MUSIBAH banjir yang melanda lima kampung di Kecamatan Segah, merupakan banjir terbesar selama masyarakat tinggal di kawasan tersebut. Puing-puing sisa bangunan warga, masih terlihat di Kampung Long Ayap, salah satu kampung terdampak paling parah.
MAULID HIDAYAT, Segah
Suara gergaji mesin dan palu saling menyahut. Warga bergotong-royong membersihkan sisa bangunan, juga pohon tumbang di Kampung Long Ayap. Sejumlah ibu-ibu sibuk mengumpulkan sampah dedaunan dan ranting pohon, untuk dibakar.
Sebenarnya, Kampung Long Ayap merupakan salah satu kampung yang indah. Pemandangan gunung dan air sungai yang jernih, biasa menjadi teman warga. Namun pada hari kejadian, air sungai yang menjadi sumber kehidupan, mengamuk, meluluhlantakan rumah warga.
Kawasan kampung lama di Long Ayap, terdiri dari dua RT yakni RT 1 dan RT 2. Rumah warga rata-rata terbuat dari kayu. Dan tepat berdampingan dengan bantaran Sungai Segah.
Ada tebing pembatas cukup tinggi, sekitar 3 hingga 4 meter dari jalan utama. Namun Selasa (27/5) lalu, sekira pukul 08.00 Wita, air mulai mengalami kenaikan, masyarakat masih beraktivitas seperti biasa.
Duduk santai sambil mengobrol dengan sanak saudara, hingga pukul 10.00 Wita, air mulai menyentuh lantai rumah warga.
Padahal rumah di situ, hampir keseluruhan rumah panggung. Melihat debit air terus mengalami kenaikan, Kepala Kampung Long Ayap, Jemi, memutuskan untuk mengevakuasi warga ke tempat lebih tinggi.
Sebagian masyarakat masih bersimpun barang berharga, desakan kepala kampung akhirnya membuat warga ikut mengungsi.
Feeling kepala kampung patut diacungi jempol, air keruh bercampur sampah maupun batang kayu terus mengganas. Puncaknya, pukul 12.00 Wita, air sudah sampai atap rumah warga.
Jemi mengungkapkan, pada saat kejadian, hujan mengguyur selama beberapa hari. Potensi banjir sudah bisa diprediksi, namun biasanya tidak separah saat ini.
Air dengan arus deras mulai menggoyahkan rumah warga di RT 2. Lima rumah hanyut tersapu banjir. Air terus mengamuk hingga ke RT 1. Banjir di RT ini paling parah.
Tujuh rumah rata dengan tanah. Bangunan dua gereja hanyut, 1 Polindes hanya menyisakan puing. Bahkan perpustakaan kampung juga tidak luput dari jamahan air Sungai Segah.
“Air itu tidak seperti biasa. Jika banjir, di sini airnya seperti bernapas. Naik turun, tapi ini naik terus,” ujarnya.
Pukul 18.00 Wita, air mulai surut. Air mata warga mengalir deras, melihat tempat tinggal yang mereka huni puluhan tahun tak bersisa.
Rengekan anak kecil, tatapan hampa, melihat kampung luluh lantak, membuat Jemi tidak bisa berbuat banyak. Ganasnya alam, hanya butuh waktu 6 jam, untuk memporak porandakan kampung yang ia pimpin. Meski begitu dia tetap bersyukur, karena seluruh warganya selamat.
Usai viral di media sosial dan banyaknya video beredar, memperlihatkan kondisi rumah warga saat diterjang banjir. Bantuan terus mengalir ke kampung tersebut. Mulai dari sembako, pakaian layak pakai, hingga buku tulis.
Jemi bersyukur kepedulian masyarakat Berau sangat tinggi. Namun banjir tersebut, masih melukis luka. Warga yang rumahnya hanyut, terpaksa tinggal dengan sanak saudara, memanfaatkan gedung serbaguna, bahkan memakai rumah kosong yang tidak berpenghuni.
Dapur umum dibangun secepat mungkin dan seadanya. Bahkan sudah dua pekan, warga tidak merasakan listrik. Warga yang memiliki genset, tidak mungkin bisa bertahan satu malam menyinari warga.
Kebutuhan BBM yang tinggi dan akses yang cukup jauh, menyulitkan warga. Teriakan relokasi rumah menggema, berharap ada solusi nyata.
“Belum ada lagi listrik. Untuk air bersih, kami memang memanfaatkan air sungai itu,” katanya.
Kampung dengan keindahannya tersendiri itu, dihuni 76 kepala keluarga. Dan hanya 70 rumah di lokasi. Warga memang saat ini mulai berbenah, namun rasa trauma masih terpancar jelas di wajah mereka.
Warling, salah seorang warga mengaku hampir 30 tahun ia tinggal di Long Ayap. Permasalahan banjir diakunya memang kerap terjadi, namun kali ini banjirnya paling besar.
