TANJUNG REDEB – Pulau Kakaban, surga wisata bawah laut di Berau, segera memiliki wajah baru. Pemerintah Kabupaten Berau telah menyiapkan anggaran Rp 1,8 miliar untuk pembangunan dermaga baru yang lebih panjang dan nyaman. Selain itu, fasilitas pendukung seperti toilet dan jalur tracking juga akan ditingkatkan. Dengan perbaikan infrastruktur ini, diharapkan kunjungan wisatawan ke Pulau Kakaban semakin meningkat.
Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Destinasi Wisata, Disbudpar Berau, Samsiah melalui Staf Teknis/Pengawas Kepariwisataan, Andi Nursyamsi menyampaikan nantinya dermaga yang akan dibangun sepanjang 60 meter dari bibit pantai, agar speedboat masih bisa tambat saat air surut. Rencana pembangunan ini sempat tertunda karena harus ‘direstui’ pemerintah pusat.
"Karena syaratnya lumayan berat, seperti tidak boleh mengganggu terumbu karang dan sebagainya. Makanya kami tetap berhati-hati dalam memenuhi semua syarat kebijakan itu," jelasnya.
Nantinya, fasilitas toilet akan diperbagus lagi. Selain itu, jalur tracking akan dibuat lebih landai dan lebih panjangmemudahkan pengunjung yang datang. Nantinya pengunjung tidak akan berkumpul di danau semua, agar beberapa bisa menikmati jalur tracking yang panjangnya sekitar ratusan meter tersebut.
"Tahun depan kami juga sudah mengusulkan tambahan anggaran pengembangan Pulau Kakaban. Semoga mendapat anggaran agar pengembangan bisa selesai segera," harapnya.
Tahun depan Disbudpar Berau mengusulkan sekitar Rp 2 miliar. Termasuk lanjutan pembangunan dermaga apung yang ada di dalam Danau Kakaban.
Hal ini dilakukan, sebab Pulau Kakaban menjadi salah satu pariwisata unggulan di Kabupaten Berau, tentunya memerlukan perhatian lebih. Sehingga dapat menjadi pemasukan asli daerah. Apalagi retribusi wisata Pulau Kakaban sudah masuk dalam peraturan daerah (Perda) Berau Nomor 7 Tahun 2023 tentang Pajak dan Retribusi Daerah.
"Makanya kami terus mendorong pengembangan destinasi di sana, karena dari awal Pulau Kakaban sudah masuk dalam Perda tersebut," ujarnya.
Pihaknya pun mengusulkan agar tarif retribusi wisata Pulau Kakaban dapat dinaikkan lagi. Menurutnya, lebih baik mahal tapi pengunjung sedikit, daripada murah tapi lebih banyak pengunjung. Di sisi lain uang yang masuk tetap sama, tapi risikonya lebih sedikit jika pengunjung tidak banyak.
"Untuk pengelolaan kami tetap mengandalkan pemerintah kampung melalui badan usaha milik kampung (BUMK) dengan unit usaha kelompok sadar wisata (Pokdarwis)," ucapnya.(*/aja/arp)
Editor : Nurismi