Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Gelar Arsip Fase Rawat PKN 2024, Representasi Pemajuan Kebudayaan di Masyarakat

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Sabtu, 30 November 2024 | 14:00 WIB
PAMERAN: Rangkaian fase rawat dalam rangka PKN 2024 regional Kalimantan yang diadakan di SKB Tanjung Redeb selama tiga hari hingga besok.
PAMERAN: Rangkaian fase rawat dalam rangka PKN 2024 regional Kalimantan yang diadakan di SKB Tanjung Redeb selama tiga hari hingga besok.

Sebuah pameran biasanya dipenuhi dengan lembaran-lembaran karya yang terpajang dan tersusun rapi. Tapi pameran yang digagas oleh Komunitas Tepian Kolektif yang digelar di SKB Tanjung Redeb memberikan ruang para seniman yang merayakan kreativitas tanpa batas. Berangkat dari mengumpulkan pengetahuan di sekitar sungai, yang kemudian diartikulasikan dalam berbagai bentuk gelar arsip.


AMNIL IZZA, Tanjung Redeb

 

SAAT memasuki ruang pamer, pengunjung akan disambut dengan karya-karya menawan yang mencerminkan perspektif dari tujuh seniman residensi Kaltim dan Kaltara. Setiap yang dipamerkan memiliki karakteristik artistik khas, dan yang menyamakan mereka adalah sungai.

Salah seorang anggota Tepian Kolektif, Primadana Affandi menceritakan, gelar arsip tersebut menjadi bagian dari fase rawat Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) tahun 2024 regional Kalimantan yang mengambil tema "Kanal".

Dalam konteks ini, istilah kanal pengetahuan digunakan untuk mencerminkan saluran yang menyediakan informasi dan pengetahuan.

"PKN kali ini mengambil konsep lumbung yang secara ilmiah tahapannya dimulai dari fase rawat, panen, dan kemudian bagi. Masing-masing menggambar fase kegiatan dalam PKN," tuturnya.

Komunitas yang berfokus pada pengarsipan di Berau ini kemudian menawarkan konsep silangan arus dalam fase rawat tersebut. Adalah upaya untuk mencari, merumuskan, dan menawarkan model reproduksi pengetahuan dengan pendekatan interdisipliner berbasis dokumentasi dan pengarsipan melalui dua arus program yang saling bersilangan yakni menakar menelusuri.

Bersama tujuh seniman residensi Kaltim dan Kaltara yang mengunjungi sungai di wilayah mereka masing-masing. Serta simpul kanal yang berkolaborasi dengan hub Muarasuara Samarinda dan Balaan Tumaan Pontianak. Mereka saling menguji coba metode artistik masing-masing kolektif.

Upaya ini menjadi bagian dari praktik merawat pengalaman yang menumbuh di wilayah Kaltim, Kaltara, dan Kalbar. Pun melihat bagaimana model reproduksi dapat dilihat dan ditangkap sebagai hasil refleksi bersama.

Mereka yang diundang untuk melakukan residensi dan riset artistik di sungainya masing-masing mempunyai latar belakang yang beragam seperti guru sekolah, pekerja community livelyhood specialist, pemural, komunitas yang konsentrasi kerjanya pada sejarah dan budaya Kaltara, koreografer dan makeup artist (MUA), hingga qoriah.

"Mereka telah melakukan riset selama satu bulan dan mengikuti lokakarya daring bersama Tepian Kolektif sebagai pemantik gagasan riset dan presentasi publik," terangnya.

Diceritakannya, salah satu karya menampilkan cara membaca arus sungai lewat bulan. Di mana ternyata kita bisa memancing dengan cara melihat bulan. Karya lainnya menampilkan kayu yang diambil di sungai yang ternyata masih kerap dimanfaatkan oleh warga sekitar. Seperti menjadi pijakan kaki menuju daratan, atau menjadi tempat bersandarnya perahu.

"Ada juga makhluk hidup disebut tembiluk yang bisa dimakan, dan hidup di dalam batang pohon yang hanyut di Sungai Seputuk Tana Tidung Kaltara. Karya lainnya mengangkat kehidupan di sekitar Sungai Inaran Kecamatan Kelay," urainya.

Awalnya kata Primadana, komunitas yang berpusat pada kerja pengarsipan di Berau ini ditunjuk Dirjen Kebudayaan untuk menjadi bagian dari Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) tahun 2024. Setelah berdiskusi dengan tiga hub yang ada di Kalimantan tadi, ide atau gagasan yang kontekstual dengan masyarakat di Kalimantan adalah sungai.

Kondisi geografis Pulau Kalimantan yang memiliki ratusan sungai besar dan kecil membuat gagasan itu tercetus, lantaran sangat kontekstual dengan masyarakat. Saat ada di fase rawat ini, fokus mereka untuk menemukan potensi, ide, dan gagasan yang bisa berkembang dikemudian hari.

"Para seniman diajak melihat sesuatu (sungai), kemudian apa yang mereka temukan akan dibahas. Hasil yang dibicarakan itu dituangkan dalam sebuah karya pameran atau gelar arsip kali ini," jelasnya.

Sasarannya, antarseniman di Kalimantan akan saling terhubung. Dan diharapannya bisa memancing ide dan gagasan yang lebih besar lagi.

Di sisi lain, PKN 2024 ini dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia dengan menggandeng 16 hub atau komunitas. Tentunya dengan tema yang berbeda-beda sesuai potensi wilayahnya masing-masing.

"PKN tahun ini tidak lagi berpusat di Jakarta, tapi mereka yang datang ke daerah untuk melihat potensi yang ada di sekitar kita. Sehingga betul-betul merepresentasikan sebagai pemajuan kebudayaan yang terjadi di masyarakat," sambungnya.

Tidak hanya sekadar pameran, gelar arsip ini juga sebagai bentuk nyata pengetahuan lokal dan kearifan lokal yang ada di Kalimantan. Digelar selama tiga hari sejak 28-30 November, gelar arsip berlokasi di Sanggar Kebudayaan Belajar (SKB) Tanjung Redeb.

Salah seorang seniman yang berpartisipasi dalam pameran, Eka Wahyuni melakukan residensi di Samarinda, tepatnya di Gang Nibung. Dirinya mengangkat konsep spotless future. Dia melihat langsung bagaimana ruang hunian dan kerentanan warga yang tinggal di bantaran Sungai Karang Mumus.

Terdapat enam sketsa yang menyuarakan isi hati masyarakat yang tidak ingin rumahnya digusur oleh pemerintah, lantaran akan dibangun siring atau tepian di sana.

"Dari sana kita ingin mengumpulkan dan menyebarkan pengetahuan yang ada di lokasi residensi agar bisa diketahui oleh orang banyak," katanya.

Dirinya yang juga menjadi anggota Tepian Kolektif mengakui bahwa warga Kalimantan yang sangat dekat dengan sungai, belum banyak memiliki pengetahuan tentang sungai itu sendiri. Pun masing jarang dibicarakan.

"Makanya kami juga mengadakan silangan arus untuk mendekatkan diri kita dengan pengetahuan tentang sungai. Kita mengundang seniman dari Berau dan Kaltara untuk membicarakan sungai yang dekat rumah mereka," ucapnya.

Selain gelar arsip, linimasa silangan arus PKN 2024 juga dirangkaikan dengan susur Sungai Kelay, diskusi tempatan, berbagai workshop dan tur pelajar, hingga lecture performance silangan arus Berau dan Kaltara. (sam)

 
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#berau #pkn #feature #budaya #seni #pameran