BERAU POST – Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau melatih 15 orang untuk membuat sarung tenun yang berlangsung selama sepuluh hari, mulai 3-12 November, di Rumah Tenun Sukan Tengah.
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, mengatakan, pelatihan ini merupakan bentuk dukungan pemerintah daerah bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Berau, untuk mendorong lahirnya sarung khas Berau.
Nantinya dapat menjadi identitas sekaligus pilihan oleh-oleh khas daerah, sebagaimana sarung Samarinda yang sudah lebih dulu dikenal luas.
“Kami menginginkan agar Berau juga memiliki produk sarung yang memiliki ciri khas tersendiri, baik dari segi motif maupun teknik pembuatannya. Karena itu, kami mengangkat tematik sarung Berau agar ke depan bisa menjadi ikon baru kerajinan daerah,” ungkap Eva.
Lanjutnya, peserta yang mengikuti pelatihan ini merupakan pengrajin tenun yang telah memiliki dasar keterampilan menenun.
Dengan begitu, mereka bisa lebih cepat memahami materi lanjutan, khususnya terkait spesifikasi dan teknik pembuatan sarung.
Selama ini, pelatihan yang digelar umumnya berfokus pada pembuatan kain untuk pakaian, sementara pelatihan khusus sarung belum pernah dilaksanakan.
Apalagi tenun di Berau sebenarnya sudah berkembang cukup lama, tetapi belum ada pelatihan yang secara khusus mengarahkan pada produk sarung.
Melalui kegiatan itu, pihaknya ingin memperluas kemampuan para pengrajin agar tidak hanya membuat kain biasa, tetapi juga mampu menghasilkan sarung yang siap bersaing di pasaran.
Dalam pelatihan kali ini, Diskoperindag menghadirkan instruktur dari Jepara, sesuai rekomendasi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jepara.
Instruktur tersebut diharapkan dapat berbagi pengalaman tentang pengembangan produk tenun yang memiliki nilai jual tinggi dan daya saing di pasar lokal maupun nasional.
“Instrukturnya didatangkan dari Jepara sesuai dengan rekomendasi dari Disperindag Kabupaten Jepara,” sebutnya.
Pihaknya akan terus melakukan pendampingan bagi para pengrajin tenun di Berau agar kualitas dan daya saing produk mereka semakin kuat.
Ia juga berharap pelatihan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi menjadi langkah awal bagi tumbuhnya industri kreatif berbasis kearifan lokal.
“Dengan keterampilan yang semakin baik, kami yakin pengrajin Berau bisa menghasilkan produk yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi tinggi,” paparnya.
“Harapannya, sarung tenun khas Berau ini bisa segera hadir dan menjadi kebanggaan masyarakat kita sendiri,” tutupnya.
Sementara Wakil Bupati Berau, Gamalis, menegaskan, Pemkab Berau berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan Sentra Tenun Sukan Tengah sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis budaya.
Sentra tenun ini katanya bukan sekadar simbol, tapi harus menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
"Pemerintah daerah melalui Diskoperindag tetap akan menyediakan pelatihan, dan membangun kemitraan dengan pihak swasta untuk menjamin keberlanjutan program ini,” tegasnya.
Ia menyadari pentingnya memasarkan produk wastra lokal agar semakin dikenal masyarakat luas.
Salah satu bentuk nyatanya adalah dengan mengimbau seluruh pegawai di lingkungan Pemkab Berau memakai produk lokal, sehingga membantu memperluas jangkauan pasarnya.
“Kita harus bangga dan ikut mempromosikan karya pengrajin kita sendiri,” katanya. (aja/sam)
Editor : Nurismi