BERAU POST – Sorotan terkait kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kabupaten Berau menjadi perhatian yang serius. Terlebih dengan terungkapnya kasus ‘predator’ anak belum lama ini.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Rabiatul Islamiah, mengatakan, salah satu upaya yang pihaknya lakukan untuk menekan terulangnya kasus tersebut ialah dengan pemanfaatan teknologi digital.
Yakni aplikasi SIGA (Sistem Informasi Gender dan Anak) sebagai sarana pelaporan kasus kekerasan, khususnya terhadap anak.
“Jadi aplikasi SIGAP ini adalah salah satu langkah untuk memonitor dan langkah cepat jika ada kasus keekrasan terhadap anak dan perempuan di Kabupaten Berau,” ujarnya kepada awak media kemarin (16/12).
Aplikasi SIGA yang dikembangkan BKKBN itu sebutnya menjadi kanal cepat dan aman bagi masyarakat untuk menyampaikan laporan, bahkan dari wilayah terpencil yang sulit dijangkau layanan konvensional.
Dirinya menegaskan bahwa SIGA merupakan solusi atas berbagai kendala yang selama ini membuat korban enggan melapor, seperti jarak, rasa takut, hingga ketidaktahuan ke mana harus mencari bantuan.
“SIGA dirancang untuk memudahkan pelaporan secara cepat dan aman. Masyarakat bisa mengirim laporan hanya dalam hitungan detik, bahkan tanpa harus mencantumkan identitas. Ini sangat penting agar korban tidak merasa terintimidasi,” tegasnya.
Salah satu fitur unggulan aplikasi ini adalah tombol SOS, yang memungkinkan pelapor mengirimkan sinyal darurat secara langsung ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perlindungan Perempuan dan Anak.
Begitu tombol tersebut ditekan, petugas akan segera menerima notifikasi dan dapat mengambil langkah penanganan awal.
“Fitur SOS ini sangat membantu, terutama bagi korban yang berada dalam kondisi darurat atau mengancam keselamatan. Petugas bisa langsung merespons,” tambahnya.
Tak hanya itu, SIGA juga dilengkapi dengan dashboard pemantauan yang menyajikan data kasus secara real time.
Fitur ini memudahkan DPPKBP3A Berau untuk melihat sebaran dan tren kekerasan di setiap kecamatan, sehingga dapat memetakan wilayah rawan serta menentukan intervensi yang tepat dan cepat.
Dengan kondisi geografis Berau yang luas dan banyaknya kampung yang jauh dari pusat layanan kota, keberadaan SIGA diharapkan mampu menutup celah pelayanan perlindungan.
Selama tersedia jaringan internet, aplikasi ini dapat diakses kapan dan dari mana saja.
“Kami berharap SIGA bisa dimanfaatkan hingga ke pelosok. Tidak boleh ada perempuan dan anak yang terabaikan hanya karena keterbatasan jarak,” sebutnya.
Sementara Kanit PPA Polres Berau, Iptu Siswanto, mengaku sampai saat ini pihaknya masih terus melakukan koordinasi baik dengan dinas ataupun UPT dalam menekan kasus kekerasan di Berau.
Menurutnya, langkah ini diambil salah satunya untuk menekan kasus kekerasan yang terjadi di Berau.
“Kita juga tetap melakukan monitoring di sekolah dengan melakukan disuksi serta imbauan terkait dengan hal-hal berkaitan dengan kasus kekerasan,” tegasnya.
Dirinya pun menekankan kepada para korban atau pun yang mengetahui terkait dengan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan untuk tidak takut melapor.
Pasalnya, informasi awal tersebut sangat dibutuhkan untuk mengungakap kasusnya.
“Jangan takut melapor. Kami pasti menutupi identitas pelapor apalagi korbannya, jangan sampai karena takut banyak korban lain yang menjadi sasaran empuk pelaku,” tutupnya. (aky/sam)
Editor : Nurismi