Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Demi Genjot PAD! Perusda Bhakti Praja Berau Nekat Kembangkan Hilirisasi Kelapa Sawit

Beraupost • Selasa, 16 Desember 2025 | 11:45 WIB
Ilustrasi hasil sawit. (BERAU POST)
Ilustrasi hasil sawit. (BERAU POST)

BERAU POST – Direktur Perusda Bhakti Praja, Sultan, mengungkapkan niatnya untuk mengembangkan hilirisasi kelapa sawit di Kabupaten Berau.

Hal itu sejalan dengan kebutuhan daerah untuk mendorong pertumbuhan bisnis, agar mampu memberi kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Diakunya, sejauh ini unit usaha yang dijalankan Perusda Bhakti Praja memang belum memberikan dampak signifikan terhadap PAD.

Salah satu usaha yang berjalan seperti ayam petelur, masih berada pada skala terbatas sehingga kontribusinya belum terasa.

Kondisi itu menjadi bahan evaluasi internal perusahaan untuk mencari peluang usaha lain yang lebih potensial.

“Iya, kami juga memiliki keinginan untuk membangun industri kelapa sawit di Berau," ucapnya belum lama ini.

Upaya pengembangan bisnis ke sektor hilirisasi CPO dipandang memiliki prospek lebih besar dibandingkan usaha yang saat ini berjalan.

Apalagi Kabupaten Berau memiliki potensi besar untuk pengembangan industri berbasis sawit.

Ketersediaan bahan baku dinilai mencukupi, mengingat luasnya kawasan perkebunan kelapa sawit yang ada.

Potensi tersebut diyakini mampu menopang kebutuhan produksi minyak mentah yang selanjutnya diolah menjadi minyak makan melalui pabrik pengolahan di Berau.

Peluang inilah yang dinilai dapat menjadi motor penggerak baru bagi Perusda Bhakti Praja. Jika pengembangan usaha CPO dapat direalisasikan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga berpotensi meningkatkan PAD dan memperkuat struktur ekonomi daerah.

“Tentu pengembangan usaha CPO ini sangat potensial, ini juga yang kami proyeksikan bisa berjalan di Berau,” katanya.

Namun, Ia tidak menutup mata terhadap keterbatasan kemampuan finansial perusahaan.

Adapun saat ini, Perusda Bhakti Praja baru menerima penyertaan modal dari pemerintah daerah sebesar Rp 2 miliar.

Nilai tersebut dinilai belum mencukupi untuk membangun pabrik pengolahan CPO beserta seluruh kebutuhan infrastrukturnya.

Atas dasar itu, manajemen Perusda Bhakti Praja merencanakan pembentukan badan usaha konsorsium.

Melalui konsorsium tersebut, perusahaan daerah akan menggandeng pihak lain termasuk investor swasta, untuk bersama-sama memenuhi kebutuhan pendanaan dan operasional.

“Kalau hanya mengandalkan kas internal sendiri tentu tidak mampu. Kami harus menggandeng investor,” bebernya.

Pun sepanjang tahun ini pihaknya telah melakukan pertemuan dengan sejumlah pengusaha besar untuk menjajaki peluang kerja sama.

Namun memang, hingga kini belum ada investor yang berani menginvestasikan modalnya untuk berkolaborasi dengan Perumda Bhakti Praja dalam pengembangan usaha CPO tersebut.

“Tapi ini akan kami coba terus, mengembangkan jejaring bisnis yang kami miliki,” ujarnya.

Sultan menilai dukungan penuh dari Pemkab Berau menjadi faktor penting dalam memuluskan rencana strategis tersebut.

Ia berharap pemerintah daerah diharapkan dapat berperan sebagai motor penggerak, terutama dalam memberikan kepastian dan kepercayaan kepada calon investor.

Sebagai Kuasa Pemilik Modal (KPM), Bupati Berau sebutnya tentu memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan usaha perusahaan daerah.

“Tentunya kami butuh dukungan kepala daerah sebagai KPM untuk memudahkan operasional perusahaan dalam mengembangkan bisnisnya,” pungkasnya.

Merespons hal itu, Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, menekankan pentingnya kajian mendalam atau studi kelayakan sebelum rencana tersebut direalisasikan.

Pada prinsipnya, pihaknya siap mendukung pengembangan industri hilirisasi sawit, namun pelaksanaannya harus direncanakan secara matang.

“Kami mengusulkan agar pembangunan pabrik minyak goreng di Berau didahului dengan kajian yang matang," ujar Sumadi.

Menurutnya, kajian tersebut penting untuk memastikan pembangunan dapat berjalan efektif dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Adapun sejumlah aspek yang menjadi perhatian di antaranya perizinan, kebutuhan dana, jumlah tenaga kerja, aspek keamanan lingkungan, hingga proyeksi keuntungan yang akan dihasilkan, sehingga benefit atau manfaatnya jelas.

Ia berharap pembangunan pabrik minyak goreng dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.

Terutama di tengah kondisi sektor pertambangan yang mulai mengalami pengurangan tenaga kerja.

“Hal seperti itulah yang kita pikirkan, bagaimana pembangunan pabrik ini nantinya benar-benar bisa membuka lapangan kerja baru dan memberi manfaat bagi masyarakat Berau,” bebernya.

Dirinya mendorong seluruh BUMD di Bumi Batiwakkal untuk terus menyusun strategi agar mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan PAD.

“Ini harus dibahas secara serius, sehingga dapat memberikan dampak positif secara nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#hilirisasi #Kabupaten Berau #pertumbuhan #kelapa sawit #pad