Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

DLHK Berau Respons Arahan Mendagri Soal Sampah Jadi Energi: Fokus Tuntaskan TPA Pegat Bukur

Beraupost • Minggu, 5 Oktober 2025 | 14:55 WIB
TUNTASKAN TPA: DLHK Berau masih fokus pada pengurangan residu akhir di TPA, dan belum mengarah pada pengolahan sampah menjadi energi terbarukan. (BERAU POST)
TUNTASKAN TPA: DLHK Berau masih fokus pada pengurangan residu akhir di TPA, dan belum mengarah pada pengolahan sampah menjadi energi terbarukan. (BERAU POST)

BERAU POST – Arahan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian agar pemerintah daerah mulai mendorong pengolahan sampah menjadi energi turut direspons Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau.
Kepala DLHK Berau, Mustakim Suharjana, menyebut, langkah tersebut menjadi arah

pengelolaan sampah di masa mendatang, namun saat ini pihaknya masih fokus pada penyelesaian Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pegat Bukur.

“Di Berau kita masih fokus selesaikan TPA. TPA kita kan masih kena sanksi untuk menghentikan operasional dengan cara open dumping,” jelas Mustakim belum lama ini.

Menurutnya, sistem yang dijalankan saat ini masih berupa control landfill, dan anggaran untuk perawatan TPA sudah tersedia selama tiga bulan ke depan.

Perawatan itu dilakukan dengan sistem terkontrol, agar permasalahan lama terkait sanksi bisa segera diselesaikan.

“Kita koordinasi dengan DPUPR Berau agar TPA Pegat Bukur bisa segera dituntaskan tahun ini. Paling tidak satu lubang bisa digunakan dari tiga lubang di sana,” ujarnya.

Tahapan perbaikan juga bebernya sudah disusun. Mulai dari pemasangan geomembran, hingga pengecoran jalan masuk agar TPA bisa difungsikan secara optimal.

Dengan begitu, operasional pengelolaan sampah di Berau tidak lagi bergantung pada sistem lama yang rentan masalah lingkungan.

Lebih jauh, Mustakim menegaskan arah pengelolaan sampah ke depan tidak hanya berhenti di TPA.

DLHK akan memperkuat sistem pemilahan sejak dari hulu melalui Tempat Pengolahan Sampah (TPS).

“Kita kerja sama dengan TPS, jadi ke TPA nanti yang dibuang hanya residu. Semua dipilah di hulu,” katanya.

Upaya itu juga akan didukung dengan menggandeng pihak swasta sebagai Bank Sampah Induk.

Nantinya, Bank Sampah Induk ini akan menampung hasil pemilahan dari Bank Sampah Unit (BSU) yang tersebar di masyarakat.

“Permasalahan pemilahan itu susah kalau pembelinya belum ada. Kalau ada pembeli, jalannya lebih mudah,” terang Mustakim.

Ia menambahkan, sistem ini akan mendorong berkurangnya beban sampah di TPA, sebab yang dibawa hanyalah sampah residu yang tidak bernilai.

Sampah organik diharapkan bisa dipilah sejak tingkat rumah tangga. “Kalau bisa organik itu dipilah di rumah, jadi di TPA nanti yang diolah adalah residu,” ucapnya.

Untuk saat ini, pengolahan residu masih menggunakan insinerator sederhana yang menghasilkan abu. “Belum ke arah energi, tapi nanti hasilnya abu,” jelasnya.

Produksi sampah di Berau saat ini mencapai rata-rata 88 ton per hari, bahkan bisa meningkat hingga 90 ton per hari pada momen-momen tertentu seperti hari besar.

Jumlah tersebut menjadi tantangan serius, sehingga kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat diperlukan untuk menuju pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan sekaligus berorientasi energi.

Dilansir dari rilis Pusat Penerangan (Puspen) Kemendagri, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mendorong peran aktif pemda dalam menyukseskan program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Program ini dinilai sebagai terobosan strategis dalam penanganan sampah berbasis hilir, di mana energi hasil pengolahan akan langsung diserap oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Program ini adalah program yang bagus sekali dan mulia, karena menyelesaikan banyak masalah, tapi juga bisa menguntungkan bagi negara. Siapa yang tahu bahwa sampah bisa menjadi problem, sekarang bisa menjadi opportunity. Tadinya threat, ancaman menjadi opportunity,” kata Mendagri pada Rapat Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah Menjadi

Energi (Waste to Energy) di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta beberapa waktu lalu.
Mendagri menjelaskan, mekanisme PSEL secara sederhana dimulai dari pengumpulan sampah masyarakat yang dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Sampah kemudian diolah dengan teknologi insinerator yang membakar limbah pada suhu tinggi, untuk mengurangi volume sekaligus menghasilkan energi.

Program ini dikembangkan secara nasional, khususnya di wilayah padat penduduk seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogjakarta, dan Bali.

“Menggunakan insinerator dibakar ya, langsung menjadi energi, dibeli oleh PLN. Nah ini penugasan dari Pak Presiden. Sudah keluar Perpresnya, ditugaskan Danantara yang mengerjakan itu. Ini perusahaan negara, kalau ada keuntungan, keuntungan juga buat negara, untuk rakyat,” ujarnya.

Mendagri menambahkan, pihaknya telah mengidentifikasi 33 titik lokasi prioritas terkait rencana pembangunan PSEL, baik yang dikelola oleh satu daerah maupun melalui kerja sama kawasan (aglomerasi) untuk memenuhi syarat minimal 1.000 ton sampah per hari.

Kemendagri akan mengawal program tersebut, sementara pemda diminta menyiapkan lahan dan infrastruktur pendukung.

“Dengan adanya program Waste to Energy 33 titik ini, akan membuat problema sampah terutama di daerah-daerah yang paling banyak menyumbang di 33 ini menjadi lebih baik. Di samping melengkapi program-program yang berbasis pada hulu yang melibatkan partisipasi publik,” tandasnya.

Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih, program PSEL meringankan beban pemda dalam pengelolaan sampah kota sekaligus menghasilkan nilai ekonomis bagi negara melalui energi terbarukan.

Pemerintah bahkan menghapus sistem tipping fee, yaitu biaya yang sebelumnya dibayarkan Pemda kepada operator fasilitas pengolahan sampah.

“Yang jelas daerah tidak lagi diberikan namanya tipping fee. Tipping fee itu daerah itu harus meng-collect [sampah] dari masyarakat selama ini, setelah itu taruh di pembuangan akhir. Pengelola pembuangan akhir nanti harus dibayar, karena mereka mengelola sampah,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Mendagri mengajak seluruh pihak memberikan dukungan penuh agar program ini berjalan sukses demi terciptanya lingkungan sehat, kota bersih, dan kemandirian energi nasional.

Ia menegaskan, keberhasilan PSEL bergantung pada sinergi Pemerintah Pusat, pemda, dan sektor swasta, dengan manfaat yang langsung dirasakan masyarakat, daerah, maupun negara.

“Jadi mohon dukungan lah dari semua pihak, masyarakat untuk program yang sangat bagus seperti ini. Dan jangan khawatir, sudah banyak praktik menunjukkan bahwa dengan metode insinerator dibakar, juga ada teknologi untuk membuatnya tidak menjadi polusi udara,” tandasnya. (sen/sam)

Editor : Nurismi
#tpa #pengelolaan sampah #pemkab berau