TANJUNG REDEB – Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Nofian Hidayat mengingatkan wisatawan akan bahayanya rip current atau arus balik yang kuat saat bermain di pantai.
Seperti diketahui, terjadi insiden di Pantai Drini, Jogjakarta yang menewaskan 13 pelajar, karena terseret arus laut akibat fenomena rip current.
Disampaikan Nofian, fenomena rip current juga ditemukan di pantai-pantai di Berau. Arus ini sebagai “jalur sungai” yang tak kasat mata, namun berpotensi membahayakan pengunjung.
“Saya beberapa kali melihatnya di sejumlah pantai wisata di Berau. Meskipun karakteristik rip current bisa berbeda-beda, kehadirannya perlu mendapat perhatian khusus,” ujarnya pada Jumat (31/1).
Menurut Nofian, lebar arus balik ini bervariasi, mulai dari 4 meter hingga 8 meter, dengan panjang sekitar 20 hingga 25 meter yang menjorok ke laut.
Kondisi ini bisa sangat berbahaya bagi orang awam, terutama karena dorongan arus yang kuat sering kali memicu kepanikan.
“Jika seseorang berada di tengah rip current dan berusaha langsung berenang menuju pantai, itu akan sangat sulit karena arusnya yang kuat,” jelasnya.
Sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke pantai di Berau, Nofian menekankan pentingnya tetap tenang saat menghadapi situasi ini.
“Ketika terjebak rip current, jangan panik. Jika kita langsung berenang ke tepi, itu justru akan membuat kita kelelahan dan sulit keluar dari arus,” katanya.
Ia menyarankan agar wisatawan mengikuti aliran arus terlebih dahulu, lalu berenang ke samping—baik ke arah kiri atau kanan—untuk menjauhi jalur rip current.
Setelah keluar dari arus, ombak akan membantu membawa kita kembali ke tepi pantai.
“Jadi, kuncinya adalah tetap tenang, jangan melawan arus secara langsung, dan arahkan tubuh ke samping hingga keluar dari jalur rip current,” ungkapnya.
Selain edukasi kepada masyarakat, Nofian juga menekankan pentingnya peran pengelola wisata dalam meningkatkan keselamatan pengunjung.
Ia mendorong pihak penginapan atau resort yang memiliki pantai terbuka untuk menugaskan penjaga pantai sebagai langkah antisipasi.
“Jika ada penjaga pantai yang bertugas, mereka bisa lebih mudah mengawasi wisatawan, terutama dengan menggunakan kursi tinggi untuk memantau tanda-tanda rip current,” tegasnya.
Kesadaran akan bahaya rip current serta langkah-langkah penyelamatan yang tepat sangat penting bagi wisatawan yang gemar berlibur ke pantai.
Dengan edukasi yang baik dan pengawasan ketat, diharapkan kejadian tragis seperti di Pantai Drini dapat dihindari.
“Kita harap, ke depan langkah-langkah ini mampu menjaga wisatawan dan minat mereka ketika berkunjung ke Berau,” pungkasnya. (sen/arp)
Editor : Nurismi