Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Dari Jelantah Jadi Energi, Inovasi BioEcoFizz dari Sangasanga yang Menghidupkan Sumur Tua

Beraupost • Selasa, 28 Oktober 2025 | 12:50 WIB
INOVASI: Jalu menunjukkan hasil inovasinya di Sangasanga. (ENDRO S EFENDI/BERAU POST)
INOVASI: Jalu menunjukkan hasil inovasinya di Sangasanga. (ENDRO S EFENDI/BERAU POST)

Siang itu, 20 Oktober 2025 matahari di atas Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, seolah sedang menumpahkan seluruh panasnya.

Jalan utama di Sangasanga sedang diperlebar; debu beterbangan, alat berat menderu, dan derap pembangunan terasa di setiap sudut kota tua di tepi Sungai Mahakam itu.

Endro S. Efendi – Sangasanga, Kalimantan Timur

Di antara hiruk-pikuk pembangunan, berdiri sebuah bangunan kayu sederhana—Kantor Pertamina EP Field Sangasanga.

Sekilas tampak seperti bangunan cagar budaya, bukan kantor perusahaan energi nasional.

Namun, justru dari ruang kayu tua inilah lahir sebuah gagasan yang kini disebut-sebut sebagai terobosan ramah lingkungan paling inspiratif di hulu migas: BioEcoFizz.

Multivitamin Sumur Tua

Saya bersama beberapa wartawan berkunjung ke lokasi ini, didampingi Annisa Salsabilla, perwakilan dari Head Communication, Relations, and Community Involvement Development (CID) Zona 9 Pertamina EP Sangasanga.

Di ruang rapat yang bersahaja, Jalu Waskito, Ketua Tim Inovasi, sudah menunggu dengan senyum penuh percaya diri.

“Inovasi ini murni dari Sangasanga,” katanya mantap.

Bukan sekadar presentasi PowerPoint. Siang itu, Jalu juga menyiapkan demonstrasi langsung.

Dua tabung kaca berisi air diletakkannya di atas meja, sebagai simulasi sumur gas yang terendam fluida.

Ia kemudian mengangkat sebatang stik putih—panjang 33 sentimeter, diameter dua sentimeter.

“Kalau air mengendap di kolom fluida, gas nggak bisa keluar. Nah, ini solusinya,” ujarnya.

Batang itu dinamai BioEcoFizz—“multivitamin” bagi sumur tua, terbuat dari minyak jelantah yang sudah tak terpakai.

Begitu stik dimasukkan ke tabung pertama, gelembung kecil muncul dari dasar, perlahan menjadi busa putih yang menutupi permukaan air.“Reaksi ini yang bantu gas menerobos lagi,” jelas Jalu.

Untuk perbandingan, tabung kedua diberi produk impor sejenis. Hasilnya? Tak ada reaksi. Bahkan dengan tambahan bahan kimia khusus, air tetap diam.

“Yang ini bereaksi alami tanpa bahan berbahaya,” ujarnya bangga. “Bahan utamanya cuma minyak jelantah.”

Dari Dapur Gorengan

Minyak jelantah itu dikumpulkan dari para pedagang kecil, salah satunya Bu Ana, penjual gorengan di pertigaan jembatan Sangasanga, sekitar satu kilometer dari kantor Pertamina.

Ia merupakan pelaku UMKM binaan Pertamina EP Sangasanga. Setiap bulan, Bu Ana menukar 10 liter minyak jelantah dengan 3 liter minyak baru.

“Lumayan, jelantahnya nggak mubazir. Dapat minyak baru, bisa lanjut jualan,” katanya tersenyum.

Program ini bukan sekadar daur ulang limbah, tapi bentuk ekonomi sirkular energi: limbah rumah tangga kembali masuk ke rantai produksi energi nasional.

Dari minyak bekas gorengan, lahirlah solusi untuk menghidupkan sumur gas tua yang nyaris mati.

Delapan Nama di Balik BioEcoFizz

Inovasi BioEcoFizz dikembangkan sejak Juli 2024 hingga Maret 2025 oleh delapan orang pekerja lapangan:

Jalu Waskito (Ketua), Didik Setyawan (Fasilitator), M. Israr Firdaus, Roy Firman, Roy Rusmanto, Winatal Kurniady, Sukamto, dan Syafriyadi Syari.

Dari 100 liter minyak jelantah, mereka mencatat pendapatan Rp 39,5 miliar, dengan harga satu stik hanya Rp 210 ribu.

Penggunaannya cukup 1–2 kali seminggu agar sumur tetap optimal.

