Aroma aspal basah masih harum 'menusuk' hidung. Beberapa Gen Alpa nampak membeli kop di salah satu Koling (Kopi Keliling) yang berjualan di dekat Lapangan GOR Pemuda.
Tawa canda terdengar hangat dibalut cerita. Gerobak sederhana berwarna merah tua, dengan jejeran gelas siap untuk disajikan ke pelanggan.
MAULID HIDAYAT, Tanjung Redeb
Cerita yang tersaji bukan hanya sekitar perkopian. Banyak ilmu yang dibagikan, mulai dari agama, hingga kehidupan sehari-hari.
Dalam berdagang, sang Owner Dwi Faturraman, pemuda alumni DAI tervefikasi MUI Pusat tak hanya ingin sekadar menjajakan kopinya, dia membuat Program Ngopi (Ngobrol Perkara Iman).
Pembawannnya santai, merangkul semua orang, baik muda maupun tua. Kajian dibalut kopi.
Pemuda 24 tahun ini, memilih jalur kopi sembari berdakwah, bukan tanpa alasan.
Ia menilai, melalui kopi semua kalangan bisa menikmati, tidak sedikit gen alpa yang haus akan sentuhan agama, datang untuk sekadar konsultasi, tanpa takut di-judge.
Perkembangan zaman dinilainya banyak membawa anak muda jauh dari agama, namun Fatur berkeyakinan, semua bisa kembali ke jalur yang benar. Tanpa takut dihakimi. “Semua manusia memiliki kesempatan yang sama,” ujarnya seraya tersenyum.
Kemeja berwarna hitam membalut tubuhnya, senyumnya ramah kepada siapapun. Nada bicaranya santai saat membuka diskusi.
Gerobak Kopi AHHE (Autentic, Hangat, Halal dan Energic), menemaninya mulai pukul 08.00 Wita hingga 22.30 Wita, setiap hari.
Kesehariannya sebagai kepala SMP salah satu sekolah swasta di Bumi Batiwakkal, tidak mengganggu aktivitasnya untuk turun ke jalan berdakwah.
Fatur menceritakan, ini merupakan pekan kedua dia berjualan kopi keliling, tantangan tentu ada, banyak yang iri, namun langkah istiqomah tetap dilakukan.
Ia menilai, masjid sekarang banyak diisi oleh orang tua, sedikit anak muda, ia ingin kembali meramaikan masjid dengan suara anak anak muda.
Sarana kopi dinilainya bisa menjadi alternatif yang tepat. “Sekarang banyak penikmat kopi, inilah salah satu alasannya saya memilih dakwah melalui jalur kopi,” tuturnya.
Anak pasangan Wahab Syahrani dan Ani Erianti ini mengaku merasakan kegelisahan akan minimnya interaksi sosial yang bermakna di tengah masyarakat perkotaan, hal itu yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang lebih.
"Saya pikir kopi ini bisa jadi perantara. Orang-orang butuh kopi untuk menyegarkan tubuh, kenapa tidak sekalian menyegarkan rohani?" ujarnya dengan senyum tulus.
Ide itu kemudian diwujudkan. Setiap kali ada pembeli, Fatur tidak hanya sibuk meracik kopi, tapi juga sesekali menyapa dan memulai percakapan ringan seputar kehidupan.
Ia tak langsung menggurui, melainkan menyelipkan pesan-pesan kebaikan dengan cara yang santai dan bersahabat.
Misalnya, saat ada pembeli yang mengeluh tentang beratnya pekerjaan, ia akan menjawab
"Anggap saja pekerjaan ini ladang pahala. Setiap tetes keringat yang keluar, InsyaAllah jadi berkah."
Nasihat sederhana seperti itu seringkali membuat para pembeli tertegun, lalu tersenyum, merasa beban mereka sedikit terangkat.
Pria kelahiran Berau, 10 Oktober 2001 lalu ini menganggap, dakwah tidak harus di tempat yang bagus, mimbar yang mewah, jemaah yang menumpuk, tidak harus berpenampilan khusus, namun dakwah bisa dilakukan di mana saja, dengan siapa saja.
Dia menilai, apabila urusan penampilan juga dikomentari, ia takut akan melemahkan mental seseorang.
“Saya tidak pernah membahas soal penampilan, semua memiliki hak dan kewajiban yang sama,” tuturnya lembut.
Ia mengatakan, berdakwah tidak harus dengan sesuatu yang berat. Bisa tentang kehidupan sehari-hari, fenomena yang kerap dialami kaum gen alpa.
Fathur berharap, cara sederhana yang dia lakukan ini dapat memberikan bekas yang bermanfaat.
Ia juga tidak ingin membuat seseorang merasa paling berdosa, karena ia menilai, setiap manusia wadahnya dosa. Namun ia berkeyakinan, Tuhan maha pemaaf.
“Setiap orang kan punya masa lalu, setiap orang juga punya masa depan. Jadikan masa lalu sebagai batu lompatan untuk lebih baik lagi,” nasihatnya. (sam)
Editor : Nurismi