Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Pengembangan Pisang Kepok Berau Sasar Pasar Modern dengan Teknologi Kultur Jaringan

Beraupost • Kamis, 14 Agustus 2025 | 12:05 WIB
Kepala DTPHP Berau, Junaidi. (SENO/BP)
Kepala DTPHP Berau, Junaidi. (SENO/BP)

BERAU POST– Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) terus mendorong pengembangan komoditas lokal, salah satunya pisang kepok, dengan memanfaatkan teknologi kultur jaringan.

Kepala DTPHP Berau, Junaidi, mengungkapkan, saat ini pisang kepok tengah dikembangkan dengan metode kultur jaringan yang merupakan program dari Kementerian Pertanian (Kementan).

Teknologi ini dinilai mampu mempermudah proses pengadaan bibit dan menjamin kualitas tanaman.

“Ke depan, pengembangan pisang akan lebih fokus pada penggunaan kultur jaringan. Karena dia pakai jaringan, jadi bibitnya bisa langsung didapat dan hasilnya seragam,” ujarnya, Rabu (13/8).

Dikatakan, sejauh ini melalui Pemprov Kaltim telah menyalurkan sekitar 4.000 bibit pisang hasil kultur jaringan yang disebar di beberapa kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.

Di mana program tersebut berasal dari DTPHP Kaltim, dan Kabupaten Berau telah menerima alokasi bantuan ini sejak dua tahun lalu.

“Tahun ini kami akan kembali mengajukan proposal bantuan ke Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Harapannya, Berau tetap mendapat porsi dari program ini,” imbuhnya.

Lebih lanjut Junaidi menjelaskan, tahun-tahun sebelumnya Kampung Inaran dan Bena Baru menjadi sentra budidaya pisang. Diharapkan, lahan di dua kampung tersebut masih memungkinkan untuk dikembangkan kembali.

“Kalau lahannya masih bagus, kita akan lanjutkan di sana. Bantuan dari provinsi untuk bibit pisang ini sangat penting, agar petani tidak kesulitan memulai kembali,” tambahnya.

Program kultur jaringan ini sendiri merupakan bagian dari inisiatif Kementerian Pertanian.

Bahkan menurut Junaidi, lokasi pengembangan pisang di Kalimantan Timur pernah dikunjungi oleh staf kepresidenan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

“Dulu sempat ada kunjungan dari staf presiden, melihat langsung pengembangan kultur jaringan untuk Kaltim. Jadi memang ini program strategis nasional,” jelasnya.

Dari sisi potensi, Junaidi menilai Berau memiliki sejarah panjang dalam budidaya pisang, terutama di wilayah Inaran dan Bena Baru.

Namun seiring waktu, petani mulai beralih ke komoditas lain seperti jagung dan padi yang lebih banyak mendapat dukungan dari Pemerintah Pusat.

“Pisang ini punya potensi keuntungan yang lumayan. Dalam satu hektare bisa menghasilkan cukup banyak, apalagi varietas pisang lokal kita seperti pisang beranak pinang, kualitas buahnya bagus,” katanya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa teknik budidaya di Berau masih tergolong tradisional.

Dalam praktik modern, satu pohon biasanya hanya menghasilkan satu tandan, seperti yang diterapkan di Thailand. Sementara di Berau, satu pohon bisa menghasilkan beberapa tandan, namun kualitasnya masih perlu ditingkatkan.

“Kalau mau kualitas bagus, sebenarnya cukup satu pohon satu tandan. Kita memang belum sampai ke situ. Tapi harapannya tetap ada petani yang tertarik mengembangkan lagi,” pungkasnya.

Soal perawatan tanaman pisang, Junaidi menyebutkan bahwa semua jenis tanaman memerlukan perhatian khusus.

Ia juga menyampaikan, meskipun wilayah seperti Inaran dan Bena Baru kerap terdampak banjir, sejauh ini belum ada laporan mengenai kerusakan tanaman pisang.

“Laporan yang masuk baru dari tanaman kakao dan ternak. Kalau pisang, belum ada. Tapi kalau ada permintaan bantuan, tentu kami siap membantu,” tutupnya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#Kabupaten Berau #pisang kepok #bibit