BERAU POST – Seekor orangutan betina bernama Popi, yang telah menjalani rehabilitasi selama hampir sembilan tahun.
Kini dilepas liarkan ke habitat alaminya di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur.
Popi merupakan individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang memiliki kisah panjang dalam proses penyelamatan dan rehabilitasi.
Ia pertama kali diselamatkan pada 21 September 2016 oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) bersama Centre for Orangutan Protection (COP).
Saat ditemukan, Popi masih bayi, dengan tali pusar yang masih basah dan tanpa gigi, tanda bahwa usianya diperkirakan baru sekitar satu bulan.
Bayi orangutan di alam liar seharusnya diasuh induknya hingga usia 7 tahun. Namun Popi harus berpisah di usia yang sangat dini. Ia juga memiliki gangguan pernapasan saat itu.
“Tapi berkat penanganan intensif dari tim medis dan perawat, Popi bisa bertahan dan tumbuh sehat,” ujar Direktur COP, Daniek Hendarto.
Sejak kecil, Popi dirawat di pusat rehabilitasi Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) yang berlokasi di Berau.
Di sana, ia mengikuti program sekolah hutan di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan, Kecamatan Kelay.
Selama hampir satu dekade, Popi dilatih untuk mengembangkan perilaku liarnya seperti memanjat, berayun, mencari buah di hutan, hingga membuat sarang, kemampuan dasar yang penting untuk bertahan hidup di alam bebas.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto mengungkapkan, proses pelepasliaran ini tidak hanya menjadi langkah penting dalam program konservasi, tetapi juga bagian dari kolaborasi multipihak.
“Pelepasliaran ini adalah hasil kerja sama antara Kementerian Kehutanan, BKSDA Kaltim, Dinas Kehutanan Provinsi, KPHP Kelinjau, COP, serta masyarakat lokal. Kami semua memiliki misi yang sama, yaitu mengembalikan satwa ke habitat aslinya dan menjaga keseimbangan ekosistem,” jelas Ari.
Proses itu yang dilakukan pada Minggu (10/8) lalu itu berjalan lancar. Begitu dibuka kandangnya, Popi langsung memanjat pohon dan mulai menjelajah hutan.
Ia terlihat aktif mencari pakan dan mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Untuk memastikan Popi mampu bertahan hidup secara mandiri, tim monitoring dari COP dan BKSDA Kaltim akan melakukan pengawasan intensif selama tiga bulan ke depan.
Pemantauan ini dilakukan guna menilai kemampuan adaptasi Popi serta memastikan tidak ada gangguan dari aktivitas manusia di sekitar kawasan tersebut.
Popi menjadi salah satu contoh nyata keberhasilan rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan di Kalimantan Timur.
Diharapkan, kisahnya bisa menginspirasi lebih banyak pihak untuk mendukung pelestarian orangutan dan habitatnya yang terus terancam akibat deforestasi dan perburuan ilegal.
“Popi adalah simbol harapan bahwa upaya konservasi satwa liar masih bisa membuahkan hasil. Setelah bertahun-tahun hidup dalam pengawasan manusia, akhirnya ia bisa kembali ke hutan, tempat yang seharusnya menjadi rumahnya,” terangnya. (aja/arp)
Editor : Nurismi