DI sebuah sudut Tanjung Redeb yang tenang, tepatnya di Atara Studio, suara riuh kendaraan terasa samar. Yang terdengar justru keheningan yang mengajak kita menyimak lebih dalam.
Amnil Izza, TANJUNG REDEB
RUANGAN berdinding putih itu tidak luas, namun cukup untuk membawa pengunjung menyelami dunia mimpi dan emosi yang dihadirkan melalui puluhan karya visual.
Karya-karya itu milik seorang seniman muda asal Berau, Rakan yang juga dikenal dengan nama Rajwa.
Melalui pameran tunggal pertamanya yang bertajuk Daydream in Emotion, Rakan membawa pengunjung ke dalam dunia yang ia bangun dari fragmen mimpi dan pengalaman emosional.
Pameran ini bukan hanya menandai langkah baru bagi perjalanan seninya, tapi juga membuka ruang seni baru di Berau, yakni Atara Studio. Studio independen yang didirikannya sendiri.
Pemuda kelahiran Sleman, Yogyakarta pada 14 Juni 2004 itu, tengah menempuh pendidikan di bidang desain interior. Meskipun di balik itu, ia menyimpan kecintaan mendalam pada dunia seni visual.
“Sejak kecil, dunia warna dan garis telah menjadi tempat paling nyaman untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran saya. Melukis bukan hanya sekadar hobi, tapi cara untuk mengenali diri dan memahami dunia di sekitar,” ujarnya.
Karya-karya Rakan sarat dengan pendekatan surealisme, aliran seni yang menggabungkan imajinasi dan kenyataan.
Ia merasa pendekatan ini paling sesuai untuk menggambarkan dunia mimpinya yang terkadang absurd, namun kaya akan simbol dan makna emosional.
Melalui pendekatan surealisme dan berbagai media, ia mencoba menangkap kilasan-kilasan dari mimpi-mimpi yang dialaminya.
“Kemudian mengolahnya menjadi bentuk-bentuk visual yang penuh simbol dan metafora,” ungkap Rakan.
Dalam pameran ini, ia menampilkan sekitar 20 karya, termasuk satu karya instalasi yang menarik perhatian pengunjung. Instalasi itu berjudul “Kupilihku dalam Riuh”, dan menjadi salah satu karya paling personal dalam pameran ini.
Instalasi tersebut berdiri di tengah ruangan, seolah menjadi jantung dari keseluruhan narasi visual yang dibangun di sekelilingnya.
Tak hanya lukisan tunggal, beberapa karya juga ia hasilkan melalui kolaborasi bersama teman-temannya.
Setelah selesai melukis, Rakan mengekspresikannya secara lisan untuk kemudian ditulis temannya menjadi narasi yang apik.
Mayoritas lukisan yang ditampilkan merupakan hasil eksplorasi dari tahun 2024 hingga 2025.
Sebagian memang dipersiapkan khusus untuk tema Daydream in Emotion, sementara beberapa lainnya merupakan bentuk catatan visual dari proses panjang mengenali emosi, seperti kesedihan, kehilangan, penerimaan, dan kebahagiaan.
Pameran ini digelar mulai 20 Agustus hingga 15 September 2025, buka setiap hari pukul 13.00 sampai 21.00 WITA. Harga tiket masuk sebesar Rp 20.000 per orang.
Meski masih muda, Rakan bukan nama asing di kalangan penikmat seni digital. Beberapa karya ilustrasinya pernah mendapatkan apresiasi dari sineas terkenal tanah air, seperti Joko Anwar, serta beberapa aktor dan aktris Indonesia.
Walau bukan itu yang jadi tujuan utamanya, pengakuan tersebut memberinya semangat untuk terus berkembang dan tampil lebih terbuka.
Saat ditanya soal harapannya ke depan, Rakan tak banyak menuntut. Ia hanya ingin Atara bisa menjadi ruang yang hidup dan tumbuh bersama komunitas seniman di Berau.
“Saya bukan hanya ingin Atara menjadi ruang kosong. Saya ingin banyak teman-teman seniman lokal bisa pameran di sini. Seperti Komunitas Ruang Perupa, untuk mencarikan seniman lain yang ingin pameran di sini,” ucapnya.
Proses persiapan pameran ini memakan waktu sekitar dua bulan. Ia mengurus sendiri hampir semua hal, dari desain ruangan, pencahayaan, kurasi karya, hingga promosi sederhana lewat media sosial.
Yang membedakan karya Rakan dari kebanyakan seniman muda adalah kejujuran emosinya. Setiap lukisan terasa seperti potongan diary visual, yang mengajak pengunjung masuk ke ruang pikir dan rasa yang ia alami.
Tak ada pretensi tinggi dalam karyanya, tapi justru itu yang membuatnya menyentuh. Ia tidak hanya ingin memamerkan “hasil akhir”, tapi juga membuka proses, perjalanan, dan pergulatan batin yang ia alami selama berkarya.
Pameran Daydream in Emotion bukan sekadar debut seorang seniman muda, melainkan juga penanda lahirnya satu ruang baru bagi geliat seni rupa di Berau.
Melalui Atara Studio, Rakan mencoba membangun jembatan, antara mimpi dan kenyataan, antara seniman dan penikmat, antara emosi dan ekspresi. Sebuah langkah kecil, tapi punya dampak besar untuk masa depan seni di daerah.(arp)
Editor : Nurismi