk terus berlatih dan memperbaiki diri.
“Dia punya kemampuan dan kemauan, sehingga kami dorong untuk ikut Duta Perpustakaan,” tuturnya.
Dalam proses pembinaan, Annisah juga dikenal sebagai siswa yang mudah dibimbing dan cepat menangkap arahan, sehingga pendampingan yang diberikan bisa berjalan efektif.
Dari sisi akademik, Ia juga memiliki semangat belajar yang konsisten dengan capaian nilai yang baik di hampir seluruh mata pelajaran.
Pendampingan dari sekolah pun dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari pelatihan public speaking, storytelling, hingga pidato.
Keaktifannya pun tidak hanya terlihat di ruang kelas, tetapi juga dalam organisasi. Sejak kelas 7, Annisah sudah dipercaya menjadi wakil OSIS, dan kini mengemban amanah sebagai ketua OSIS SMP Negeri 1 Tanjung Redeb.
Kemampuan bersosialisasinya yang baik membuatnya mendapatkan dukungan luas dari teman-temannya saat mencalonkan diri.
Sebagai pendidik, Yulistina berharap Annisah bisa menjadi inspirasi bagi siswa-siswi yang ada di SMP Negeri 1 Tanjung Redeb.
Ia menekankan bahwa setiap anak sebenarnya memiliki bakat, namun tidak semuanya bisa berkembang jika tidak disertai kepercayaan diri dan semangat.
“Bakat itu bisa berkembang. Setiap anak bisa mengeksplorasi potensinya dengan penuh percaya diri dan berbagi,” katanya.
Ia pun berharap prestasinya sebagai Duta Baca Perpustakaan Berau 2025 tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membawa nama baik sekolah serta memotivasi siswa lain untuk berani mengasah kemampuan dan minatnya. (sam)
Editor : Nurismi