BERAU POST – Aktivitas wisata di Air Terjun Tembalang, Kampung Tepian Buah, Kecamatan Segah kembali menjadi perhatian.
Setelah pengelola menemukan masih adanya pengunjung yang masuk tanpa izin dan datang di luar jam operasional.
Padahal, aturan kunjungan sudah disampaikan melalui media sosial dan papan informasi di pintu masuk kawasan.
Namun kenyataannya, masih ada wisatawan yang memilih datang tanpa konfirmasi, bahkan memaksakan diri masuk.
Ketua Pokdarwis Alo Malau Kampung Tepian Buah, Sri Astaria mengatakan, hal ini bukan pertama terjadi dan petugas di lapangan harus terus mengingatkan para pengunjung yang tidak mengikuti aturan.
Dijelaskannya, sejak awal pengelolaan di bawah kepengurusan baru pada Januari 2024, kawasan Air Terjun Tembalang tidak dibuka setiap hari dan hanya beroperasi saat akhir pekan, yaitu Sabtu dan Minggu.
Untuk hari biasa, kawasan wisata tetap bisa dikunjungi, tetapi wajib melakukan konfirmasi minimal satu hari sebelumnya agar petugas dapat mempersiapkan pengamanan dan pelayanan.
“Ada saja kami temukan di lapangan orang masuk tanpa izin ke Tembalang. Sejauh ini jika ada ditemukan kami tegur langsung dan beri imbauan kembali karena takutnya memang belum tahu sama sekali,” katanya.
Apalagi pihak Pokdarwis selalu mengumumkan jadwal buka tambahan pada hari libur nasional atau momen tertentu melalui akun media sosial Pokdarwis Alo Malau agar informasi bisa diakses oleh calon pengunjung sebelum datang ke lokasi.
Adapun salah satu penyebab wisatawan tetap masuk tanpa izin adalah jalur menuju air terjun yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki tanpa melewati pos utama.
Hal ini membuat petugas harus menerapkan patroli rutin agar tidak ada masyarakat yang memasuki kawasan tanpa pengawasan, karena selain melanggar aturan, tindakan ini juga berpotensi membahayakan mereka.
Menurutnya, dampak dari pengunjung yang masuk tanpa konfirmasi bukan hanya soal pelanggaran aturan, tetapi juga menciptakan masalah baru.
Sampah menjadi salah satu persoalan yang paling sering ditemukan karena tidak adanya pengawasan langsung dari petugas.
Selain itu, ada pula pengunjung yang memakai fasilitas pendukung seperti kano atau pelampung tanpa izin dan menurunkannya sendiri, sehingga perangkat tersebut rawan rusak, terbawa arus, atau hilang.
“Yang paling dikhawatirkan adalah aspek keselamatan, terutama ketika cuaca buruk atau debit air meningkat,” katanya.
Dibeberkannya, jumlah kunjungan pada saat akhir pekan memang sangat bervariasi. Pada hari biasa atau kondisi cuaca yang kurang mendukung, jumlah pengunjung berada di bawah 50 orang per hari.
Namun, ketika musim liburan atau tanggal merah, angka itu bisa meningkat drastis hingga lebih dari 100 orang dalam sehari.
Untuk mengantisipasi penumpukan dan menjaga keamanan, pembatasan waktu kunjungan mulai diberlakukan.
“Biasanya kami berlakukan waktu jika memang terlalu padat agar tidak terjadi penumpukan. Misalnya maksimal di dalam kawasan air terjun dua sampai tiga jam sudah kita arahkan untuk keluar kawasan bergantian dengan pengunjung lainnya,” jelasnya.
Pihak Pokdarwis juga menetapkan jadwal patroli rutin untuk memastikan tidak ada pengunjung yang nekat masuk di luar jam operasional.
Ia juga mengimbau agar wisatawan selalu mengikuti informasi terbaru mengenai wisata Air Terjun Tembalang maupun Bukit Mincau melalui akun Instagram resmi.
“Bisa cek @pokdarwis_alo_malau, agar rencana kunjungan dapat disesuaikan dengan aturan yang berlaku dan pengelolaan kawasan tetap berjalan tertib,” pungkasnya. (aja/arp)
Editor : Nurismi