TANJUNG REDEB - Kabupaten Berau menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan konsumsi buah masyarakat.
Berdasarkan data yang disampaikan Kepala Dinas Pangan Berau, Rakhmadi Pasarakan, konsumsi buah masyarakat di Berau hanya mencapai 95 gram per orang per tahun.
Angka ini jauh di bawah rata-rata nasional, yaitu 135 gram per orang per tahun, bahkan jauh lebih rendah dibandingkan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 400 gram per orang per tahun.
“Jadi kita memang masuk dalam kategori kurang dalam mengonsumsi buah-buahan,” jelasnya Kamis (23/1).
Rendahnya konsumsi buah ini menunjukkan perlunya langkah konkret untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya asupan buah-buahan bagi kesehatan.
Dalam upaya ini, salah satu inisiatif yang patut diapresiasi datang dari SMA Negeri 4 Berau.
Sekolah tersebut menjalankan program Green House, yang ditanami buah melon. Program ini tidak hanya menjadi sarana belajar bagi siswa, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya mengonsumsi buah.
“Untuk skala pelajar, ini terhitung berhasil. Yang terpenting adalah edukasi dan menambah wawasan bagi pelajar, terutama pentingnya konsumsi buah,” jelasnya.
Rakhmadi menyebut bahwa upaya seperti ini merupakan langkah strategis untuk mengk
ampanyekan gaya hidup sehat.
Selain mempromosikan konsumsi buah segar, program ini juga memperkenalkan olahan berbahan dasar buah sebagai bentuk inovasi baru yang menarik minat masyarakat, terutama generasi muda.
“Olahan-olahan pangan yang dibuat dengan bahan dasar buah tadi cukup menarik, misalnya puding, selai, hingga es krim. Tentu hal tersebut bisa menjadi daya tarik juga mengajarkan gemar makan buah kepada anak misalnya,” paparnya.
Dia berharap keberhasilan program Green House SMA Negeri 4 Berau dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain di Berau.
Dengan keterlibatan aktif dunia pendidikan, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif tentang manfaat buah-buahan untuk kesehatan, sekaligus memacu kreativitas dalam pengolahan produk berbahan dasar buah.
Lebih lanjut, dia optimistis bahwa inisiatif ini mampu menjadi langkah awal untuk meningkatkan angka konsumsi buah di Berau.
Masyarakat diharapkan semakin gemar mengonsumsi buah-buahan, tidak hanya demi memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga untuk mendukung pola hidup sehat yang berkelanjutan.
“Kita harap ini juga jadi dorongan, misalnya diterapkan di sekolah lain, sehingga edukasi itu tumbuh di kalangan pelajar dan masyarakat,” tuturnya.
Langkah-langkah edukasi seperti ini menjadi sangat penting untuk menjembatani kesenjangan konsumsi buah di tingkat lokal dan nasional.
Dengan keterlibatan berbagai pihak, Berau dapat meningkatkan pola konsumsi buah masyarakatnya dan menuju standar yang disarankan WHO. (sen/sam)
Editor : Nurismi