BERAU POST – Kualitas kakao asal Kabupaten Berau kembali mendapat pengakuan dunia. Salah satu merek cokelat kenamaan asal Prancis, Valrhona, memastikan minatnya untuk menjadikan kakao Berau sebagai bahan baku utama produksi cokelat premium mereka.
Kunjungan langsung tim manajemen Procurement Valrhona ke Berau, menjadi bukti keseriusan kerja sama jangka panjang dengan PT Kakao Asli Sejahtera (KAS), mitra lokal yang telah lama membina petani kakao di Bumi Batiwakkal.
Perwakilan Valrhona, Sansie Castan, mengungkapkan pihaknya tengah menyiapkan rencana besar untuk membangun pabrik di Indonesia, dan menjadikan Berau sebagai salah satu pemasok utama.
“Kami ingin mencari biji kakao dari Indonesia, dan di Berau ternyata ada potensi besar. Kami ingin bekerja sama jangka panjang dengan PT KAS,” terangnya saat berkunjung ke kediaman bupati di Jalan Albina, Tanjung Redeb, kemarin (9/11).
Ia menjelaskan bahwa kakao Berau memenuhi berbagai aspek penting untuk kebutuhan produksi global Valrhona.
Menurutnya, standar kakao yang diterapkan Valrhona sangat ketat, karena berorientasi pada pasar Eropa.
Mulai dari aspek kadar pestisida, logam berat, hingga ketentuan ketat soal deforestasi, menjadi syarat utama.
“Kakao di Berau itu lolos. Kami tidak bisa menerima kakao dari kebun hasil deforestasi. Dua hal penting bagi kami adalah lingkungan dan kualitas aromanya,” ujarnya.
Dia menyebut, pengujian terhadap berbagai jenis kakao di Indonesia sudah dilakukan, namun tidak semua daerah mampu memenuhi standar tersebut. Hanya produsen tertentu yang lolos, dan satu di antaranya adalah dari Berau.
“Sejauh ini kakao Berau lolos uji aroma dan mutu. Kami akan mulai membeli tahun ini sebanyak 12 ton, dan ke depan jumlahnya akan ditingkatkan,” lanjutnya.
Sansie menambahkan, langkah ini bukan hanya tentang bisnis. Tetapi juga bentuk kontribusi untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dengan menggandeng produsen seperti PT KAS dan petani Berau, Valrhona berharap rantai pasok cokelat mereka semakin transparan, etis, dan berkelanjutan.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menyambut baik kedatangan perwakilan Valrhona dan menyebutnya sebagai langkah besar untuk memperkuat posisi Berau di pasar global.
Berau juga saat ini sudah mengekspor cokelat hingga 154 ton setiap tahun. Sehingga kerja sama dengan Valrhona, akan membuka peluang ekspor yang lebih luas.
“Mereka sangat berminat dengan cokelat Berau karena tahu potensi dan orisinalitasnya,” ujarnya.
Menurutnya, Pemkab Berau juga menyiapkan langkah strategis agar produksi kakao lokal semakin berkualitas.
Dinas terkait akan memperketat pengawasan standar mutu dan mengoptimalkan lahan tidur untuk peningkatan produksi.
“Kita akan tetap memperhatikan standar internasional, seperti yang digunakan oleh Valrhona,” pungkasnya.
Di sisi lain, Ketua Dekranasda Berau, Edy Suswanto, menilai bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat posisi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif lokal.
“Core bisnis kami ada dua, ekonomi kreatif dan UMKM. Nah, di kakao ini kita ambil bagian agar bisa bersaing kuat,” ujarnya.
Edy menjelaskan, Dekranasda bersama pemangku kepentingan, berupaya meningkatkan kemampuan petani dan produsen kakao lokal, agar hasilnya sesuai standar internasional.
Salah satu caranya dengan menghadirkan ahli kakao untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada para pelaku di lapangan.
“Kita harus menggandeng ekspert agar petani bisa produksi sesuai keinginan pasar. Karena pasar internasional itu ketat, dan kita harus siap,” sambungnya.
Ia berharap kerja sama antara Valrhona dan PT KAS akan menjadi jembatan bagi kakao Berau untuk menembus pasar premium dunia, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.
“Kalau produksi lokal bisa memenuhi standar global, otomatis kesejahteraan petani juga naik,” ucapnya.
Dengan kualitas yang telah diakui, kakao Berau kini tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga simbol dari keberhasilan menggabungkan potensi alam, kerja keras petani, dan pembinaan berkelanjutan.
Kunjungan perwakilan Valrhona menjadi penanda bahwa kakao dari Berau siap bersaing di panggung cokelat dunia, membawa cita rasa tropis dari Kalimantan Timur menuju meja pencinta cokelat di Eropa. (sen/sam)
Editor : Nurismi