Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Pendidikan Karakter Tak Cukup di Sekolah, Wabup Berau Tekankan Peran Penting Keluarga Cegah Bullying

Beraupost • Senin, 3 November 2025 | 15:37 WIB
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (IZZA/BP)
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (IZZA/BP)

BERAU POST – Wakil Bupati Berau, Gamalis, meminta seluruh sekolah di Kabupaten Berau lebih aktif mencegah praktik perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan.

Ia menilai, upaya menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman tidak bisa hanya dibebankan kepada guru, tetapi juga membutuhkan dukungan murid, orangtua, dan masyarakat sekitar.

Ditegaskannya, sinergi antara semua pihak menjadi kunci dalam menekan potensi terjadinya perundungan di sekolah.

Menurutnya, pendidikan karakter harus dibangun sejak dini melalui kebiasaan saling menghormati dan peduli terhadap sesama.

“Kerja sama antara pengajar, murid, dan lingkungan harus terus dilakukan. Semua harus peduli. Kalau ada tanda-tanda bullying, segera ditangani bersama,” ujarnya belum lama ini.

Pencegahan juga bebernya tidak cukup hanya dengan aturan tertulis atau sanksi, tetapi juga perlu pendekatan yang membangun kesadaran.

Karena itu, guru diharapkan tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga pembimbing yang mampu menjadi teladan bagi murid dalam berperilaku.

“Guru punya peran penting untuk memberi contoh dan mengawasi perilaku murid di lingkungan sekolah,” katanya.

Selain itu, penting juga peran orangtua dalam mendampingi anak di rumah. Menurutnya, pendidikan karakter tidak berhenti di sekolah saja.

Nilai-nilai sopan santun dan empati harus terus ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, agar anak terbiasa menghargai perbedaan.

“Lingkungan keluarga juga harus ikut terlibat. Pendidikan karakter tidak berhenti di sekolah saja,” tegasnya.

Gamalis juga menyampaikan pesan kepada para siswa agar menjauhi perilaku perundungan terhadap teman sebayanya.

Ia mengingatkan, tindakan bullying dapat menimbulkan dampak serius bagi korban, mulai dari hilangnya semangat belajar hingga terganggunya kesehatan mental.

“Kami mengimbau murid yang suka mem-bully untuk berhenti, gunakan waktu untuk hal yang bermanfaat bagi masa depan,” ucapnya.

Gamalis menegaskan, sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi seluruh peserta didik untuk tumbuh dan berkembang.

Karena itu, setiap laporan terkait perundungan di lingkungan pendidikan harus segera ditindaklanjuti agar tidak berlarut-larut dan menimbulkan trauma bagi korban.

“Sekolah harus jadi tempat yang aman untuk tumbuh dan belajar,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Berau juga ditekankannya, akan terus mendukung langkah pencegahan melalui berbagai kegiatan pembinaan dan sosialisasi di satuan pendidikan.

Pemerintah juga mendorong agar program konseling dan kampanye “Stop Bullying” terus diperluas di setiap sekolah.

“Kami ingin lingkungan belajar di Berau benar-benar kondusif dan ramah anak,” ujarnya.

Di sisi lain dirinya juga mengapresiasi sekolah-sekolah yang sudah menjalankan program pencegahan perundungan dengan berbagai kegiatan positif.

Seperti konseling rutin dan penguatan nilai karakter. Ia berharap langkah itu dapat menjadi contoh bagi sekolah lain.

“Kalau semua pihak kompak, saya yakin bullying bisa ditekan,” tegasnya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau terus meningkatkan upaya pencegahan kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan. Melalui seminar bertema bullying yang digelar Kamis (30/10).

Dinkes Berau berupaya menanamkan kesadaran kepada pelajar agar memahami dampak serius dari tindakan perundungan, serta mendorong mereka untuk saling menghargai dan tidak mengejek teman sebaya.

Sub Koordinator Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa Dinkes Berau, Nurhayati, menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kesehatan jiwa masyarakat, dengan sasaran utama pelajar tingkat SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.

Edukasi tentang bullying ini penting dilakukan sejak dini agar anak-anak memahami bentuk dan dampaknya terhadap kesehatan mental.

“Seminar ini menjelaskan tentang apa itu bullying, bagaimana cara mencegah dan mengatasinya, serta mengenali gejala-gejala yang muncul pada korban,” ujarnya.

Lanjutnya, tahun depan pihaknya juga berencana memperluas sasaran ke jenjang sekolah dasar (SD), apabila tersedia anggaran untuk kegiatan tersebut.

Tujuan utama tentunya agar seluruh pelajar di Berau dapat memahami arti penting menghargai sesama dan tidak melakukan tindakan perundungan dalam bentuk apapun.

Ia berharap, melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi seperti ini, siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang saling menyayangi, bukan saling mengejek atau mengolok-olok.

Disebutnya, bentuk perundungan di lingkungan pendidikan bisa terjadi dalam berbagai cara, mulai dari bullying fisik, bullying sosial, hingga bullying verbal. Ketiganya sama-sama dapat menimbulkan luka psikologis mendalam jika tidak segera diatasi.

“Kalau tidak ditangani, dampaknya bisa berlanjut hingga menyebabkan gangguan jiwa,” jelasnya.

Dinkes Berau dalam hal yang ini memiliki program awal berupa seminar mengenai bullying yang menghadirkan narasumber dari kalangan psikolog dan psikiater.

Selain itu, selama tiga tahun terakhir, pihaknya juga aktif melakukan penyuluhan ke sejumlah sekolah dasar di Berau untuk menanamkan pemahaman sejak dini mengenai pentingnya kesehatan mental dan empati terhadap sesama. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#peserta didik #sekolah #pendidikan karakter #bullying