Penikmat kopi di Bumi Batiwakkal cukup banyak. Namun, masih banyak biji kopi yang didatangkan dari luar Berau.
Sementara petani kopi di Berau hanya bisa gigit jari menahan pilu tanpa ada bantuan pasti.
Maulid Hidayat, Gunung Tabur
Embusan angin sore menerpa wajah Ari, seorang petani kopi asal Kampung Sambakungan. Cambang di wajahnya mulai dua warna, hitam dan putih. Kerutan menghiasi wajah lesu itu.
Dengan baju oblong, Ari duduk di bawah pendopo yang dia bangun dengan keringatnya sendiri.
Di pendopo itu, dia banyak menghabiskan waktu bercengkrama dengan warga, atau para penikmat kopi yang ingin belajar jauh tentang kopi, termasuk kepada awak media ini saat bertandang ke sana beberapa waktu lalu.
Namun, dia membuka obrolan dengan nada yang cukup berat dan embusan nafasnya kasar. "Kemana lagi kami mencari modal," ucapan pasrah keluar begitu saja.
Ari memulai menanam kopi sejak November 2019 lalu. Dia pensiunan karyawan tambang yang beroperasi di wilayah itu.
Semula, dia hanya iseng menanam kopi liberika, tapi kini mulai menunjukkan geliat tumbuh.
Dengan lahan pinjaman seluas 13x20 meter persegi, satu per satu bibit yang ia dapat dari Kampung Sumber Mulya, Kecamatan Talisayan, mulai tumbuh rimbun.
“Saya tidak ada backgound petani kopi. Saya di Sulawesi barat, hidup di pinggir sungai,” tuturnya.
Dia menanam kopi hanya dari 1.500 pohon, sekarang berkembang biak menjadi 10.000 pohon.
Dia menanam di lahan seluas 1 hektare miliknya. Ia membeli lahan itu dari uang pesangon yang dia terima di perusahaan.
Di tengah gempuran petani sahang dan sawit. Ari milih 'menyimpang' dari kedua komoditas tanaman tersebut.
Belajar secara otodidak tentang kopi membuatnya sedikit banyak paham langkah apa yang akan dilakukan.
Ada tiga varian kopi yang dibenaknya yakni robusta, liberika, dan arabika. Namun ia akhirnya memilih liberika, sesuai dengan konstur tanah yang ia pinjam awalnya.
Liberika sebutnya, dikenal juga sebagai kopi rawa. Dalam artian bisa hidup di area yang bukan dataran tinggi. Sedangkan dua varian kopi lainnya, biasa hidup di dataran tinggi.
Misi kedua dalam penanaman kopi liberika, yakni ingin Kampung Sambakungan menjadi sentra kopi pasca tambang.
Karena itu, pemilik nama lengkap Abdul Rahim Ismail ini pun tidak bosan-bosannya mengajak warga untuk menggeluti kopi liberika.
Langkah ini ia nilai, bisa meningkatkan ekonomi masyarakat jika perusahaan pertambangan di kampungnya sudah selesai beroperasi.
Selain itu, cakupan lebih luas, yakni Berau wajib punya oleh-oleh kopi yang khas. “Cokelat sudah ada, kopi ini pun bisa dikembangkan,” ujarnya.
Berau Post, bahkan berkesempatan untuk belajar menanam bibit kopi di lokasi yang ia miliki. Ari butuh waktu dua tahun dari bibit hingga ke panen. Dalam setahun, kopi bisa dua kali panen.
Dia menjelaskan, dimulai dari penyemaian yang membutuhkan waktu 3 bulan, setelah naik dua daun, dipindahkan ke polybag, setelah tumbuh 30 centimeter, baru dipindah ke tanah kebun.
Menurutnya, untuk perawatan tidak terlalu rumit, asalkan lahan lembab. Kendala hama tentu ada yakni hama jamur benang. “Prosesnya memang agak lama,” kelakarnya.
Panen kopi tidak seperti panen tanaman lainnya. Ceri kopi dipilih yang berwarna merah, setelah terkumpul kemudian direndam selama 10 menit. Ceri kopi yang terapung tidak akan dipakai, karena merupakan kualitas grade C.
Usai dipilih, ceri kopi kemudian dimasukan ke dalam huller basah (honey), yakni melepas kulit ceri dan diambil bijinya.
Usai itu, dikeringkan dengan waktu 3 minggu, tidak berhenti. Di situ saja, biji kopi kembali dimasukkan ke dalam huller kering untuk diambil biji kopi yang lebih baik.
Tentu tidak bisa langsung diseduh, biji kopi atau biasa disebut beras kopi, harus diroasting untuk dimasak.
Kemudian, biji kopi tersebut kembali penggilingan kopi sangrai (roasted), hingga partikel menjadi halus atau kasar. Usai itu, kopi liberika khas Kampung Sambakungan itu baru bisa dinikmati.
Awak media ini pun berkesempatan menikmati kopi buatan Ari. Dengan wadah gelas kaca, aroma harum kopi menusuk hidung.
Seruputan kopi pun menembus tenggorokan, rasanya seperti nangka namun keasamannya seperti jeruk nipis.
Informasinya, liberika asal Berau pernah menjuarai kontes kopi racik yang digelar di Samarinda, kemudian mewakili Kaltim di Jakarta.
Namun sangat disayangkan, kopi Berau belum mampu membuat pimpinan daerah meliriknya.
Kendala modal menjadi permasalahan utama. Ari berharap ada perhatian dari “pelat merah” untuk bisnis yang ia jalankan.
Tidak muluk-muluk, dia berharap suatu hari bisa bertemu dengan bupati Berau. “Saya ingin mengenalkan kopi Berau,” paparnya.
Ari kini bersama 18 orang lainnya menggantung hidup dari kopi liberika yang ia kelola. Dalam sekali panen, ia bisa menghasilkan puluhan kilogram kopi yang telah dibeli oleh beberapa kafe yang ada di Tanjung Redeb.
Kendala mesin pengering dan lainnya, masih menjadi pekerjaan rumah yang terus menghantui dirinya.
Ari pun dengan terbuka menerima masyarakat yang ingin menikmati kopi di pondoknya. Selain bisa menikmati hidangan kopi yang ditanam sendiri, tentu ilmu tentang kopi terjejer rapi di dalam otaknya.
Dia berharap dia bisa mendapatkan perhatian pemerintah, agar kopi Berau bisa mendunia.
Dan harapan agar tidak perlu datangkan kopi dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan kopi di Bumi Batiwakkal tercinta. “Jangan hanya pintar ngopi tapi tidak tahu prosesnya,” tutupnya. (sam)
Editor : Nurismi