Teknologi ini telah membantu 10 sumur aktif masing-masing 8 sumur gas dan 2 sumur minyak dengan peningkatan produksi 181,2 MMSCF gas dan 34.747 barel minyak.

Secara total, peningkatan setara 528,21 MMSCF gas equivalent, atau naik 131 persen dari sebelumnya.

“Sumur yang dulunya seperti tak punya harapan, sekarang bisa ‘bernapas’ lagi,” kata Jalu.

Sains di Balik Busa Putih

Dari sisi akademik, inovasi ini mendapat apresiasi dari Dr. Agung Rahmadani, M.Sc,
Dosen Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Mulawarman Samarinda,
dengan bidang keahlian Kimia Organik.

“Secara teori, minyak jelantah bisa dijadikan bahan untuk membuat batang sabun. Sabun inilah yang mendegradasi minyak dan menghasilkan busa. Busa itulah yang membantu gas lebih mudah terdorong keluar dari sumur tua,” jelasnya.

Ia menambahkan, reaksi surfaktan yang terbentuk dari campuran asam lemak jelantah dan senyawa stabilizer alami mampu menurunkan tegangan permukaan air dan gas, sehingga fluida menjadi lebih ringan dan gas mudah mengalir.

“Stik BioEcoFizz ini berfungsi layaknya sabun industri khusus — stabilizer yang memecah lapisan air dan minyak agar gas kembali bisa mengalir,” tegasnya.

Menurutnya, inovasi seperti BioEcoFizz menunjukkan penerapan prinsip kimia hijau yang konkret di dunia industri migas—mengurangi limbah, memanfaatkan sumber daya terbarukan, dan sekaligus meningkatkan efisiensi energi.

Energi, Lingkungan, dan Pemberdayaan

Teknologi BioEcoFizz bukan sekadar soal efisiensi energi, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan lingkungan.

Sejak 2022, Pertamina EP Sangasanga kembali menyalurkan gas ke PLN setelah sempat berhenti pada 2018–2020 akibat tekanan gas menurun karena endapan air.

Dengan BioEcoFizz, tekanan gas kini stabil dan pasokan ke PLN kembali lancar.

Bagi pedagang seperti Bu Ana, program tukar jelantah adalah berkah. Bagi Pertamina, inovasi ini adalah bukti bahwa tanggung jawab sosial dan efisiensi hulu migas bisa berjalan beriringan.

Apresiasi dari Parlemen

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Timur, Akhmed Reza Fachlevi, yang membidangi Energi dan Sumber Daya Mineral, menyambut baik inovasi tersebut.

“BioEcoFizz bukan hanya membantu meningkatkan produksi energi, tapi juga memberi dampak sosial dan lingkungan yang positif. Kalau semua field di Kaltim punya semangat seperti tim Sangasanga, kemandirian energi daerah bisa terwujud,” ujarnya.

Ia menilai inovasi itu layak menjadi contoh nasional, sejalan dengan arah pemerintah menuju energi berkelanjutan dan pengurangan limbah berbahaya.

Busa dari Jelantah, Semangat dari Sangasanga

Bagi Jalu dan timnya, BioEcoFizz bukan sekadar inovasi teknis. Ini adalah bentuk cinta pada bumi dan tanggung jawab pada generasi mendatang.

“Dulu kami pakai bahan kimia impor yang mahal dan tidak ramah lingkungan,” kenangnya.
“Sekarang kami pakai limbah rumah tangga yang bisa disulap jadi energi. Ini masa depan energi lokal," sambung Jalu.

Dari sebuah kota tua di tepi Mahakam, semangat itu menyala—tenang namun kuat.

Seperti busa putih yang timbul dari batang kecil dalam tabung kaca, inovasi dari Sangasanga membuktikan bahwa energi tidak selalu datang dari sumur baru, tapi dari akal sehat, tangan terampil, dan niat baik yang tak pernah padam. (*/sam)

Dampak Inovasi BioEcoFizz – Pertamina EP Sangasanga

• 8 inovator muda dari lapangan
• 100 liter minyak jelantah = Rp 39,5 miliar pendapatan
• 10 sumur aktif (8 gas, 2 minyak)
• Tambahan produksi: 181,2 MMSCF gas + 34.747 bbl minyak
• Kenaikan produksi: 131%
• Harga per stik: Rp 210 ribu
• Sumber bahan baku: Minyak jelantah UMKM binaan Pertamina

Editor : Nurismi
#pertamina #minyak jelantah #inovasi