Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Pesona Gua Gumantung Maratua: Spot Kano, Penyelaman, dan Lompatan Setinggi 12 Meter

Beraupost • Selasa, 11 November 2025 | 15:01 WIB
PESONA ALAM: Perpaduan antara air dingin laut dan batu karang, menjulang tinggi yang memberi kesan sejuk, menambah keindahan pesona Gua Gumantung, Kampung Teluk Alulu, Maratua. (DAYAT/BP)
PESONA ALAM: Perpaduan antara air dingin laut dan batu karang, menjulang tinggi yang memberi kesan sejuk, menambah keindahan pesona Gua Gumantung, Kampung Teluk Alulu, Maratua. (DAYAT/BP)

Gua Gumantung di Kampung Teluk Harapan, Kecamatan Maratua, memang belum setenar Goa Halu Tabung, di Kampung Teluk Harapan, Maratua.

Gua yang baru dikenal sejak 6 bulan lalu, menjadi salah satu destinasi menarik jika datang ke salah satu pulau terluar Indonesia ini.

MAULID HIDAYAT, Maratua

Angin selatan membawa gelombang, menggoyangkan speedboat sejak di Perairan Pulau Derawan.

Namun estimasi perjalanan masih harus menempuh jarak 1 jam lagi menuju ke “surga” di ujung Berau.

Ayunan air dan embusan angin seperti nyanyian merdu. Namun mata enggan tertutup.

Menempuh perjalanan dari Dermaga Sanggam di Tanjung Redeb, menuju ke Maratua, membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. Dengan kapasitas speed 20 orang, termasuk motoris dan satu helper motoris.

Tower menjulang tinggi, tandanya kurang lebih 15 menit lagi tiba di dermaga Kampung Teluk Harapan.

Dermaga yang setiap harinya penuh aktivitas penumpang, baik datang maupun pergi dari salah satu pulau yang berbatasan langsung dengan Filipina ini.

Hamparan pasir putih dan lambaian daun kelapa menyambut siapapun yang datang. Jejeran UMKM tersusun rapi di sepanjang jalan.

Begitu juga dengan masyarakat yang memanfaatkan rumah mereka, untuk dijadikan penginapan.

Dengan harga rata-rata Rp 350 ribu per hari. Senyum hangat penduduk Maratua terlihat tulus.

“Ada gua baru di Maratua. Baru 6 bulan berjalan,” ujar Arif, salah satu warga Maratua memulai percakapan di salah satu stand UMKM yang ada.

Dengan kopi hitam di meja, ia terus melanjutkan ceritanya. Gua-nya unik. Jalurnya bagus. Coba saja ke sana.“Di Kampung Teluk Harapan situ, dekat saja,” lanjutnya.

Ucapan warga tersebut, ternyata bukan hanya isapan jempol. Menempuh perjalanan dengan sepeda motor membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit.

Sebuah gapura besar menyambut, dengan tulisan, selamat datang di Gua Gumantung, Kampung Teluk Harapan.

Di depan ada dua orang penjaga loket. Usai membayar sejumlah rupiah ke penjaga loket, tangga panjang terbuat dari ulin siap menemani perjalanan menuju spot gua.

Ternyata spot tersebut tidak hanya diisi kayu ulin. Namun juga ada jalan semenisasi, berkelok-kelok, dengan panjang rute mencapai 470 meter.

Di sebelah kiri jalur, dimanjakan dengan pemandangan hutan dengan pohon-pohon besar,

sementara di kanan, dinding batu karang dengan ketinggian di atas 10 meter terhampar luas. Di bawahnya air mengalir jernih. Beberapa wisatawan tampak mengayuh kano yang mereka sewa.

Ada juga pengunjung yang melakukan penyelaman. Untuk kedalaman air di titik terendah mencapai 15 meter sedangkan terdalam menembus angka 30 meter.

Terdapat 2 kamar mandi dan 1 kamar ganti, untuk pengunjung usai berenang. Selain itu, ada satu pendopo yang bisa digunakan untuk beristirahat. Sekitar 5 meter dari pendopo, ada anak tangga menuju ke spot kano.

“Sudah lama masyarakat tahu, tapi baru mulai dimanfaatkan untuk komersial pada April 2025 lalu,” ujar Doni, selaku pengelola Gua Gumantung.

