Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Kenali Gigi Impaksi: Tak Sekadar Sakit Gigi Biasa, Kenali Gejala, Penyebab, dan Kapan Harus Dicabut

Beraupost • Senin, 4 Agustus 2025 | 14:20 WIB

 

TINDAKAN: drg Yenny saat melakukan pemeriksaan rutin terhadap pasien gigi impaksi di Dentsmart Dental Care Specialist. (IZZA/BP)
TINDAKAN: drg Yenny saat melakukan pemeriksaan rutin terhadap pasien gigi impaksi di Dentsmart Dental Care Specialist. (IZZA/BP)

Gigi impaksi adalah salah satu masalah yang cukup umum ditemukan dalam dunia kedokteran gigi, namun sering kali luput dari perhatian masyarakat.

Padahal, kondisi ini bisa memicu berbagai keluhan, dari rasa nyeri ringan, hingga infeksi serius yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Bahkan bisa sampai mengancam nyawa.

AMNIL IZZA, Tanjung Redeb

Menurut drg Yenny Andriany Tarukallo, gigi impaksi didefinisikan sebagai gigi yang gagal erupsi atau tidak tumbuh sempurna ke dalam rongga mulut.

Penyebabnya pun beragam. Bisa karena ruang tumbuh yang tidak mencukupi, bentuk rahang yang sempit, terhalang jaringan gusi atau tulang, bahkan oleh gigi lain yang sudah lebih dulu tumbuh.

Dokter yang menempuh pendidikan kedokteran gigi di Universitas Hasanuddin pada 2001 ini menjelaskan, tidak semua gigi impaksi perlu diambil. Ia juga telah menuntaskan pendidikan spesialis bedah mulut dan maksilofasial di kampus yang sama pada Desember 2024.

Sebutnya, jenis gigi yang paling sering mengalami impaksi adalah gigi bungsu, terutama karena gigi ini merupakan yang paling terakhir tumbuh, biasanya terjadi di antara usia 17 hingga 24 tahun.

Meski begitu, tidak hanya gigi bungsu yang berisiko mengalami impaksi. Gigi taring, premolar (geraham depan), bahkan gigi seri pun bisa mengalami hal serupa. Namun, dari sekian banyak kasus, gigi bungsu tetap menjadi "langganan" utama.

Gigi impaksi bisa terlihat sebagian di permukaan gusi (hanya mahkotanya yang muncul) atau bahkan tidak terlihat sama sekali karena tertanam dalam tulang. Hal ini sering kali tidak disadari pasien, karena belum menimbulkan keluhan yang berarti.

“Ada juga kasus di mana gigi itu terhalangi kista atau tumor,” kata dokter kelahiran Tana Toraja, 28 April 1982 ini.

Kondisi seperti ini biasanya baru diketahui setelah pasien menjalani pemeriksaan radiologi seperti foto panoramik. Oleh sebab itu, pemeriksaan rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi dini.

Lantas, apakah semua gigi impaksi harus dicabut? Tidak selalu. drg Yenny menekankan bahwa tidak semua gigi impaksi perlu diambil. Penanganannya tergantung pada jenis dan posisi impaksinya.

“Kalau tidak menimbulkan keluhan dan posisinya tidak membahayakan jaringan sekitar, maka pencabutan bisa ditunda atau bahkan tidak dilakukan sama sekali,” ujarnya.

Namun, ada beberapa kondisi yang menjadi indikasi kuat untuk pencabutan. Misalnya, jika sudah menimbulkan rasa nyeri, gusi bengkak, atau gigi tersebut mulai berlubang.

Gigi yang hanya tumbuh sebagian, lebih rentan terhadap penumpukan sisa makanan di sela-sela mahkota yang kemudian sulit dibersihkan. Lama kelamaan, hal ini bisa menyebabkan karies dan infeksi.

Selain itu, gigi impaksi juga kerap menjadi penghalang dalam perawatan gigi lainnya. Pasien yang hendak menjalani pemasangan kawat gigi misalnya, sering kali disarankan untuk mencabut gigi impaksi terlebih dahulu agar susunan gigi bisa bergerak dengan lebih leluasa.