Rumah tetangganya di depan rumah, hanyut tersapu banjir. Bersyukur dirinya bersama keluarga, sempat mengungsi di tempat lebih tinggi. Arus deras menyeret apapun yang dilaluinya.
Perpaduan banjir dari Sungai Segah dan Mahakam, menyisakan kenangan pahit bagi warga Long Ayap. “Saya trauma, saya setuju jika ada relokasi,” tuturnya.
Butuh 9 Jam untuk Tiba di Long Ayap.
Rombongan Komisi II DPRD Berau yang diketuai Rudi Pasarian Mangunsong, berkumpul di Jalan Pulau Panjang, Tanjung Redeb, Senin (9/6) sekira pukul 09.00 Wita.
Tiga unit mobil dobel gardan dan satu truk penuh sembako, siap meluncur ke Kampung Long Ayap. Berau Post, berada satu mobil dengan Sutami dan Agus Uriansyah. Menggunakan baju lengan panjang merah maroon, Sutami mulai menggas mobil tersebut.
Tak banyak obrolan yang terjadi selama perjalanan. Agus Uriansyah fokus memetakan skema pembagian sembako. Di mobil lain, ada Sri Kumala Sari, Gideon Andris, dan seorang sopir.
Di mobil lain, ditumpangi Farsa Wisono, Rudi Pasarian Mangunsong, dan Herman selaku juru kemudi. Pukul 12.00 Wita, rombongan tiba di gerbang masuk PT Kuala Lumpur Kepong (KLK). Disambut dua penjaga yang membuka portal.
Memasuki area sawit, rombongan berkomunikasi menggunakan handy talkie, karena keterbatasan jaringan internet.
Dari jalur masuk ke Kampung Long Ayap menurut warga, normalnya hanya ditempuh selama 2 jam. Namun rombongan harus menempuh waktu 5 jam. “Semangat demi kemanusian,” celetuk Agus Uriansyah.
Herman beberapa kali turun dari mobil, untuk memastikan jalur yang benar. Mobil harus lima kali putar balik. Ya risiko bermain di jalur sawit, yang semua simpang empatnya sama.
Bersyukur, rombongan bertemu dengan mobil warga. Hingga diantar ke gerbang masuk Kampung Long Ayap.
Pukul 17.00 Wita, rombongan tiba di Puskesmas Kampung Long Ayap. Tidak butuh waktu lama, langsung meninjau kerusakan yang ditimbulkan akibat banjir.
Farsa Wisono dan Rudi tampak serius mengobrol dengan kepala kampung. Mencatat semua kebutuhan warga, agar tidak satu pun terlewatkan. Kunjungan ini tentunya tidak ingin hanya menjadi acara seremonial, namun ada bukti nyata kinerja dari Komisi II.
Berjalan kaki ratusan meter dari RT 2 menuju ke RT 1, tidak menyurutkan semangat rombongan Komisi II DPRD Berau. Beberapa anak kecil berlari mendekati Sri Kumala Sari. Bercanda dan sejenak melupakan kejadian beberapa hari lalu.
“Masalah rekolasi warga, harus kita ambil solusi secepatnya,” ungkap Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi Pasarian Mangunsong.
Satu jam peninjauan dan mengobrol dengan warga. Bantuan kemanusian diturunkan dari truk yang membawa sembako. Puluhan dus mi instan, susu kaleng, susu bubuk untuk anak dan balita, beras dan telur disalurkan.
Ucapan terima kasih mengalun lembut di udara. Memang membutuhkan waktu berjam-jam untuk tembus ke Kampung Long Ayap. Namun ucapan sederhana dan sambutan hangat dari warga, 'menguar' rasa lelah.
“Kami Komisi II senang bisa membantu warga. Kami harap, rasa takut dan trauma warga bisa hilang,” ucapnya.
Sementara itu, Farsa mengatakan, bantuan ini merupakan urunan dari Komisi II dan uluran tangan dari PT Temas, PT Bara Jaya Utama (BJU) dan PT Jasin.
Bantuan sembako ini murni untuk meringankan beban, dan mendengar langsung keluhan masyarakat. Apa yang paling dibutuhkan dan diinginkan warga saat ini.
“Alhamdulillah, semoga ini bisa meringankan beban warga. Apalagi ekonomi belum pulih,” katanya.
“Kami juga berterima kasih kepada pihak yang terlibat, untuk peduli kepada warga Long Ayap,” ucapnya.
Ekonomi warga semakin sulit akibat banjir. Padahal di bulan-bulan seperti ini, biasa warga berladang, namun terpaksa ditunda akibat banjir dan lahan yang rusak. “Kami akan segera carikan solusi,” tutup Sutami. (sam)
Editor : Nurismi