Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Cuaca Tak Menentu? Bulog Berau Cari Solusi Teknologi Pasca-Panen untuk Petani!

Beraupost • Jumat, 7 Maret 2025 | 13:05 WIB
SERAP GKP: Perum Bulog Berau mulai membeli GKP yang diawali di wilayah Buyung-Buyung dan Semurut di Kecamatan Tabalar pada akhir Februari. (SENO/BP)
SERAP GKP: Perum Bulog Berau mulai membeli GKP yang diawali di wilayah Buyung-Buyung dan Semurut di Kecamatan Tabalar pada akhir Februari. (SENO/BP)

TANJUNG REDEB – Perum Bulog Berau mulai menyerap Gabah Kering Panen (GKP) dari petani padi di Kabupaten Berau, setelah sempat terkendala kapasitas gudang penyimpanan yang terbatas.

Kepala Perum Bulog Berau, Lucky Ali Akbar, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima GKP dari petani dengan harga yang ditetapkan Pemerintah Pusat yakni Rp 6.500 per kilogram.

“Kami sudah mulai pembelian perdana GKP pada akhir Februari lalu. Pembelian pertama dilakukan di wilayah Buyung-Buyung dan Semurut, Kecamatan Tabalar, dengan total serapan 20 ton GKP,” ujar Lucky Kamis (6/3).

Lucky menjelaskan bahwa setelah GKP dibeli, Bulog tidak langsung menyimpan dalam bentuk gabah, tetapi bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) setempat untuk pengolahan menjadi beras yang siap disimpan.

“Skemanya, kami beli GKP, lalu bekerja sama dengan BUMK di daerah tersebut untuk mengolahnya menjadi beras yang siap disimpan,” tambahnya.

Setelah berhasil melakukan serapan perdana, Bulog Berau kini tengah menjajaki kemungkinan kerja sama pengolahan GKP di daerah lain. Tim dari Bulog saat ini bergerak ke berbagai titik, untuk melihat peluang kerja sama pengolahan gabah.

“Kami sedang melakukan penjajakan di beberapa lokasi lain agar bisa mengoptimalkan pengolahan GKP. Namun, jika ada petani yang ingin langsung menjual beras dengan harga ketetapan pemerintah, itu juga sangat membantu kami,” kata Lucky.

Menurutnya, petani yang ingin menjual beras tidak harus dalam jumlah besar. Bulog tetap menerima meskipun kuantum yang ditawarkan kecil.

“Kalau ada petani yang menjual beras, baik secara perorangan maupun melalui badan hukum, kami terima juga. Tidak harus dalam jumlah banyak,” tegasnya.

Meski serapan GKP sudah berjalan, Lucky menyoroti tantangan utama yang masih dihadapi petani di Berau, yaitu teknologi pasca-panen yang masih terbatas. Cuaca yang tidak menentu membuat petani kesulitan dalam proses penjemuran dan pengolahan GKP.

“Kalau untuk Berau, mungkin harus ada perbaikan teknologi pasca-panen. petani kesulitan kalau cuaca tidak menentu, mereka kesulitan menjemur dan mengolah GKP. Sebaiknya di masing-masing titik ada fasilitas pengolahan yang memadai,” harapnya.

Dengan adanya skema kerja sama pengolahan ini, Bulog Berau berupaya meningkatkan daya serap hasil panen petani, sekaligus memastikan ketersediaan stok beras yang berkualitas untuk masyarakat.

Langkah ini diharapkan bisa memberikan kepastian harga dan pasar bagi petani di Berau. (sen/sam)

Editor : Nurismi
#Perum Bulog Berau #Petani Berau #Ketahanan Pangan Berau