Pameran Dekranasda Berau pada ajang Griya Kriya Nusantara 2025 di Jogjakarta resmi berakhir 16 November.
Kegiatan yang berlangsung sejak 13 November itu mencatat antusiasme pengunjung yang cukup tinggi, baik dari wisatawan lokal maupun mancanegara.
ANGGORO FAJAR SUSENO, Jogjakarta
Sejumlah produk unggulan Kabupaten Berau pun berhasil menarik perhatian, termasuk kerajinan manik-manik khas Suku Dayak dan olahan cokelat lokal yang belakangan semakin dikenal luas.
Momen unik terjadi ketika seorang wisatawan asal Kroasia singgah di stan Berau dan langsung membeli cenderamata berbahan manik-manik Dayak.
Ia tampak antusias mempelajari makna motif, serta proses pembuatan kerajinan tersebut.
Kehadiran pengunjung asing itu menjadi bukti, bahwa potensi produk kriya Berau memiliki daya tarik global dan dapat bersaing dengan produk kerajinan daerah lainnya.
Yang menarik juga, istri dari Gubernur Sumatera Utara, Boby Nasution, yang merupakan Ketua Dekranasda Sumut, Kahiyang Ayu, sempat singgah dan mampir di Stan Dekranasda Berau.
Anak Presiden RI ke-7, Joko Widodo ini menyempatkan diri berbincang sedikit mengenai stan di Berau, sebelum akhirnya meninggalkan lokasi acara.
Selain itu, produk cokelat Berau juga turut mencuri perhatian. Salah satu brand kuliner legendaris Jogjakarta, Raminten, menunjukkan ketertarikannya pada kualitas cokelat lokal tersebut.
Brand yang didirikan oleh Hamzah Sulaiman atau lebih dikenal dengan nama panggung Raminten, menunjukkan ketertarikan terhadap lakao Berau yang dinilai cocok dikembangkan dalam kerja sama bisnis ke depan.
Ketua Umum Dekranasda Berau, Brigjen Pol (Purn) Edy Suswanto, menyampaikan rasa syukur atas capaian yang diraih pada Griya Kriya Nusantara tahun ini.
Berau berhasil meraih predikat runner up stan terbaik kedua dari keseluruhan peserta. “Kita bersyukur karena meraih runner up stan terbaik kedua,” ujarnya.
Ia menegaskan, prestasi tersebut merupakan hasil kerja kolektif. Ia menyebut, seluruh pihak memiliki andil besar, mulai dari pengurus Dekranasda hingga para pengrajin UMKM yang terus berinovasi.
Edy menegaskan bahwa pencapaian ini tidak membuat pihaknya berhenti berbenah.
Ia bahkan menargetkan peningkatan prestasi dan kualitas produk pada tahun-tahun mendatang.
Menurutnya, beberapa produk ekonomi kreatif dan IKM Berau memiliki peluang besar untuk menembus pasar internasional.
“Kita targetkan bisa go internasional,” terangnya.
Dirinya juga mencontohkan produk kakao Berau yang sebenarnya sudah memenuhi standar ekspor.
Ia berharap semakin banyak UMKM dapat mengikuti jejak tersebut, di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
Dari sisi manfaat, Edy menyebut pameran seperti ini berperan langsung dalam menggerakkan ekonomi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.
Baginya, kesejahteraan masyarakat dapat meningkat jika para perajin terus diberikan ruang untuk memasarkan produk dan mengembangkan kreativitas.
Ia menegaskan bahwa Dekranasda Berau akan melanjutkan upaya penguatan di berbagai lini, baik dari segi kualitas produk, tata stan, hingga manajemen pameran. “Intinya kita akan terus mengembangkan diri,” tandasnya.
Edy menegaskan komitmen memperbaiki kekurangan agar capaian di tahun berikutnya semakin maksimal.
Dengan dorongan tersebut, Dekranasda Berau optimistis dapat melampaui prestasi sebelumnya dan membawa produk lokal ke panggung yang lebih luas.
Lainnya, salah satu pengunjung stan, merupakan pengusaha yang bergerak di bidang ekspor meubel dan kerajinan tangan asal Jogjakarta, Emma, juga sempat melirik beberapa produk kerajinan yang dibawa Dekranasda Berau.
Salah satu produk yang diliriknya adalah hasil olahan berbahan dasar kayu pohon kelapa serta kayu ulin menjadi perabotan, seperti alat makan hingga ulekan.
“Ya saya tertarik tadi dengan hasil kerajinan kayunya, cukup bagus dan menarik,” terangnya.
Selain itu, Emma yang didampingi sang anak turut mencicipi beberapa olahan pangan khas Berau.
Di antaranya olahan perpaduan cokelat Berau. Menurutnya, cokelat Berau menghadirkan sensasi rasa yang berbeda ketika dimakan. Apalagi rasa asam yang khas menjadikannya cukup unik.
“Ternyata cokelat Berau punya rasa khas memang, stan Berau di Jogja jadi hal yang cukup asyik untuk dikunjungi,” pungkasnya.
Sebelumya, Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengatakan, partisipasi tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah untuk memajukan produk lokal agar dapat bersaing hingga ke tingkat internasional.
Dalam pameran ini, Berau membawa beragam hasil olahan pangan dan produk kriya yang sepenuhnya diproduksi oleh UMKM lokal.
“Kita membawa beragam produk olahan dan produksi dari UMKM kita yang benar-benar rasa dan kualitasnya luar biasa,” terangnya belum lama ini.
Salah satu produk andalan yang menjadi perhatian pengunjung adalah Cokelat Kulanta, hasil binaan perusahaan bersama kelompok ibu-ibu di Labanan.
Produk tersebut bahkan berhasil menarik minat pelaku usaha kuliner ternama asal Jogjakarta, Raminten, untuk dijajakan di gerainya.
Cokelat Berau ini dikenal karena cita rasanya khas, serta bahan baku berkualitas tinggi yang kini menjadi pasokan bagi merek cokelat internasional seperti Valrhona asal Prancis.
Sri Juniarsih menyebut, ekspor cokelat Berau telah menjangkau sejumlah negara, menandakan bahwa produk lokal mampu menembus pasar global.
Selain produk cokelat, stan Berau juga menampilkan berbagai olahan hasil laut seperti kalampuri, udang rebon, dan terasi khas Berau.
Semua produk tersebut menggambarkan kekayaan rasa dan keaslian bahan baku daerah.
“Terasi khas Berau ini enak, cukup tambah cabe dengan bawang, sudah enak rasanya,” sambungnya.
Tak hanya pangan, Berau juga memperkenalkan produk kriya inovatif seperti set sendok dan garpu dari bahan kayu kelapa.
Produk ramah lingkungan itu dirancang dengan desain dinamis dan praktis, menjadi alternatif pengganti peralatan makan berbahan plastik.
Selain menarik minat pasar domestik, produk kriya ini juga dilirik oleh sejumlah pembeli internasional.
Menurut Sri Juniarsih, keberhasilan membawa produk unggulan ke ajang nasional menjadi dorongan kuat bagi UMKM untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi jembatan antara pengrajin lokal dengan pasar yang lebih luas.
“Mudah-mudahan ini menjadi ikhtiar agar bisa menaikkan kelas UMKM dan produk lokal kita ke pasar yang lebih tinggi,” harapnya. (sam)
Editor : Nurismi