BERAU POST – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau kembali menerima kunjungan Utusan Khusus Presiden Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito, dalam rapat kerja dan paparan kegiatan di Ruang Sangalaki, Sekretariat Kabupaten Berau, Jumat (31/10).
Pertemuan itu membahas kelanjutan kerja sama pengembangan ekonomi biru atau blue economy project yang sudah dijalankan sejak beberapa tahun terakhir.
Bupati Berau, Sri Juniarsih, menyambut langsung kunjungan tersebut. Bupati mengapresiasi perhatian yang diberikan Pemerintah Seychelles terhadap Berau.
Menurutnya, kerja sama ini menjadi langkah penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di wilayah pesisir.
“Ini merupakan lanjutan dari pengembangan blue economy project. Kami berharap geliat ekonomi yang berkelanjutan terus tumbuh di Berau,” ujarnya Jumat (31/10).
Ia menjelaskan, Berau kini menjadi salah satu mitra strategis Ibu Kota Nusantara (IKN), terutama dalam sektor pariwisata.
Potensi wisata bahari, budaya, dan alam yang dimiliki Berau khususnya di Pulau Maratua, menjadi daya tarik tersendiri.
“Berau memang di ujung Kalimantan Timur, tapi punya keindahan luar biasa. Sekarang akses udara juga mulai meningkat, ada AirAsia, Batik Air, Sriwijaya, dan Super Air Jet yang melayani penerbangan ke sini,” katanya.
Dalam pertemuan itu, kehadiran Utusan Khusus Presiden Seychelles untuk ASEAN difokuskan untuk membahas penguatan konsep blue natural capital serta membuka peluang percepatan ekspor produk industri kreatif menengah (IKM) dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) melalui Seychelles ke pasar yang lebih luas.
Ia menegaskan, Pemkab Berau berkomitmen mendukung ekonomi biru dengan mengembangkan ekonomi lokal. Salah satunya melalui pelatihan dan penyediaan fasilitas kredit lunak bagi pelaku UMKM.
Ia berharap kerja sama ini tidak hanya berhenti pada tataran wacana, tetapi dapat diwujudkan melalui langkah nyata yang menyentuh masyarakat.
“Potensi ekonomi biru di Berau bukan hanya di Maratua, tapi juga di Bidukbiduk dan wilayah kepulauan lainnya. Semua masih sangat alami dan perlu diperkenalkan ke dunia. Kami berharap ada kerja sama yang berkelanjutan yang bisa mengangkat ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Selain potensi pariwisata, Sri juga menyinggung produk lokal yang sudah menembus pasar internasional. Salah satunya cokelat Berau yang kini telah dipasarkan ke Swiss, Belanda, Belgia, dan Jerman.
“Tidak ada salahnya jika kita mendapat pendampingan untuk mengolah cokelat dengan cita rasa internasional,” katanya.
Ia juga menambahkan, berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, Berau telah ditetapkan sebagai lokasi prioritas program nasional di sektor pariwisata, yakni Pulau Derawan. Hal ini menjadi tantangan, sekaligus peluang besar bagi daerah untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan dan pariwisata.
“Kita ingin hutan tetap hijau, laut tetap biru, dan masyarakat sejahtera,” tegasnya.
Sementara Utusan Khusus Presiden Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito, menjelaskan, kerja sama dengan Berau sudah dimulai sejak sebelum masa pandemi Covid-19. Saat itu, proyek percontohan ekonomi biru digagas bersama mantan Gubernur Kaltim, Isran Noor, dan Presiden Seychelles.
“Selama dua tahun setelahnya sudah dilakukan pemetaan potensi. Tapi banyak yang belum memahami konsep ekonomi biru ini. Karena itu kami terus melakukan pelatihan dan sosialisasi,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan ekonomi biru tidak hanya soal pariwisata, tetapi juga mencakup pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Ia menilai, pembangunan sektor wisata di Berau sudah menunjukkan kemajuan, terutama di Maratua. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan agar tidak berlebihan dalam membangun.
“Kalau skala kecil tapi punya nilai tambah, itu justru lebih baik. Karena yang terbatas itu akan punya nilai lebih. Masalah yang sering terjadi di Indonesia, keindahan alamnya cepat rusak karena tidak dijaga,” ujarnya.
Untuk itu, Ia juga menekankan pengelolaan pariwisata harus berbasis pada kearifan lokal. Setiap hotel dan pengelola wisata perlu memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar, termasuk penyediaan tempat tinggal layak bagi pekerjanya.
"Masyarakat jangan dinomor duakan. Pengembangan ekonomi pariwisata harus berasaskan kearifan lokal," tegasnya.
Lebih lanjut, Nico menjelaskan ada tiga fokus utama pengembangan ekonomi biru di Berau. Pertama, peningkatan pendidikan wisata komunitas, di mana pihaknya telah memiliki kerja sama dengan Institut Pariwisata Trisakti. Kedua, pembangunan kampung nelayan modern yang direncanakan mulai dicanangkan tahun depan.
“Kita ingin bangun kampung nelayan modern lengkap dengan cold storage dan fasilitas penunjang lainnya. Tapi sebelumnya harus didata dulu nelayannya. Kalau tidak ada, bisa bekerja sama dengan nelayan dari Jawa untuk menjadi partner kita. Semua harus dilakukan secara terukur dan sesuai standar,” jelasnya.
Fokus ketiga adalah pengembangan tambak udang organik, yang sekaligus dapat menumbuhkan kepiting lumpur bernilai jual tinggi. “Pembeli dari Seychelles banyak yang tertarik. Kalau ini dikembangkan, hasilnya bisa dipasarkan sampai ke luar negeri,” tambahnya.
Ia menegaskan, pengembangan ekonomi biru di Berau harus menjadi contoh nasional. Sebab, konsep ini bukan hanya bicara ekonomi, tapi juga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Dalam pengembangan ekonomi biru di Maratua itu satu konsep saja, yakni eco marine tourism yang memadukan budaya lokal dan biodiversity,” tutupnya. (aja/sam)