Ada pula risiko yang perlu diperhatikan jika gigi impaksi terlalu dekat dengan saraf. Menurut drg Yenny, pada gigi bungsu bawah, ujung akarnya bisa sangat dekat dengan saluran saraf yang berada di dalam tulang rahang.

Jika pencabutan dilakukan sembarangan, bisa memicu kerusakan saraf yang menyebabkan kebas atau kesemutan di area wajah.

“Kalau posisinya terlalu dekat dan tidak ada keluhan, ya lebih baik tidak diambil,” ujarnya.

Lanjutnya, gejala awal gigi impaksi biasanya berupa nyeri, susah membuka mulut, hingga kesulitan menelan. Ini terjadi karena infeksi yang menjalar ke otot-otot pengunyahan di sekitar rahang.

Jika sudah demikian, sebaiknya pasien segera memeriksakan diri ke dokter gigi, khususnya spesialis bedah mulut dan maksilofasial. Kadang, pencabutan baru bisa dilakukan setelah infeksinya reda, melalui pemberian obat anti nyeri dan antibiotik.

Pencabutan gigi impaksi, atau yang dalam istilah medis disebut odontektomi, termasuk tindakan bedah minor. Prosedur ini bisa dilakukan dengan bius lokal, atau jika lebih dari satu gigi yang harus diambil, bisa dilakukan sekaligus di ruang operasi dengan bius total.

Bebernya lagi, tindakan odontektomi tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Pemeriksaan rontgen panoramic sangat dibutuhkan untuk melihat posisi dan bentuk gigi.

Jika posisinya miring ke depan atau ke belakang, atau tertanam dalam tulang, teknik pengangkatannya bisa berbeda.

Kadang diperlukan pemotongan gigi, hingga pengambilan tulang di sekitar gigi impaksi secara bertahap agar tidak merusak jaringan di sekitarnya.

Proses pemulihannya pun bertahap. Luka operasi biasanya mulai membaik dalam waktu 7 sampai 14 hari.

Namun, tulang pada daerah pencabutan biasanya memerlukan waktu antara 3 hingga 6 bulan untuk pulih sempurna. Pemulihan ini bisa berbeda pada setiap pasien, tergantung kondisi kesehatan umum dan perawatan pasca operasi.

Pascaoperasi, pasien juga perlu memperhatikan pola makan. Hindari makanan panas dan pedas dalam 1–2 hari pertama, karena bisa memicu perdarahan di area bekas operasi.

Pasien juga dianjurkan untuk menyikat gigi secara teratur, tentu tetap dengan hati-hati, agar kebersihan rongga mulut bisa terjaga.

Kebersihan rongga mulut menurut dokter yang kini menjalankan praktik di RSUD dr Abdul Rivai dan Dentsmart Dental Care Specialist itu, berperan besar dalam mencegah infeksi yang bisa memperparah luka operasi.

Ada anggapan bahwa pasien pascaoperasi hanya boleh makan bubur. Tapi menurut drg Yenny, hal ini tidak sepenuhnya benar.

Yang penting adalah memilih makanan yang kaya protein, dilengkapi dengan serat dari sayur dan buah, karena nutrisi yang baik dapat membantu untuk mempercepat penyembuhan luka pascaodontektomi.

Selain itu, penting juga memperhatikan waktu yang tepat untuk mencabut gigi impaksi. Masyarakat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan gigi rutin setiap 3 hingga 6 bulan sekali.

Hal ini bisa membantu mendeteksi lebih dini apakah ada gigi impaksi, meski belum menimbulkan gejala.

Deteksi dini memungkinkan dokter mengambil keputusan yang lebih aman dan tepat waktu.

Singkatnya, gigi impaksi bukan sekadar soal gigi yang tidak tumbuh sempurna, tapi bisa berdampak luas jika tidak ditangani dengan benar.

Pemeriksaan rutin adalah langkah awal mencegah dampak yang lebih besar. Dan yang terpenting, jangan tunda ke dokter gigi saat gusi mulai nyeri atau pembengkakan muncul.

Bisa jadi itu tanda awal gigi bungsu akan tumbuh (erupsi), tapi tak menemukan jalannya atau bahkan sudah terjadi infeksi disekitar jaringan gigi bungsu yang mengalami impaksi. (sam)

Editor : Nurismi
#gejala #impaksi #gigi