BERAU POST – Upaya menjadikan Berau sebagai daerah ramah anak terus dijalankan secara bertahap. Mulai dari sekolah, rumah ibadah, hingga ruang publik.
Perlahan diarahkan agar memenuhi standar sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Berau, Rabiatul Islamiah, menyampaikan komitmen Pemkab Berau dalam mewujudkan lingkungan yang ramah anak terus diperkuat.
Salah satunya melalui pengembangan sekolah dan rumah ibadah ramah anak, yang dilaksanakan secara bertahap di seluruh wilayah.
Saat ini, sebagian satuan pendidikan di Berau telah mulai menerapkan konsep ramah anak, mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga SMA.
"Upaya ini sejalan dengan arahan nasional dan provinsi," ucapnya, Kamis (3/7).
DPPKBP3A juga terus mendorong terciptanya lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Salah satu pencapaian terbaru adalah ditetapkannya TK Pembina Gunung Tabur, sebagai sekolah ramah anak tingkat nasional.
Sekolah tersebut menjadi rujukan karena telah memenuhi sejumlah indikator, termasuk tersedianya fasilitas penunjang bagi anak-anak.
“TK Pembina Gunung Tabur jadi rujukan nasional karena fasilitasnya sudah sesuai dengan kriteria sekolah ramah anak di tingkat PAUD,” ungkap Rabiatul.
Ia mengungkapkan, saat ini sudah hampir setengahnya sekolah di Berau yang telah diarahkan menjadi sekolah ramah anak.
Tak hanya di sektor pendidikan, pendekatan ramah anak juga mulai diterapkan di rumah ibadah.
“Kami juga mulai menjadikan rumah ibadah sebagai tempat ibadah ramah anak. Ini bagian dari upaya menciptakan lingkungan aman dan nyaman untuk anak-anak,” jelasnya.
Namun, ia mengakui bahwa pelaksanaan secara menyeluruh masih membutuhkan waktu dan kemampuan anggaran.
Sejumlah komponen harus dipenuhi, agar suatu tempat bisa dinilai sebagai ramah anak, mulai dari fasilitas, ruang bermain, dan sebagainya.
“Targetnya tentu semua bisa ramah anak, tapi pelaksanaannya bertahap. Saat ini ruang bermain anak baru satu yang tersedia, yakni di Jalan Milono di samping perpustakaan,” ucapnya.
Pihaknya berharap ke depan akan ada lebih banyak titik ruang bermain anak yang memenuhi kriteria ramah anak.
Untuk itu, pihaknya juga terus mendorong agar dilakukan penilaian terhadap lokasi-lokasi potensial agar bisa dijadikan ruang bermain ramah anak.
“Penilaian sekolah atau ruang bermain ramah anak punya indikator tertentu. Itu yang akan kami dorong dan berikan ke satuan pendidikan dan instansi terkait,” tutupnya.
Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, mengingatkan agar pemerintah daerah tidak hanya fokus pada penetapan status sekolah atau rumah ibadah ramah anak secara administratif, tetapi juga memperhatikan ketersediaan fasilitas yang benar-benar dibutuhkan anak.
“Kalau kita bicara ramah anak, artinya kita bicara soal ruang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak. Fasilitas ruang bermain ini seharusnya jadi perhatian serius,” katanya.
Dirinya menilai, minimnya ruang bermain anak menjadi salah satu catatan penting. Ia meminta agar OPD terkait bersama-sama merancang program prioritas untuk memperluas akses anak terhadap ruang publik yang layak.
“Ruang bermain anak yang memadai itu bukan pelengkap, tapi kebutuhan. Pemerintah perlu memastikan ini hadir di setiap kecamatan, bahkan kampung,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dalam perencanaan ruang publik ramah anak, agar fasilitas yang dibangun benar-benar sesuai kebutuhan dan bisa dimanfaatkan secara maksimal. (aja/sam)
Editor : Nurismi