Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Penyelam Belum Lisensi Dive Master, BPBD Berau Akui Keterbatasan SDM Hambat Evakuasi Kapal Karam Talisayan

Beraupost • Rabu, 29 Oktober 2025 | 13:20 WIB
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat

BERAU POST — Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan peralatan kembali menjadi sorotan dalam penanganan insiden kecelakaan laut di Kabupaten Berau.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengaku pemerintah daerah masih belum sepenuhnya siap menghadapi kondisi darurat di wilayah perairan dalam.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat.

Ia menyebut, proses evakuasi kapal yang karam di kedalaman sekitar 46 meter yang terjadi beberapa waktu lalu terhambat akibat keterbatasan personel penyelam bersertifikat tinggi.

“Diver yang dimiliki Pemkab Berau saat ini hanya berlisensi advance diver, belum ada yang berstatus dive master. Padahal, di kedalaman seperti itu hanya penyelam dengan lisensi dive master yang boleh turun dengan aman dan sesuai prosedur profesional,” ujarnya kepada awak media kemarin (28/10).

Menurutnya, kondisi itu membuat ruang gerak tim penyelamat menjadi terbatas. Dalam kasus di Talisayan, BPBD bahkan harus mencari bantuan dari luar daerah untuk mendatangkan penyelam professional untuk membantu dalam melakukan pencarian korban.

“Risikonya tinggi. Arus kuat, jarak pandang terbatas, dan di sekitar kapal ada jaring. Tanpa dive master, kami tidak bisa memaksakan untuk turun, karena nyawanya juga taruhannya,” tegasnya.

Tak hanya itu saja, menurut Nofian, kendala lain yang saat ini dihadapi di lapangan yaitu ketiadaan fasilitas ruang hiperbarik (chamber) alat vital untuk menangani penyelam yang mengalami dekompresi (deco sickness) akibat naik ke permukaan terlalu cepat.

“Chamber itu bukan cuma untuk penanganan dekompresi, tapi juga bermanfaat untuk kesehatan lain seperti asam urat, gangguan saraf, sampai pemulihan cedera,” sebut dia.

Saat ini, fasilitas hiperbarik terdekat hanya tersedia di Tanjung Redeb, sementara beberapa lokasi penyelaman di Berau seperti Talisayan dan kawasan pesisir selatan berjarak lebih dari dua jam perjalanan.

“Kalau penyelam mengalami deco sickness, dua jam saja bisa menyebabkan kelumpuhan, empat jam bisa berakibat fatal. Jadi waktu penanganan sangat krusial,” katanya.

Melihat kondisi itu, BPBD Berau mendorong pemerintah daerah segera meningkatkan kapasitas tanggap darurat maritim dengan menyiapkan ASN penyelam berlisensi profesional, dan menghadirkan fasilitas chamber di wilayah pesisir.

“Berau ini punya wilayah perairan luas dan aktivitas maritim yang tinggi. Sudah seharusnya pemerintah daerah punya penyelam ASN dengan lisensi rescue professional dan satu unit chamber yang bisa digunakan untuk kepentingan bersama,” sebutnya.

Adapun hingga kemarin, tim gabungan masih terus berupaya pencarian terhadap korban kecelakaan kapal KM Mina Maritim 148 yang tenggelam di perairan Talisayan.

Sebagaimana diketahui, kapal tersebut dilaporkan karam setelah diterjang ombak tinggi Minggu (26/10) siang lalu, menyebabkan sebagian awak kapal terlempar ke laut.

Dari total 14 awak kapal, delapan orang berhasil diselamatkan oleh nelayan sekitar, sementara enam lainnya masih dinyatakan hilang dan masih dalam pencarian.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Balikpapan, Dody Setiawan, menjelaskan, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) masih terus dilakukan dan menurutnya sampai saat ini pencarian pun masih belum membuahkan hasil.

“Radius pencarian pun masih akan terus diperluas hingga ratusan meter dari wilayah tanda-tanda jaring kapal milik korban,” tutupnya. (aky/sam)

Editor : Nurismi
#evakuasi #kapal karam #Talisayan #master #Lisensi #DIVE