TANJUNG REDEB - Destinasi wisata Danau Ubur-Ubur Air Tawar di Pulau Kakaban akan segera dibuka kembali secara penuh setelah ditutup sejak Desember 2023.
Sebagaimana diketahui, penutupan sementara itu, dilakukan sebagai upaya pemulihan ekosistem dan perlindungan terhadap populasi ubur-ubur tidak menyengat yang menjadi daya tarik utama di kawasan tersebut.
Kepala Kampung Payung-Payung, Riko, mengatakan, pihaknya bersama kelompok pengelola lokal sudah melakukan sejumlah uji coba terbatas yang berjalan cukup baik.
Dari hasil pemantauan, kondisi danau sudah menunjukkan pemulihan yang signifikan dan dinilai siap kembali menerima kunjungan wisatawan.
“Kami menunggu undangan dari Dispar untuk pembukaan secara penuh. Menurut kami, danau sudah pulih,” ujarnya Kamis (1/5).
Ia menambahkan, pengelolaan selama ini dilakukan oleh kelompok masyarakat yang dibentuk secara swadaya, dan mereka telah membuktikan mampu menjaga kelestarian dan kenyamanan kawasan meski dalam kondisi terbatas.
“Selama masa uji coba, Alhamdulillah berjalan lancar. Kami berharap sistem tiket bisa segera diterapkan, supaya ada pemasukan resmi yang bisa mendukung operasional dan konservasi,” jelas Riko.
Ia menyebut bahwa sebelumnya retribusi sebesar Rp 10 ribu per orang sempat dibahas sebagai bagian dari kontribusi wisatawan kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, regulasinya masih dalam proses pembahasan di tingkat kabupaten.
Selama ini, pengunjung hanya diminta untuk memberikan donasi secara sukarela. Namun jika pengelolaan resmi sudah diberlakukan, sistem tiket dengan tarif standar akan mulai diterapkan.
“Berdasarkan perhitungan awal kami bersama Dinas Pariwisata, estimasi tiket untuk wisatawan domestik sekitar Rp 100 ribu dan untuk wisatawan mancanegara Rp150 ribu per orang,” ungkapnya.
Menurut Riko, perbedaan tarif itu mempertimbangkan kebutuhan fasilitas seperti air tawar di lokasi. Oleh sebab itu, pengelolaan yang profesional sangat dibutuhkan agar pelayanan dan konservasi bisa berjalan seimbang.
“Air tawar sangat dibutuhkan turis, misalnya untuk membilas tubuh. Tapi membawa air dari Maratua ke Kakaban itu butuh biaya logistik yang tidak sedikit,” katanya.
Ia juga berharap agar Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) bisa terlibat langsung dalam skema pengelolaan baru.
“Kalau bisa ini jadi pilot project untuk kampung wisata,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Ilyas Natsir, mengungkapkan bahwa pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan kunjungan langsung ke Pulau Kakaban.
Guna memastikan kesiapan pembukaan dan membicarakan teknis pengelolaannya, termasuk kemungkinan penarikan retribusi yang saat ini sedang digodok di Bapenda.
Ditekankannya, Danau Kakaban dikenal sebagai salah satu destinasi langka di dunia, karena menjadi habitat ubur-ubur air tawar yang tidak menyengat.
Keunikan ini membuatnya sangat diminati wisatawan, namun juga membutuhkan perhatian ekstra agar keberlanjutannya tetap terjaga.
Nantinya juga akan diterapkan standar operasional prosedur (SOP) secara ketat.
“Penekanan utama kami adalah SOP harus benar-benar diterapkan. Jangan sampai terjadi lagi kasus hilangnya ubur-ubur seperti sebelumnya. Itu jadi perhatian serius kami,” tegasnya. (sen/sam)
Editor : Nurismi