Sebelum dibangun rute, jalur menuju ke lokasi bisa tembus waktu 4 jam. Namun saat ini bisa ditempuh hanya 20 menit dari pos loket.

Jalur ekstrem dan juga banyaknya batu karang, membuat akses jalan sulit untuk dibuka. Selain itu, Doni menolak keras pengunaan alat berat untuk membuka jalur.

Ia memilih cara manual, guna menghindari kerusakan alam. Ia khawatir, jika alat berat masuk. Banyak anak gua yang tertutup akibat tumpuan berat.

Dan untuk membuka jalur secara manual. Doni mengaku membutuhkan waktu 1 tahun.

Untuk yang memiliki nyali besar, bisa melompat dari ketinggian 12 meter yang dipersiapkan pengelola, dengan hamparan air laut yang dingin.

Namun jika tidak memiliki nyali, sebaiknya memanfaatkan jalur umum yang juga sudah dipersiapkan.

“Ada tiga sebenarnya, dua sudah bisa dibuka untuk umum. Namun satu masih diupayakan untuk jalur masuk,” tuturnya.

Selain Gua Gumantung, di jalur yang sama terdapat Gua Kehe Tanak-Tanak dan Gua Kehe Kuba.

Menurut Doni, kehe merupakan bahasa Bajau yang berarti lubang, sedangkan tanak-tanak berarti tanah. Makna dari kuba yakni cangkang siput.

Hal ini didasari karena Gua Kehe Kuba mirip dengan cangkang siput. Namun ia menegaskan, untuk masuk ke dalam Gua Kehe Kuba masih belum boleh, karena untuk masuk ke dalam mencapai 20 meter dan kondisinya gelap.

Sedangkan untuk Gua Kehe Tanak-Tanak, masih dalam proses pengerjaan.

“Kalau untuk foto-foto boleh, silahkan saja di depannya (Gua Tehe Kuba,red),” ungkapnya.

Selain spot jalan kaki, jalur kano sepanjang 95 meter siap memanjakan mata siapapun. Mencoba mengarungi bawah Gua Gumantung, dengan gemerisik suara daun bergesek sebagai nyanyian alam.

Diungkapkan Doni, selama proses pembuatan, dirinya sudah menghabiskan ratusan juta. Dengan tujuan membantu UMKM dan mengenalkan Maratua secara luas kepada dunia.

“Ini soal kepuasan batin. Saya senang jika gua ini dikenal, masyarakat terbantu, begitu juga Maratua, akan semakin padat pengunjungnya,” ucapnya terkekeh.

Pengelolaan yang tepat sasaran dibuktikan Doni dengan tidak mau melihat alat berat berada di jalur itu.

Selain itu, ia benar-benar menjaga keasrian tempat tersebut, ke depan, selain bisa melalui jalur darat dari Teluk Harapan, pengunjung juga bisa menggunakan speedboat dari dermaga yang akan dibangun.

“Saat ini masih dalam proses pembuatan jembatan,” katanya.

Memang Gua Gumantung belum terkenal seperti seniornya Gua Halo Tabung, namun hal ini menunjukkan Maratua masih menyimpan banyak potensi wisata.

Bukan hanya bawah lautnya tapi bagian darat siap menjadi destinasi andalan. Promosi sendiri, menurut Doni, masih sebatas media sosial dan juga mulut ke mulut. Namun dalam 6 bulan perjalanan, pengunjung sudah mencapai seribu lebih.

“Perlahan, semoga dengan adanya gua ini memberikan manfaat untuk semua orang,” tambahnya.

Salah satu pengunjung, Irfan, baru selesai melakukan penyelaman, dengan wetsuit serta tabung oksigen dan kaca mata renang masih menempel di badan.

Ia mengacungi jempol keindahan bawah laut Gua Gumantung. Selain dingin, air di lokasi tersebut juga tidak memiliki arus.Namun ia tidak menyarankan untuk menyelam terlalu dalam.

“Sebaiknya jangan terlalu dalam, karena visitor terbatas juga,” tuturnya.

Tapi secara umum, Irfan mengakui keindahan gua tersebut. Ia berharap pengelolaan terus ditingkatkan, guna menambah devisa pengunjung, baik setiap akhir pekan maupun hari-hari biasa.

Apalagi akses menuju ke Maratua saat ini, selain lewat laut, sudah bisa dilalui via udara. (sam)

Editor : Nurismi
#Gua Gumantung Maratua #pariwisata #Kabupaten Berau