BERAU POST– Bupati Berau, Sri Juniarsih, minta pemerintah kampung tidak menggantungkan diri pada dana pusat semata.
Hal itu menyusul adanya rencana penurunan dana Transfer ke Daerah (TKD) tahun depan.
Pemerintah kampung ditegaskannya harus bangkit, dengan menggali potensi lokal agar tetap mampu menata ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Apalagi sekitar 100 kampung di Berau memiliki potensi yang luar biasa.
Sebanyak 77 kampung bahkan telah menerima dana transfer dari Bank Dunia untuk menjaga kelestarian hutan.
Program ini dinilai sejalan dengan status Berau sebagai salah satu kabupaten dengan luas hutan terbesar di Kalimantan Timur.
“Kakam harus mampu mengelola potensi kampung masing-masing. Kita sedang bertransformasi ke sektor pariwisata. Sebagaimana diketahui, ekraf dan UMKM tak bisa dipisahkan dari sektor pariwisata,” ujarnya.
Dia meminta agar pemerintah kampung dan jajaran BPK mampu mendukung upaya kemandirian ekonomi.
Diingatkannya, dana transfer hanya salah satu pilar, sehingga kampung harus mempunyai usaha nyata yang memberi manfaat ekonomi langsung.
“Ke depan, menghadapi berkurangnya TKD, kampung harus kreatif agar bisa jadi BUMK,” katanya.
Penurunan TKD juga memicu kekhawatiran terhadap kemampuan pemerintah kampung memenuhi kebutuhan rutin dan pembangunan dasar. Saat ini seluruh Indonesia mengalami hal yang sama.
Kekayaan dan keindahan alam Berau, baik di wilayah pesisir, pulau, pedalaman, maupun perkotaan diingatkannya menjadi modal besar yang dapat dikembangkan.
“Kita harus bisa putar otak bagaimana mengangkat potensi kampung supaya bisa dikelola olehPEMERINTAH K BUMK misalnya. Dana itu juga akan kembali kepada kampung,” tuturnya.
Tidak hanya pemerintah kampung, Pemkab juga saat ini tengah melakukan efisiensi anggaran lantaran menghadapi permasalahan serupa.
“Kita harus bisa berinovasi berkreativitas dalam mengembangkan potensi kampung dibarengi pemanfaatan dana efektif dan efisien,” terangnya.
Sementara Kepala DPMK Berau, Tentram Rahayu, mengingatkan agar kampung harus memastikan kebutuhan belanja rutin terlebih dahulu terpenuhi sebelum memulai usaha kreatif.
“Yang penting belanja rutinnya sudah terpenuhi. Sisanya bagaimana kampung berkreasi,” ujarnya.
Selain itu, tekanan terhadap penggunaan dana juga dianggap perlu, agar kampung terdorong melakukan inovasi. Setiap kepala kampung tidak sekadar berdiam.
“Kita tidak bisa sepenuhnya bergantung pada dana transfer kampung. Kita harus menggali potensi kampung masing-masing,” katanya.
Transformasi ke pariwisata dianggap sebagai jalan keluar agar kampung yang memiliki keindahan alam, budaya, dan potensi ekonomi kreatif dapat berkembang.
Dengan kemandirian kampung melalui BUMK dan UMKM yang dikelola secara baik, tidak hanya sebagai penerima dana, tetapi juga sebagai penyumbang pendapatan asli kampung dan daerah.
Persoalan penurunan TKD memang menjadi tantangan besar, namun jika dikelola dengan visi yang jelas, inovasi, dan partisipasi semua pihak di kampung, Berau diyakini bisa melewati masa sulit tanpa kehilangan momentum pembangunan. (aja/sam)
Editor : Nurismi