Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Kisah Bu Maylana dan Perempuan Poliponik Rosella di Ring 1 Pertamina Sangasanga, Menumbuhkan Harapan dari Butir Air Hujan

Beraupost • Selasa, 4 November 2025 | 15:35 WIB
SEMANGAT: Ibu-ibu anggota kelompok wanita tani dari Kelurahan Sarijaya ini akan rutin memeriksa kondisi tanaman hidroponik agar hasil panennya lebih maksimal. (ENDRO S. EFENDI/BP)
SEMANGAT: Ibu-ibu anggota kelompok wanita tani dari Kelurahan Sarijaya ini akan rutin memeriksa kondisi tanaman hidroponik agar hasil panennya lebih maksimal. (ENDRO S. EFENDI/BP)

Senin (20/10) pagi itu di Kelurahan Sarijaya, Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara, terasa sejuk setelah hujan semalam.

Di sebuah lahan kecil seluas 0,014 hektare, di balik rumah sederhana RT 7, deretan pipa paralon putih berjajar rapi di bawah atap plastik bening.

Endro S. Efendi, Kutai Kartanegara

Dari lubang-lubang kecilnya tumbuh hijau daun selada dan sawi pokcoy yang segar. Di sinilah Maylana (48), seorang ibu empat anak menghabiskan waktunya setiap pagi.

“Dulu saya sibuk mencangkul, hasilnya sering gagal panen karena tanah tergenang. Sekarang, cukup cek nutrisi air dan jaga suhu. Tanamannya malah tumbuh lebih cepat,” bebernya.

Maylana bukan hanya Ketua RT 7, tetapi juga ketua kelompok wanita tani Poliponik Rosella. Sejak suaminya almarhum Adam, yang dulu menjabat Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) di Sarijaya meninggal setahun lalu, ia sempat kehilangan arah.

Namun warga mempercayakan jabatan RT kepadanya, dan dari situ ia menemukan kembali semangat hidup — lewat pertanian hidroponik.

Kelurahan Sarijaya memang menghadapi banyak keterbatasan: lahan produktif semakin sedikit, banyak area sudah ditambang, tanahnya tidak subur, dan sering tergenang banjir saat sungai meluap.

“Dulu kami sering gagal panen. Tanah bedengan tenggelam, tanaman busuk. Kangkung, timun, terong, semua gagal,” kenangnya.

Kini, berkat program Poliponik — Program Lingkungan Hidroponik hasil kolaborasi warga dengan Pertamina EP Sangasanga Field, halaman rumah pun bisa menjadi sumber kehidupan baru.

Program ini mulai berjalan pada Oktober 2024, berawal dari diskusi warga bersama tim Community Involvement & Development (CID) Pertamina EP Sangasanga.

Mereka melakukan kaji banding ke Kelurahan Jawa, Sangasanga, Kutai Kartanegara mempelajari sistem hidroponik, lalu mendirikan greenhouse skala komunitas.

Pertamina memberikan bantuan sarana senilai Rp 100 juta, termasuk greenhouse berisi 1.960 lubang tanam, lima meja tanam, dan empat meja pipa permanen, serta satu meja lepas-pasang.

Mereka juga menghadirkan pihak ketiga yang ahli di bidang hidroponik untuk melatih kelompok.

Namun, yang membuat kelompok ini berbeda adalah inovasi lokal mereka sendiri. Poliponik Rosella mengembangkan sistem “Rosella Rainsaver”, yakni memanfaatkan air hujan yang ditampung di tandon, menggantikan air PDAM yang mahal dan terbatas.

“Hemat biaya, dan kualitas air hujan lebih baik untuk tanaman,” jelas Maylana.

Kelompok yang dipimpin Maylana ini terdiri dari 19 anggota perempuan. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok kecil, dengan jadwal bergantian merawat tanaman setiap pagi dan sore — tanpa hari libur.

“Kalau ada yang berhalangan, gantian. Karena tanaman tidak bisa menunggu,” ujar Sri Wahyuni (35), salah satu anggota yang juga istri pekerja tambang.

Dari setiap masa tanam selama lima minggu, kelompok ini bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per panen. Hasil penjualan dibagi rata setelah disisihkan untuk kas dan biaya operasional.

“Setidaknya tiap orang bisa bawa pulang hampir dua ratus ribu rupiah,” kata Sri. “Tapi yang paling penting, kami senang. Ngumpul, merawat tanaman, jadi healing ketimbang stres di rumah," sambungnya.

Maylana menambahkan, sebagian hasil panen juga dijual ke para siswa sekolah dan mahasiswa dari berbagai universitas yang sering datang berkunjung.

“Banyak mahasiswa datang belajar hidroponik. Kami senang bisa berbagi ilmu,” ujarnya bangga.

