Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Panas Ekstrem, Paling Rawan Karhutla

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Rabu, 18 September 2024 | 14:01 WIB
ANCAMAN TERBESAR: BPBD tengah berupaya memadamkan karhutla yang terjadi di Kecamatan Sambaliung, kemarin (17/9).
ANCAMAN TERBESAR: BPBD tengah berupaya memadamkan karhutla yang terjadi di Kecamatan Sambaliung, kemarin (17/9).

TANJUNG REDEB – Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Berau sebut Berau sudah memasuki musim kemarau. Suhu panas yang saat ini terjadi disebabkan adanya pemanasan permukaan akibat pembentukan awan dan curah hujan yang minim sejak beberapa pekan terakhir.

Dijelaskan Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, suhu panas yang saat ini sedang terjadi ditimbulkan akibat musim kemarau sejak awal Juli lalu. Hal itu ditandai langsung dengan volume atau curah hujan yang kurang dari 50 mm secara berturut-turut.

“Berdasarkan update Dinamika Atmosfer di Agustus, puncak musim kemarau di wilayah Kabupaten Berau diprakirakan akan terjadi pada September 2024 ini,” tegasnya.

Tak hanya itu saja, menurut data yang dimiliki bahwa angin kencang pun saat ini sedang melanda di beberapa wilayah hingga pesisir laut Kabupaten Berau. Dimana kecepatan angin berkisar 6 sampai 12 knot setiap waktunya.

Kondisi itu bebernya membahayakan para pelancong yang bepergian lewat jalur laut, termasuk nelayan dan pekerja di laut lainnya. “Mohon waspada terhadap kecepatan angin yang relatif tinggi,” imbaunya.

Dengan adanya suhu panas yang disertai dengan angin kencang tersebut juga bebernya, membuat ancaman terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) semakin besar, yang terjadi hampir di seluruh kecamatan di Berau.

Sementara disampaikan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Nofian Hidayat, sejak dua pekan terahir ini sudah memasuki musim panas ekstrem. Bahkan Berau masuk dalam salah satu wilayah dengan panas tertinggi di Indonesia.

“Sehingga masyarakat harus paham jangan sampai membakar lahan dengan sengaja, karena itu bisa berimbas kepada Karhutla, yang lebih bahaya lagi karena cuaca yang panas kali ini disertai dengan angin kencang,” ucapnya.

Dalam menghadapi ancaman di musim kemarau khususnya karhutla, Nofian berharap kepada seluruh perusahaan yang ada di Kabupaten Berau untuk bisa ikut andil. Ditekankannya, hal itu adalah salah satu bentuk bantuan sosial dan kepedulian perusahan kepada masyarakat. “Kami berharap kepada seluruh pelaku usaha untuk bisa menjaga wilayahnya dari ancaman Karhutla dan ancaman musibah lainnya,” kata dia.

Karena tidak bisa dimungkiri, dengan maraknya terjadi Karhutla di wilayah Kabupaten Berau akan berdampak luas salah satunya yakni terkait dengan perekonomian yang akan lumpuh.

Bahkan aktivitas bandara pun akan terganggu jika asap karhutla semakin banyak. “Jadi jangan sepelekan karhutla ini, dampaknya akan banyak,” tandasnya. (aky/sam)

 
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#berau #iklim #kemarau #karhutla #cuaca