Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Simbol Kerja Sama Membangun Daerah: Baturunan Parau, Perayaan Adat yang Selalu Ditampilkan dalam Rangkaian Hari Jadi Berau dan Tanjung Redeb

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Selasa, 17 September 2024 | 12:30 WIB
PERTAHANKAN TRADISI: Sesaat sebelum prosesi mengangkat Perahu Panjang dalam acara Baturunan Parau, sesepuh adat membacakan doa dan melempari perahu dengan beras kuning.
PERTAHANKAN TRADISI: Sesaat sebelum prosesi mengangkat Perahu Panjang dalam acara Baturunan Parau, sesepuh adat membacakan doa dan melempari perahu dengan beras kuning.

GUNUNG TABUR - Tak hanya menyuguhkan kegiatan yang modern, dalam setiap perayaan Hari Jadi atau Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 Kabupaten Berau dan ke-214 Kota Tanjung Redeb selalu diiringi dengan rangkaian kegiatan adat dan budaya yang kental.

Jika Sabtu (14/9) lalu Kesultanan Sambaliung melaksanakan Manguati Banua, Senin (16/9) Keraton Gunung Tabur melaksanakan Baturunan Parau yang dalam bahasa Indonesia artinya menurunkan perahu.

Photo
Photo

Koordinator Museum Batiwakkal Gunung Tabur, Aji Suhaidi, menyebut, Baturunan Parau memang dilaksanakan pada momen-momen tertentu dimasa Kesultanan Gunung Tabur.

Perahu yang terbuat dari kayu, dengan ornamen khas kepala naga di bagian depan itu pada masa kesultanan dahulu digunakan sebagai kendaraan kesultanan untuk mengunjungi hamba rakyatnya.

Photo
Photo

Tak hanya digunakan sang sultan untuk bertemu hamba rakyat, perahu itu juga digunakan untuk mengumpulkan upeti yang diberikan untuk kesultanan.

“Sejarah perahu panjang ini memang sebagai transportasi para bangsawan atau raja, dalam melakukan kunjungan ke banua agar cepat sampai,” ujarnya.

Photo
Photo

Baturunan Parau ini melibatkan banyak orang dalam pelaksanaannya, yang menggambarkan betapa pentingnya kerja sama dan gotong-royong dalam melakukan sesuatu, agar bisa lebih mudah dalam mencapai suatu tujuan. “Semoga dengan pelaksanaan ini, kita bisa mengambil hikmahnya,” tuturnya.

Dalam pelaksanaan juga terlihat seorang sesepuh adat akan meminta izin kepada tetua Kesultanan Gunung Tabur. Dalam percakapannya selain meminta izin, sang sesepuh turut menyampaikan adat istiadat yang dilaksanakan bukan berarti berpaling dari Allah SWT.

Seusai diberi izin, sang sesepuh adat melakukan ritual, di antaranya memasang daun linjuang dengan cara diikat menggunakan kain kuning, kemudian dipaku pada dua sisi untuk menguatkan pemasangannya. Setelahnya, sesepuh memulai membaca doa, memukul perahu dengan ikatan daun-daun yang sebelumnya sudah dicelup dalam air yang harum.

Sesepuh kemudian melempari perahu dengan beras kuning yang didalamnya terdapat telur dan lilit. Ritual itu kembali diulangi untuk dilakukan pada bagian belakang perahu.

Kemudian, perahu panjang mulai digiring dari halaman Museum Batiwakkal Gunung Tabur menuju tepi sungai. Meski cukup sulit, akhirnya perahu bisa masuk ke perairan Sungai Berau.

Usai pelaksanaan Baturunan Parau, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau, Muhammad Said, menyampaikan rasa syukurnya karena Baturunan Parau berhasil terlaksana. Dirinya yang juga masyarakat Gunung Tabur meyakini, Baturunan Parau ini melambangkan kerja sama dan gotong-royong yang kuat.

“Diambil hikmahnya, bahwa kebersamaan serta gotong-royong ini lah yang merupakan modal utama dalam membangun Berau agar lebih sejahtera,” terangnya.

Pelaksanaan Baturunan Parau ini juga kata Said, merupakan upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk terus melestarikan warisan budaya leluhur, sehingga kearifan budaya yang dimiliki tetap lestari dan bisa dinikmati hingga anak cucu nantinya.

“Kita tentu berharap, sebagai masyarakat Banua tradisi ini bisa terus lestari hingga generasi berikutnya,” pungkasnya. (sen/sam)

 
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#hut #berau #budaya #kesultanan