Program ini dibina tim Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina EP Sangasanga Field, yang termasuk dalam Zona 9 Regional Kalimantan Subholding Upstream Pertamina Hulu Indonesia (PHI).

Mereka mendampingi kelompok selama lima tahun agar mandiri secara infrastruktur, kapasitas, dan ekonomi.

Annisa Salsabilla, Head of Communication Relations and Community Involvement Development (CID) Zona 9, menjelaskan bahwa program ini adalah bagian dari komitmen Pertamina terhadap masyarakat ring 1.

“Pertamina tidak hanya hadir sebagai industri energi, tapi juga sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Melalui Green House Poliponik Rosella, kami ingin perempuan di sekitar wilayah operasi punya peluang ekonomi baru,” ujar Annisa.

Sementara, Sarah Dea Pratiwi, Community Development Officer Pertamina EP Sangasanga, menambahkan bahwa semangat kelompok ini sangat luar biasa.

“Setiap pagi dan sore, saya pantau melalui grup WhatsApp, mereka update kondisi tanaman. Komitmen mereka tinggi sekali. Kami bahkan berencana mengajak mereka studi tiru ke lokasi hidroponik yang lebih besar, termasuk pengembangan buah dan inovasi produk olahan sayur,” katanya.

Inisiatif ini mendapat dukungan positif dari Rumiris Sihombing, Kasi Kesejahteraan Sosial Kelurahan Sarijaya. Menurutnya, program ini memberikan dampak sosial nyata di masyarakat.

“Ibu-ibu jadi punya kegiatan positif, menularkan semangat untuk kelompok lain. Dari lima KWT di kelurahan kami, hanya Poliponik Rosella yang konsisten aktif,” ujarnya.

Rumiris juga kebetulan sedang berada di lokasi, membeli hasil panen anggota kelompok ini. Ia membeli untuk kebutuhan sendiri. Sayurnya organik dan lebih segar, dan tentu saja harganya hemat di kantong.

Pihak kelurahan, menurutnya turut membantu dalam monitoring dan menyiapkan kelompok ini untuk mengikuti lomba KWT tingkat kecamatan hingga provinsi.

Dukungan juga datang dari Akhmed Reza Fachlevi, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Timur, yang salah satunya membidangi energi dan sumber mineral.

“Program Pertamina seperti ini membuktikan bahwa perusahaan energi tidak hanya fokus pada eksplorasi, tapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat sekitar. Ini bentuk tanggung jawab sosial yang berkelanjutan,” katanya.

Apresiasi atas program ini juga diberikan dari kalangan akademisi.

Marliana Wahyuningrum, Ketua Ikatan Pengembang Kepribadian Indonesia (Ipprisia) Kaltim, sekaligus dosen Universitas Mulawarman Samarinda. Ia menyebut Poliponik Rosella sebagai wujud nyata ketangguhan perempuan.

“Para perempuan ini belajar dari kehilangan dan keterbatasan. Mereka membuktikan bahwa kekuatan perempuan bukan hanya di dapur, tapi juga di ruang publik. Hidroponik menjadi simbol ketangguhan dan kemandirian,” ungkapnya.

Menurut Marliana, inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 5 (Kesetaraan Gender) dan poin 8 (Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi).

Hari itu, Maylana menatap kembali deretan sayuran hijau di bawah sinar matahari yang menembus atap plastik.

Ia tersenyum. Dulu, tangan yang lelah mencangkul kini hanya perlu memeriksa nutrisi air dan mencatat hasil panen.

“Kalau dulu saya sibuk bertahan hidup, sekarang saya belajar untuk hidup lebih baik,” katanya lembut.

Di balik butiran air hujan yang jatuh di tandon, tersimpan kisah perjuangan perempuan yang menolak menyerah.

Dari lahan sempit di samping rumahnya, di ring 1 operasi migas, tumbuh harapan baru — bahwa energi sejati bukan hanya yang keluar dari perut bumi, tetapi yang lahir dari hati manusia yang tak kenal menyerah. (*/sam)

 

• Nama program: Poliponik (Program Lingkungan Hidroponik)
• Nama kelompok: KWT Rosella
• Lokasi: RT 7, Kelurahan Sarijaya, Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara
• Luas lahan: 0,014 hektare
• Jumlah anggota: 19 orang
• Jumlah lubang tanam: 1.960
• Bantuan Pertamina: Sarana dan prasarana senilai Rp100 juta
• Pendapatan: Rp2–3 juta per panen (5 minggu sekali)
• Sistem air: Rosella Rainsaver – memanfaatkan air hujan
• Energi: Akan dikembangkan dengan solar panel
• Pendampingan: 5 tahun (2024–2029)

Editor : Nurismi
#pertamina #hidroponik