BERAU POST – Progres pembangunan pengaman Jembatan Sambaliung terus menunjukkan perkembangan positif.
Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (DPUPR-Pera) Provinsi Kalimantan Timur mencatat, hingga awal November ini, pekerjaan fisik sudah mencapai sekitar 79 persen.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut, I Nyoman Suardika, mengatakan, pengerjaan masih berlangsung di empat titik sekitar jembatan, baik di sisi hulu maupun hilir.
Saat ini, fokus pekerjaan berada pada tahap penyelesaian di sisi hilir dengan pengerjaan pancang dan bore pile.
Sejauh ini bebernya, progres pekerjaan berjalan sesuai rencana, meski ada beberapa hambatan teknis. Salah satunya kondisi air sungai yang meningkat ketika banjir, yang kerap mengganggu aktivitas kapal pengangkut material di lokasi proyek.
“Kalau air banjir, kami kewalahan ngendalikan kapal LCT-nya. Air sangat deras, ditambah sampah berupa batang pohon dan ranting,” ujarnya diwawancara kemarin (11/11).
Meski begitu, ia memastikan faktor pasang surut akibat air laut sudah diperhitungkan sejak awal dan memiliki metode penanganan tersendiri agar tidak menghambat pekerjaan.
Nyoman menegaskan, tim di lapangan tetap berupaya maksimal agar proyek pengaman jembatan dapat rampung sesuai jadwal. “Kami terus berusaha, dan optimisme bisa selesai di akhir tahun ini,” pungkasnya.
Pembangunan pengaman ini menjadi bagian penting dalam upaya menjaga ketahanan struktur Jembatan Sambaliung, yang menjadi akses vital penghubung wilayah Tanjung Redeb dan Sambaliung.
Dengan adanya bangunan pengaman tambahan, diharapkan arus transportasi masyarakat dan distribusi logistik di Berau dapat lebih lancar dan aman, terutama saat debit air Sungai Kelay meningkat pada musim hujan.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (DPUPR-Pera) Kaltim mulai melaksanakan pembangunan fender di Jembatan Sambaliung.
Proyek ini ditujukan untuk memberikan perlindungan tambahan pada struktur jembatan yang usianya sudah lebih dari tiga dekade.
Kabid Bina Marga DPUPR-Pera Kaltim, Haryadi, mewakili Kepala DPUPR-Pera Kaltim Aji Muhammad Fitra Firnanda, mengatakan, pembangunan fender penting untuk mengantisipasi risiko tabrakan kapal.
“Fender dibangun untuk mengamankan struktur jembatan. Kapal besar memang jarang lewat, tapi kalau ada yang menabrak kena fender dulu, tidak langsung jembatan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi Jembatan Sambaliung yang sudah berusia di atas 30 tahun menjadi salah satu alasan pembangunan ini. Fender berfungsi sebagai perisai agar tiang jembatan tetap terjaga.
“Ini bentuk perlindungan jembatan yang memang sudah cukup tua,” ujarnya.
Kontrak pembangunan fender dimulai sejak 19 Mei lalu diawali dengan pemesanan material. Proses pembangunan fisik resmi berjalan pada Agustus dan ditargetkan selesai tahun ini.
“Ada dua pilar di dua sisi jembatan yang dipasangi fender,” kata Haryadi.
Dari sisi teknis, fender menggunakan pipa baja berdiameter 1.000 milimeter. Pipa tersebut dipancang dan diberi tekanan khusus untuk memperkuat strukturnya. “Di lapangan sudah mulai proses pancang,” ungkapnya.
Adapun anggaran pembangunan fender ini mencapai Rp 34 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Kaltim. “Total anggarannya sekitar Rp 34 miliar,” tambah Haryadi.
Keberadaan fender ini diharapkan bisa memberikan rasa aman bagi masyarakat yang setiap hari melintasi jembatan, sekaligus menjaga umur konstruksi. (sen/sam)
Editor : Nurismi