Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Dekranasda Berau Latih Warga Bidukbiduk Olah Limbah Kelapa dan Rotan Jadi Kerajinan Bernilai

Beraupost • Rabu, 26 November 2025 | 12:50 WIB
TINGKATKAN KEMAMPUAN: Dekranasda Berau dan Diakoperindag Berau melaksanakan pelatihan kerajinan dengan bahan dasar rotan dan limbah kelapa di Kecamatan Bidukbiduk. (SENO/BP)
TINGKATKAN KEMAMPUAN: Dekranasda Berau dan Diakoperindag Berau melaksanakan pelatihan kerajinan dengan bahan dasar rotan dan limbah kelapa di Kecamatan Bidukbiduk. (SENO/BP)

Upaya pengembangan industri kerajinan berbasis potensi lokal kembali digencarkan Pemerintah Kabupaten Berau melalui kolaborasi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dan Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag).

Anggoro Fadjar Suseno, Bidukbiduk

Salah satu program yang tengah dilaksanakan adalah pelatihan pengolahan limbah kelapa dan bahan baku rotan, yang digelar khusus bagi para pengrajin di Kecamatan Bidukbiduk yang dimulai sejak Selasa (25/11) hingga Kamis (28/11).

Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi pembangunan industri kreatif daerah, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

Pelatihan tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai kampung, sebagian besar adalah pelaku UMKM dan pengrajin rumahan yang selama ini memanfaatkan bahan baku alam secara sederhana.

Melalui pelatihan ini, peserta dibimbing menciptakan produk bernilai tambah tinggi dengan memanfaatkan limbah kelapa seperti sabut, tempurung, dan serabut yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Selain itu, rotan yang menjadi komoditas khas Berau juga diperkenalkan sebagai bahan penguat dan penggabung dalam proses pembuatan kerajinan.

Wakil Ketua Harian Dekranasda Berau, Sulasih Said, menegaskan, pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan teknis sekaligus memperluas wawasan peserta mengenai peluang usaha berbahan alam. Satu-satunya kutipan langsung berbunyi.

“Kita mendorong peserta berkreasi dari limbah kelapa menjadi kerajinan bernilai,” terangnya Selasa (25/11).

Sulasih menjelaskan, pelatihan tidak hanya mengajarkan teknik mengolah bahan, tetapi juga bagaimana menciptakan desain unik, finishing yang baik, hingga memahami standar kualitas sebelum produk dipasarkan.

Ia berharap peserta dapat tumbuh menjadi wirausaha baru, membuka peluang usaha mandiri, atau menjalin kemitraan dengan pihak lain yang bergerak di sektor kerajinan.

Produk yang lahir dari pelatihan ini juga diharapkan dapat dipasarkan sebagai souvenir khas Bidukbiduk, mengingat wilayah tersebut merupakan destinasi wisata yang terus berkembang.

Selain materi teknis, peserta juga dibekali keterampilan menghitung Harga Pokok Produksi (HPP).

Hal ini penting, agar harga jual yang ditetapkan sesuai nilai produksi, sekaligus memberikan keuntungan yang wajar bagi para pengrajin.

Sulasih menilai kemampuan menentukan harga menjadi salah satu tantangan bagi pelaku UMKM, sehingga perlu diberikan pemahaman agar usaha yang dijalankan dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Sementara Ketua Umum Dekranasda Berau, Brigjen Pol (Purn) Edy Suswanto, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal.

Ia memaparkan, Bidukbiduk memiliki bahan baku yang sangat melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal.

Kelapa yang berbuah sepanjang tahun dan rotan yang tersedia di kawasan hutan, menurutnya dapat menjadi komoditas bernilai tinggi jika diolah dengan tepat.

Edy menilai masih banyak masyarakat yang belum menyadari potensi ekonomis limbah tersebut.

Di daerah lain, limbah kelapa bahkan dihargai tinggi karena mampu menghasilkan produk unggulan seperti tas, hiasan dinding, lampu meja, hingga aksesori rumah tangga.

Namun di Bidukbiduk, limbah tersebut cenderung diabaikan karena dianggap tidak memiliki nilai.

“Di sini kita punya bahan baku melimpah dan gratis, cenderung tidak terperhatikan, nilai ekonominya tidak dihitung, berbeda dengan tempat lain,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan, 70 persen UMKM berperan sebagai penopang ekonomi lokal, sehingga pengembangan keterampilan menjadi kunci untuk memperkuat ekonomi masyarakat.

Edy berharap pelatihan ini dapat menjadi titik awal perubahan pola pikir masyarakat dalam memanfaatkan limbah sebagai peluang usaha.

Ia menekankan, perubahan kultur dari tidak peduli menjadi produktif membutuhkan proses, tetapi melalui pelatihan berkelanjutan, potensi tersebut dapat tumbuh dan menjadi kekuatan ekonomi baru bagi daerah.

Melalui program ini, Dekranasda dan Diskoperindag berharap lahir lebih banyak pengrajin kreatif yang mampu menghasilkan produk unggulan berbahan alam.

Selain meningkatkan kualitas, program ini juga diarahkan untuk memperkuat daya saing kerajinan lokal agar dapat menembus pasar yang lebih luas.

Dengan memanfaatkan potensi alam yang melimpah, Bidukbiduk diharapkan mampu berkembang sebagai sentra kerajinan khas Berau yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berkelanjutan.

“Saya berharap dalam pelatihan ini ada perubahan, terutama yang sulit itu merubah pola pikir atau kultur, dari tadinya tidak peduli terhadap limbah ini menjadi kebiasaan yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (sen/sam)

Editor : Nurismi
#limbah kelapa #pelatihan #Kabupaten Berau #rotan #dekranasda