BERAU POST – Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Berau terus mendorong para petani segera membentuk kelompok tani (Poktan), guna mempermudah akses terhadap pupuk bersubsidi.
Langkah ini dinilai penting, untuk mendukung peningkatan produksi sektor tanaman pangan dan hortikultura di daerah.
Kepala DTPHP Berau, Junaidi, melalui Pejabat Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) DTPHP Berau, Bambang Sujatmiko, menjelaskan, pembentukan kelompok tani menjadi syarat utama dalam pendataan kebutuhan pupuk bersubsidi.
“Agar petani mudah mendapatkan pupuk bersubsidi, kami mendorong agar membentuk kelompok tani dan mengikuti prosedur yang ada,” ujarnya.
Bambang menyebutkan, petani yang tergabung dalam kelompok tani akan difasilitasi oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk mengisi data melalui Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan).
Setelah terdaftar, mereka dapat menyusun Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) sebagai dasar penyaluran pupuk subsidi.
“Saat ini masih bisa diakses sampai tanggal 25 Oktober untuk kebutuhan pupuk tahun 2026,” jelasnya.
Dia mengimbau para petani segera berkoordinasi dengan PPL di wilayah masing-masing, atau datang langsung ke kantor DTPHP jika PPL berhalangan.
Lebih lanjut dijelaskannya, terdapat sepuluh komoditas yang berhak menerima pupuk bersubsidi sesuai keputusan kementerian.
Untuk tanaman pangan meliputi padi, jagung, ubi kayu, dan kedelai. Sementara di sektor hortikultura ada bawang merah, bawang putih, dan cabai.
Sedangkan untuk komoditas perkebunan mencakup tebu rakyat, kakao, dan kopi.
“Datanya juga harus sinkron saat pengajuan agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.
Bambang menambahkan, masa penginputan data saat ini sangat penting untuk menentukan kuota pupuk subsidi tahun depan.
Karena itu, ia berharap para petani tidak menunda proses pendaftaran. “Kami selalu menginformasikan ke teman-teman petani agar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala Kampung Birang, Samsuri, mengungkapkan, salah satu kendala utama yang dihadapi para petani di wilayahnya adalah keterbatasan pupuk.
Ia menyebut, kebutuhan pupuk menjadi hal mendasar dalam menjaga produktivitas tanaman, terutama komoditas kakao dan hortikultura yang kini tengah dikembangkan masyarakat.
“Kendala kami masalah pupuk. Kalau tanaman kakao tidak dipupuk, hasilnya tidak maksimal,” ujarnya belum lama ini.
Menurut Samsuri, sebagian petani di Birang kesulitan mendapatkan pupuk subsidi, karena pendataan dari petugas lapangan (PPL) hanya mencakup komoditas tertentu.
Akibatnya, tanaman hortikultura seperti jagung manis dan sayur-mayur belum mendapat dukungan yang sama.
“Kalau kami amati, pupuk subsidi hanya untuk komoditas tertentu. Sedangkan yang sayur-mayur seperti jagung manis tidak dapat,” jelasnya.
Ia menilai, kondisi ini membuat petani kesulitan untuk terus produktif, padahal sebagian besar masyarakat menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian.
Tanpa adanya ketersediaan pupuk yang terjangkau, pengembangan tanaman tumpang sari seperti jagung dan kakao bisa terhambat.
“Kalau pupuk tidak disubsidi untuk komoditas lain, petani sulit berkembang,” tegasnya. (sen/sam)
Editor : Nurismi